Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran beberapa negara anggota terhadap beban ekonomi dan industri yang ditimbulkan oleh target ambisius pengurangan emisi sebesar 90 persen pada tahun 2040 dibandingkan tingkat emisi sebelumnya.

48,6 Juta Warga Indonesia Terpapar Panas Ekstrim

MEDAN, ForestEarth.id – Terhitung sejak Desember 2024 hingga Februari 2025 48,6 juta warga Indonesia terpapar panas ekstrim. Semestinya pada periode itu masih musim penghujan sejak Oktober hingga Maret.

Dalam keterangan tertulisnya, Climate Central menyatakan Indonesia merupakan negara kedua teratas yang warganya paling banyak terpapar panas selama lebih dari 30 hari sebagai dampak nyata perubahan iklim dan pembakaran bahan bakar fosil aktivitas manusia.

Jakarta, disebutkan dalam laporan itu, berada di urutan 4 di dunia sebagai kota besar yang mengalami panas ekstrim paling lama setelah Lagos di Nigeria, Tamil Nadu di India dan Manila di Filipina.

Berdasarkan catatan, Jakarta telah terpapar panas ekstrim selama 69 hari yang dipengaruhi perubahan iklim dengan anomali mencapai 0,7 derajat celsius di atas rata-rata historis.

Di laporan itu disebutkan ada 11 kota di dunia yang terpapar panas ekstrim lebih dari 30 hari. Laporan tersebut menunjukkan bukti nyata krisis iklim yang mengancam kota-kota besar.

Pakar iklim Climate Central Joseph Giguere menyebut, di tataran global, rata-rata setiap orang mengalami 6 hari dengan panas tinggi antara Desember 2024 hingga Februari 2025.

“Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia menambahkan lima hari suhu tinggi ke dalam pengalaman rata-rata seseorang selama periode ini,” kata Giguere, Kamis (20/3/2025).

Tanpa perubahan iklim, lanjutnya, paparan rata-rata seseorang terhadap suhu tinggi seharusnya hanya satu hari dalam tiga bulan terakhir. Pada skala global, 394 juta orang mengalami lebih dari 30 hari dengan suhu tinggi akibat perubahan iklim, di mana 74 persennya berada di Afrika.

Anomali panas ekstrem terjadi ketika suhu udara lebih tinggi dari 90 persen dari suhu lokal yang tercatat dalam periode 1991-2020.

Kenaikan suhu melebihi batas tersebut akan meningkatkan risiko kesehatan dan kematian terkait panas ekstrem, lantaran masyarakat tidak terbiasa atau sulit beradaptasi pada suhu tinggi ini.

Diberitakan sebelumnya, Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) mengonfirmasi bahwa 2024 menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan yang dimulai 175 tahun lalu.

Dalam laporan terbaru berjudul State of the Global Climate 2024, WMO menyebutkan suhu rata-rata global 1,55 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Di sisi lain, dunia sepakat melalui Perjanjian Paris untuk mencegah suhu Bumi tidak naik lebih dari 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Rekor suhu global pada 2024 disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca yang terus berlanjut, ditambah dengan fenomena El Nino.

Selain kenaikan suhu bumi yang signifikan, beberapa indikator iklim juga mencatatkan rekor baru. Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer mencapai titik tertinggi dalam 800.000 tahun, dan lautan terus menghangat pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menuturkan, data tahun 2024 juga menunjukkan bahwa lautan terus menghangat dan permukaan laut terus meningkat.

 

Leave A Comment