Cerita Kopi dari Batang Toru, Transformasi Petani Kunci di Dolok Saut Menembus Pasar Ekspor

TAPANULI UTARA, ForestEarth.id — Pada tahun 1990-an, kopi di Desa Dolok Saut, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara mulai ditinggalkan petani karena harga jualnya anjlok. Petani menggantinya dengan tanaman lain. Seiring waktu, pasar kopi di tingkat lokal maupun global semakin membaik. Petani mulai melirik kembali menanam kopi.

Desa ini berada di blok timur Kawasan Ekosistem Batang Toru yang kaya akan keanekaragaman hayati, menjadi habitat satwa kunci seperti harimau, gajah, badak, dan juga orangutan tapanuli yang populasinya terfragmentasi di blok barat dan blok timur. Desa Dolok Saut merupakan penyangga bagi kawasan ini.

Staff Pelestari Ragamhayati Cipta Fondasi (PRCF) dan Orangutan Information Centre (OIC), Sabaruddin mengatakan, salah satu upaya untuk mendukung pelestarian Kawasan Ekosistem Batang Toru adalah dengan memperkuat petani kopi di desa ini melalui pemberdayaan ekonomi dan konservasi.

Sabarudin mengatakan, ada tiga petani “champion” atau petani kunci yang didampingi secara intensif sejak akhir 2022. Salah satunya Kepala Desa Dolok Saut, Erjon Ritonga. Di kebun Erjon, dapat dilihat hasil yang menggembirakan. Kopi yang dibudidayakan di kebun Erjon adalah kopi robusta.

Kopi robusta di Desa Dolok Saut, Kecamatan Simangumban, Tapanuli Utara.

Menurutnya, desa ini berada di ketinggian 890 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kopi robusta dapat tumbuh dengan baik. Sabaruddin memprediksi, hasil panen kopi di kebun ini bisa mencapai 1,5 ton hingga 2 ton per hectare green bean. Pendampingan yang dilakukan juga menyasar pada pasar kopi baik lokal maupun global.

“Kita sudah ada buyer ada beberapa buyer yang meminta green bean kopi, baik itu arabika ataupun robusta. Dengan melihat kopi robusta yang ada di sini sekarang, bisa memproduksi green bean kopi, 1,5 ton hingga 2 ton per hectare,” katanya.

Keberhasilan awal ini mulai menumbuhkan ketertarikan petani lain. “Harapan ke depan, petani kunci yang ada di sini bisa terus membagikan ilmunya, cara menanam kopi robusta yang baik dan benar dengan system yang ramah lingkungan,” katanya.

Sabaruddin menambahkan, meski demikian dalam pendampingan petani kopi di Dolok Saut masih harus dikuatkan. Diperlukan sumber daya manusia atau pendamping yang siap untuk berada di lapangan bersama petani untuk bersama-sama bangkit, belajar dan menciptakan inovasi yang bermanfaat ke depannya.

Dukungan Pemerintah Desa: Kopi Jadi Ikon Baru

Sementara itu, Kepala Desa Dolok Saut, Erjon Ritonga, menjelaskan, bagi masyarakat kopi bukanlah hal baru karena sudah dibudidayakan sejak kakek nenek mereka. Namun kopi sempat ditinggalkan masyarakat karena harganya anjlok. Saat ini, lanjut Erjon, harga kopi semakin membaik dan petani pun mulai bergairah untuk kembali ke kopi.

Erjon memiliki lahan kopi seluas 5 – 6 hektare dengan tanaman sebanyak 3.000 batang yang sudah berbuah. Dia melihat bahwa yang masih menjadi permasalahan bagi petani kopi di desanya adalah akses terhadap pupuk dan bibit berkualitas. Pupuk bersubsidi dari pemerintah masih belum mencukupi bagi petani. Begitupun bibit robusta dari Lampung juga masih terbatas sehingga sulit didapat.

“Karena itu kita masih pendampingan dan dukungan. Mungkin seperti sarana, prasarana, dan pelatihan. Potensi desa kami besar, tapi pendampingan tetap sangat dibutuhkan,” katanya.

Kepala Desa Dolok Saut, Kecamatan Simangumban, Tapanuli Utara, Erjon Ritonga mengatakan petani mulai kembali menanam kopi seiring membaiknya harga kopi di pasaran.

Optimisme dari Batang Toru

Walaupun banyak tantangan, Erjon mengatakan masyarakat secara perlahan kembali bersemangat untuk kopi. “Kami berterima kasih kepada PRCF dan OIC. Kedatangan mereka di tengah-tengah masyarakat, kita melihat secara positive, sudah bergerak di bidang pertanian, kehutanan dan sosial, hasilnya sudah banyak masyarakat menanam kopi. Harapannya ada dampak kehadirannya dan membantu masyarkaat di Dolok Saut,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, umatera Regional Manager, PRCF, Doni Latuparisa mengatakan, desa ini hanya berjarak 300 meter dari hutan lindung. PRCF sudah mendampingi masyarakat desa ini sejak 2022.

Menurutnya, ada 3 aspek dalam pendekatan yang dilakukan PRCF di desa ini yakni  penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood), tata kelola hutan (forest governance), dan keanekaragaman hayati (biodiversity).

“Kita melakukan pendampingan untuk mendorong program perhutanan sosial sebagai penguatan tata kelola hutan secara lestari,” katanya, pekan lalu.

Dijelaskannya, dalam konteks pertanian berkelanjutan di 3 desa di blok timur Batang Toru, ada 9 kebun percontohan, salah satunya di kebun kopi milik Kepala Desa Dolok Saut.

Pada program agroforestry kopi ini, PRCF mendampingi petani mulai dari pembagian bibit, penanaman, hingga perawatan. Sekaligus membuka akses pasar nasional dan internasional.

Ke depan pihaknya akan mendorong Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) pada saat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD)  sudah mendapatkan persetujuan pengelolaan oleh Kementrian Kehutanan.

“Ini akan membantu meningkatkan ekonomi kerakyatan di desa Dolok Saut dan dua desa lain di blok timur Batang Toru,” katanya.

Namun pekerjaan PRCF tak berhenti di kebun. Bersama masyarakat, mereka menyusun rencana kerja menuju pengelolaan hutan desa selama 35 tahun, lengkap dengan rencana kerja jangka 10 tahunan dan tahunan.

Pada konteks biodiversitas, mereka juga melakukan survei dan monitoring keanekaragaman hayati, termasuk spesies dilindungi seperti orangutan tapanuli, siamang, dan gibbon yang masih hidup liar di sekitar kawasan ini.

Leave A Comment