Kemenyan, Produk Lokal, dan Aksi Iklim Global: Cerita dari Jantung Tapanuli

TAPANULI UTARA, ForestEarth.id — Di balik getah kemenyan yang harum, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, komitmen, dan harapan akan masa depan. Bagi Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Desa Simardangiang, Tapanuli Utara, kemenyan bukan sekadar komoditas, melainkan jembatan yang menghubungkan tradisi dengan tantangan modern, termasuk ancaman perubahan iklim. 

Sebagai pemimpin yang memegang teguh kearifan lokal, Kepala Desa Simardangiang, Tampan Sitompul, melihat upaya menjaga hutan sebagai amanah yang harus dijalankan. “Hutan ini adalah warisan dari leluhur kami. Kami hidup dari hasil hutan, dan terbukti selama bergenerasi hidup berdampingan, ini harus dijaga hingga generasi mendatang,” ujarnya. 

Komitmen ini diwujudkan melalui pembentukan tim Pargomgom Forest yang berpatroli rutin untuk memastikan tidak ada pihak luar yang merusak ekosistem. Bagi Tampan Sitompul, patroli ini bukan hanya tentang menjaga batas wilayah, tetapi juga tentang mendokumentasikan kekayaan alam yang mereka miliki.

Tim patroli berhasil menemukan tumbuhan endemik, jejak harimau, hingga sarang orangutan. Penemuan ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa hutan mereka adalah bagian penting dari paru-paru dunia. “Hutan kami adalah penyeimbang iklim. Dengan menjaganya, kami juga berkontribusi pada kesehatan bumi,” tambahnya.

Membawa Nilai Baru ke Pasar Global

Tantangan ekonomi, yang selama ini membuat harga kemenyan rentan terhadap fluktuasi pasar, kini dijawab dengan langkah inovatif. Melalui pelatihan yang didampingi Green Justice Indonesia (GJI) masyarakat adat telah belajar mengolah getah kemenyan menjadi produk turunan bernilai tinggi, seperti minyak esensial yang dapat dijadikan parfum.

Proses ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan kemandirian kepada masyarakat untuk mengendalikan rantai produksi mereka sendiri.

Produksi kemenyan memiliki kisah panjang dan rumit. Para petani harus memanjat pohon kemenyan yang tinggi dan berisiko untuk menyadap getahnya. Setelah getah membeku, mereka mengumpulkannya secara manual. Proses ini adalah wujud dari hubungan spiritual antara manusia dan alam. 

Kini, dengan adanya teknologi ekstraksi, mereka dapat membawa cerita dan aroma kemenyan Tapanuli ke pasar yang lebih luas.

Peran Pemuda: Menjaga Tradisi dengan Teknologi

Peran pemuda menjadi krusial dalam transisi ini. Luas Partaulian Tambunan, salah satu pemuda yang aktif dalam inisiatif ini, melihat masa depan ada di tangan mereka. “Kami adalah generasi yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi, tapi juga diwariskan tradisi menjaga hutan,” kata Luas.

Menurutnya, pemuda bertanggung jawab untuk menjembatani pengetahuan tradisional dengan teknologi modern. Penggunaan GPS dalam patroli hutan, misalnya, adalah cara mereka untuk mengelola wilayah adat secara lebih sistematis dan efektif. 

“Kami bangga bisa menjaga hutan kami, melestarikan budaya kami, dan menunjukkan kepada dunia bahwa pemuda di daerah juga punya peran besar dalam melawan krisis iklim,” tambahnya.

Harapan di Hari Bumi

Setiap 22 April, Hari Bumi diperingati sebagai pengingat akan pentingnya menjaga planet ini. Bagi MHA Simardangiang, peringatan itu adalah refleksi dari perjuangan sehari-hari yang tak pernah berhenti. Mereka tidak hanya berjuang untuk mempertahankan tanah adat, tetapi juga untuk membuktikan bahwa komunitas lokal adalah garda terdepan dalam aksi iklim.

Ke depan, harapan mereka sederhana namun kuat: terus berdaya, mandiri, dan menjadi inspirasi bagi komunitas lain. Melalui komitmen Kepala Desa, keringat petani kemenyan, dan semangat para pemuda, Desa Simardangiang bukan hanya menjaga kekayaan alam, tetapi juga membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. Kisah mereka adalah bukti bahwa dengan kemauan yang kuat, kearifan lokal dapat menjadi solusi bagi tantangan global.

Leave A Comment