SERDANG BEDAGAI, ForestEarth.id – Cuaca ekstrim, banjir dan kekeringan masih menjadi tantangan bagi ketahanan pangan di Indonesia. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi perubahan iklim dengan optimasi lahan, intensifikasi, ekstensifikasi dan kolaborasi lintas instansi.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat menemui petani di Desa Tebing Tinggi dan Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai pada Rabu (11/12/2024) mengatakan, upaya itu yakni intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian hingga kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Intensifikasi dilakukan dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada (eksisting). Salah satu metode yang digunakan adalah pompanisasi, seperti yang dilakukan di Pulau Jawa. “Itu adalah solusi cepat untuk meningkatkan produksi. Intensifikasi kemarin kita melakukan pompanisasi itu menghasilkan kenaikan produksi 1 juta ton lebih, nilainya 13 triliun. Hanya refokusing anggaran,” katanya.
Program refocusing itu mengalihkan pos-pos biaya yang kurang produktif, seperti rehabilitasi kantor dan perjalanan dinas, untuk pembelian benih, alat, dan mesin pertanian. Selain itu, pemerintah juga melakukan ekstensifikasi dengan optimalisasi lahan (oplah) dan cetak sawah difokuskan di wilayah Sumatera Utara.
“Ini targetnya adalah kenaikan produksi (hingga) 400 ribu ton. Kalau harga beras kali 10 juta (per ton) saja berarti kenaikannya 4 triliun,” katanya.
Kemudian tambahan kontribusi dari program lain, sehingga total kenaikan produksi di wilayah ini diperkirakan mencapai 700 ribu ton. Nilai ekonominya sekitar Rp7-8 triliun, yang langsung berdampak pada peningkatan pendapatan petani.
Dijelaskannya, ekstensifikasi ini juga dirancang untuk mendukung swasembada beras di Sumatera Utara di tahun 2025. Selama ini, provinsi ini sudah bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan bahkan surplus sehingga memungkinkan untuk ekspor.
“Sumatera Utara sudah swasembada. Bahkan surplus. Tapi kalau bisa berlebih dikirim ke daerah lain atau mudah-mudahan bisa ekspor nantinya. Tapi yang terpenting adalah terjadi peningkatan pendapatan petani,” katanya.
Amran menambahkan, dalam upaya mencapai target dibutuhkan kolaborasi lintas kementerian an Lembaga. Dia mengapresiasi kontribusi Kementerian PUPR dan Badan Wilayah Sungai (BWS) mulai dari perbaikan infrastruktur irigasi, seperti pintu air dan jaringan irigasi tersier, yang memungkinkan indeks pertanaman (IP) naik dari satu kali menjadi tiga kali setahun.
“Kolaborasinya luar biasa karena prinsip tanam adalah ada air, ada kehidupan. Di sini itu tanam satu kali. Kenapa? Kadang banjir, kadang kekeringan. Nah, nanti setelah perbaikan pintu-pintu air, perbaikan irigasi tersier, itu insya Allah akan menaikkan IP tiga kali. Artinya apa? Kesejahteraan petani kita naik tiga kali lipat,” katanya.
Pelibatan Anak Muda dalam Brigade Pangan
Amran mengatakan, pemerintah memiliki program unggulan yakni Brigade Pangan yang melibatkan anak muda dalam pengelolaan alat dan teknologi pertanian. Program ini untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Melalui Brigade Pangan, anak muda dapat menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Testimoni di Aceh, seorang anggota brigade melaporkan penghasilan bersih Rp20 juta per bulan. Bahkan, untuk pendapatan terendah, masih mencapai Rp10 juta per bulan,” katanya.
Untuk mendukung program ini, pemerintah menyediakan alat pertanian senilai Rp3 miliar per paket, yang dapat digunakan oleh 15 orang untuk mengelola minimal 200 hektare lahan. Pada tahap pertama, program ini akan melibatkan 1.700 alat dengan total 25.000 personel di seluruh Indonesia.
Mitigasi Dampak Cuaca Ekstrem dan Bencana Alam
Amran meyakinkan bahwa meskipun terjadi bencana hidrometeorologi, seperti banjir kecil akibat La Nina, hanya berpotensi mengganggu produksi pertanian karena pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran menyerahkan bantuan program Kementan untuk provinsi Sumatera Utara berupa traktor roda 4, traktor roda 2, pompa air, handsprayer, combine harvester besar, benih padi inbrida, benih jagung hibrida, pestisida, pupuk, optimasi lahan, irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan.
“Saya percaya, dengan semangat dan dukungan yang kuat dari semua pihak, kita bisa menciptakan perubahan besar di sektor pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan tentu saja memastikan ketersediaan pangan yang cukup untuk masyarakat Indonesia,” katanya.
Sebagai bagian dari agenda optimasi lahan, Kementerian Pertanian juga berencana untuk mengimplementasikan berbagai teknologi pertanian yang dapat membantu petani di Serdang Bedagai meningkatkan hasil pertanian mereka, mulai dari penggunaan benih unggul, sistem irigasi modern, hingga penggunaan traktor dan mesin panen canggih.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto selaku Penanggung Jawab Oplah Sumatera Utara, mengatakan, provinsi ini mendapatkan target Oplah seluas 80.752 hektare, dengan rincian 30.442 hektare pada 2024 dan tersebar di 14 kabupaten.
Sementara untuk 2025, targetnya mencapai 50.310 hektare di 7 kabupaten. Kemudian target pembentukan Brigade Pangan pada 2024 sebanyak 155 brigade, dan akan meningkat menjadi 259 brigade pada 2025.
“ Hingga 9 Desember 2024, realisasi tanam mencapai 28.220 hektare atau 92,70 persen dari target 2024. Dengan capaian ini, kami optimis Sumut bisa menjadi lumbung pangan di masa mendatang,” katanya.
Heru berharap program percepatan swasembada pangan dapat mengoptimalkan potensi pertanian di wilayah Sumut. “Kami berkomitmen untuk mewujudkan swasembada pangan. Sumatera Utara adalah sentra produksi pangan strategis jadi kita perlu bergerak cepat dan terus memperkuat semua program di sini,” ujarnya