Prediksi Ilmuwan : Tahun 2024 Mungkin Lebih Panas dan Ekstrim

MEDAN, ForestEarth.id – Tahun 2023 telah menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat secara global, dengan suhu harian tertinggi dan anomali suhu permukaan laut terbesar yang pernah ada. Namun, ilmuwan memperingatkan bahwa tahun 2024 mungkin akan lebih panas dan ekstrem lagi akibat dampak fenomena El Nino yang sedang berlangsung.

Hal tersebut diungkapkan Sekjend World Meteorological Organization (WMO), Celeste Saulo mengatakannya pada awal Januari lalu. Pihaknya memprediksi tahun 2024 akan mengalami peningkatan suhu global yang serius dan dapat memicu peristiwa cuaca ekstrim seperti gelombang panas, badai, banjir, dan kekeringan.

Perubahan iklim disebut sebagai ancaman global terbesar saat ini, dan meningkatnya kesenjangan akan memperburuk dampaknya. El Nino adalah fenomena yang terjadi ketika suhu permukaan air di Samudra Pasifik bagian timur meningkat secara signifikan, yang mempengaruhi pola angin dan curah hujan di seluruh dunia.

El Nino biasanya berlangsung selama beberapa bulan, tetapi dampaknya pada suhu global bisa terasa hingga setahun kemudian. Menurut WMO, indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) diprakirakan akan berada pada kisaran anomali +0,94 sampai +0,06 sepanjang tahun 2024. Artinya, fase El Nino Lemah hingga Netral.

Indeks ENSO adalah ukuran perbedaan tekanan udara antara timur dan barat Samudra Pasifik, yang berkorelasi dengan suhu permukaan air. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) diprakirakan akan berada pada fase Netral pada Januari hingga Desember 2024, dengan indeks berkisar -0,21 hingga 0,293.

IOD adalah fenomena yang terjadi ketika suhu permukaan air di Samudra Hindia bagian barat dan timur berbeda, yang juga mempengaruhi pola curah hujan di Asia dan Australia. Dengan kondisi ENSO dan IOD tersebut, WMO memprediksi curah hujan tahunan 2024 di Indonesia akan berkisar lebih dari 2500 mm/tahun, yang umumnya sama dengan normalnya.

Ada beberapa daerah yang diprediksi akan mengalami hujan tahunan di atas normal, seperti sebagian kecil Aceh, Sumatera Barat bagian selatan, sebagian kecil Riau, sebagian kecil Kalimantan Selatan, sebagian kecil Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat bagian utara, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian kecil Papua Barat dan Papua bagian utara.

Sebaliknya, ada juga daerah yang diprediksi akan mengalami hujan tahunan di bawah normal, seperti sebagian kecil Banten, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian kecil Jawa Tengah, sebagian Yogyakarta, sebagian kecil Jawa Timur, dan sebagian kecil Nusa Tenggara Timur. Untuk sebaran hujan bulanan, sifatnya bervariasi mulai dari atas normal, hingga bawah normal.

Meskipun hanya sebagian kecil wilayah Indonesia yang mengalami hujan tahunan di bawah normal, namun tetap harus diwaspadai wilayah yang akan mengalami kondisi hari tanpa hujan yang berkepanjangan, terutama di Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Di samping kekeringan yang dapat terjadi pada wilayah tersebut, perlu juga diwaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di Sumatera dan Kalimantan yang berpotensi lebih besar dibandingkan dengan periode 2020 – 2022 yang kemaraunya bersifat atas normal (lebih basah).

Selain itu, suhu permukaan pada tahun 2024 diprediksi lebih hangat dibanding normalnya, namun cukup terkendali. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya gelombang panas yang dapat berdampak pada kesehatan manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama mewanti-wanti bahwa perubahan iklim mengancam kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, meningkatkan risiko kematian, penyakit tidak menular, munculnya dan penyebaran penyakit menular, keadaan darurat kesehatan, zoonosis, penyakit makanan, air, penyakit bawaan, dan masalah kesehatan mental.

Sumber : Int

Leave A Comment