LANGKAT, FORESTEARTH.id – Tak lebih dari Rp 12.000 yang bisa dibawa pulang Idris (55) ke rumah setelah menjual udang kecepe (rebon). Sejak tak lagi melaut dia hanya bisa mengambil udang kecepe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai. Tangkapan yang semakin menurun membuatnya gelisah terhadap masa depan anaknya. Dia tak menginginkan anaknya menjadi nelayan seperti dirinya.
Sejak umur 13 tahun Idris sudah melaut. Pada saat itu, dia menggunakan dayung untuk mencapai jarak sekitar 100 meter dari bibir pantai. Dengan jarak itu, masih bisa ditangkapnya ikan gembung besar di pinggiran. Sekarang, pemandangan itu tidak lagi dijumpainya. Ikan-ikan semakin ke tengah. Ikan terubuk, kurau baru-baru, puput, tudung periuk, selampai, tak lagi dijumpainya. Ikan-ikan tersebut, bergeser ke tempat yang sunyi.
Pada kurun tahun 1980 – 2000, hidup dari menjadi nelayan masih mencukupi karena hasil tangkapan masih sangat banyak. Lingkungan masih bagus. Jumlah penduduknya pun juga masih sedikit. Desa Kuala Besar yang berjarak sekitar sejam menyeberang menggunakan perahu dari Jaring Halus, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
“Dulu, orang laut itu ya orang Secanggang, dan Jaring Halus saja yang cari ikan. Jadi, melaut ini ya untung,” katanya beberapa waktu lalu.
Situasi tersebut berubah drastis ketika jumlah penduduk semakin bertambah, nelayan yang mencari ikan juga terus bertambah, keadaan lingkungan air sudah semakin keruh dan tawar, berimbas pada pasokan jumlah ikan tangkapan nelayan. Potret suram nelayan di Jaring Halus juga semakin kentara ketika jumlah keramba ikan kerapu, ikan nila, kakap putih, dan lain sebagainya dari sebanyak 3.000-an keramba, kini tersisa seratusan keramba saja.
“Dari situ lah kami melihat, bahwa kami tidak mau anak-anak kami hidup susah seperti kami, kami mau mereka sekolah ke luar, tinggi-tinggi, kerja di luar, jangan jadi nelayan. Kalau jadi nelayan, ya gini-gini terus, dari dulu sampai sekarang, bahkan sekarang lebih parah,” katanya.
Dia memberi contoh bagaimana di tahun 1990-an masyarakat Jaring Halus berhasil dalam sektor perikanan. Pemasaran ikan kerapu di tahun baru Imlek, paling murah Rp 65.000 – Rp 70.0000/kg. Ikan tersebut diekspor ke Singapura dan Thailand. “Dulu di sini, orang punya keramba ikan, 70 persen punya kerapu. Tapi sekarang, tinggal beberapa saja yang masih aktif,” jelasnya.
Hancurnya perikanan kerapu di Jaring Halus itu sendiri karena semakin banyaknya limbah dari Sungai Wampu, yang sudah dikerok untuk menghindari banjir di Stabat, ibukota Kabupaten Langkat. Banyaknya lumpur yang mengendap di pasir lambat laun membuat kadar asin berkurang. “Semakin tawar, banyak ikan mati,” katanya.
Ditambah lagi, katanya, sekitar tahun 2000-an, terjadi pelebaran Sungai Getek dekat muara. Dari sebelumnya hanya selebar 2 meter, sekarang 50 meter. Hal tersebut membuat debit air tawar yang masuk ke laut semakin banyak. “Stabat makin jarang banjir, tapi kami di sini yang harus menanggung dampaknya,” katanya.
Dulu, kata dia, kalau ada tamu datang berkunjung maka untuk memberi oleh-oleh maka akan serta merta tinggal ambil ikan dari keramba atau dari laut. “Tapi itu dulu, sekarang ini sudah sedih kali lah, apa yang mau diambil,” katanya sambil mengipasi pecinya.
Sebenarnya, kata dia, masyarakat sudah sering mengadu ke pemerintah perihal semakin tawarnya air laut yang berimbas semakin hilangnya mata pencaharian nelayan. Namun hingga kini masih belum ada solusi yang tepat yang bisa memberikan harapan baru bagi nelayan.
“Tinggalkan kampung ini, kenali luar sana, biar berkembang lalu kembangkan di sini. Belajar, stir mobil. Misalnya lah jadi supir, sebulan sejuta, terima gaji. Itu bisa tersimpan. Laut gak bisa gitu. Di sini, anak-anak tamat SMP, dari Desa Tapak Kuda, Kuala Langkat jadi TKI di Malaysia. Mereka yang kerja bagus, dapat Rp 500.000/bulan kirim ke kampung. Sudah ada lah 30-an orang,” katanya.
Rustam, seorang tokoh masyarakat di Desa Jaring Halus, mengatakan, sebenarnya sejak tahun 1990an, Desa Jaring Halus sudah dikenal sebagai penghasil ikan kerapu kelas ekspor. Pemasarannya tidak hanya di negara-negara Asia Tenggara, melainkan sampai ke Hongkong, China. Perikanan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Desa Jaring Halus.
Selain kerapu, desa ini juga menjadi sentra produksi produksi perikanan tangkap dan budidaya, seperti udang, nila laut, kepiting, dan lain sebagainya. “Mata pencaharian masyarakat desa ini dari laut, karena itu, kelestarian ekosistem laut mejadi urat nadi masyarakat di sini. Tapi itu dulu,” ujarnya.