Ilustrasi kontras perubahan hutan akibat perubahan iklim: dari ekosistem hijau yang subur menjadi lanskap kering dan terbakar. Adaptasi alam tak secepat laju pemanasan bumi. (AI)

Iklim Berubah Lebih Cepat, Adaptasi Hutan Terlalu Lambat

MEDAN, ForestEarth.id – Para ilmuwan telah bekerja keras dan menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk mengetahui lebih jauh seberapa cepat laju perubahan iklim kemudian membandingkannya dengan tindakan yang dilakukan sebagai langkah mitigasi. Sejauh apa kita tergilas waktu?

Mungkin, masyarakat awam hanya bisa berandai-andai tentang apa yang ada di sekitar tempat tinggalnya dalam rentang 100 tahun lalu. Atau sebut saja era peperangan kuno, revolusi industri, atau revolusi hijau, maupun gerakan aktivisme lingkungan.

Tentu saja dengan hutan, sungai, laut, dan udara yang jauh lebih baik kualitasnya dari yang sekarang dimiliki. Dikutip dari laman ScienceDaily, sebelum isu perubahan iklim menyeruak, belahan bumi utara pernah memasuki periode dingin dan hangat selama ribuan tahun.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkap, hutan memerlukan waktu sekitar satu hingga dua abad untuk mengubah komposisi populasi pohonnya sebagai respons terhadap perubahan iklim.

David Fastovich, peneliti postdoktoral di Paleoclimate Dynamics Lab, Universitas Syracuse sebagai penulis utama dalam studi yang dipimpin Tripti Bhattacharya, Thonis Family Proffesor of Paleoclimate dan dosen di Departement of Earth and Environmental Sciences.

Tim peneliti berupaya memetakan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh populasi pohon untuk merespons perubahan iklim, dengan menganalisis data serbuk sari dari inti sedimen danau yang mencakup periode hingga 600.000 tahun silam.

“Kita sudah lama tahu bahwa jeda waktu ini ada, tapi belum ada yang bisa menghitungnya secara pasti. Kita bisa memperkirakan umur pohon dari lingkaran tahunannya. Tapi sekarang kita tahu bahwa setelah satu hingga dua abad—yang kira-kira sama dengan rata-rata umur hidup pohon—ekosistem hutan secara keseluruhan mulai berubah. Pohon-pohon mati dan digantikan oleh spesies baru sebagai respons terhadap iklim,” jelasnya Fastovich.

Para peneliti menggunakan analisis spektral, sebuah teknik umum dalam bidang fisika dan teknik, untuk menganalisis data ekologis jangka panjang itu. Dengan metode itu, dimungkinkan bagi tim melihat perbandingan hubungan antara populasi pohon dengan iklim dengan skala dekade sampai ribuan tahun.

Tujuan studi itu untuk memahami seberapa erat pergerakan populasi pohon, kematian pohon dan gangguan hutan seperti kebakaran, sejalan dengan perubahan iklim.

David menjelaskan, analisis spektral menawarkan pendekatan statistik terpadu yang dapat menjelaskan adaptasi hutan dari hitungan hari hingga ribuan tahun.

“Ini memberi kita bahasa yang sama untuk dipakai oleh para ahli ekologi, paleoekolog, dan paleobiolog yang mengamati perubahan hutan — baik di skala tahunan maupun milenial,” kata Fastovich.

Dari studi yang dilakukan, temuannya adalah pada skala waktu tahunan dan dekade, terjadi perubahan dalam hutan secara lambat. Hanya saja, setelah sekitar 8 abad, perubahan menjadi lebih besar dan ini ada kaitannya dengan iklim alami yang variatif.

“Dengan teknik baru ini, kita bisa memahami proses ekologis di berbagai skala waktu dan bagaimana keterkaitannya. Kita bisa melihat bagaimana penyebaran dan perubahan populasi saling memengaruhi, menyebabkan perubahan hutan dari dekade ke abad, dan bahkan lebih lama lagi. Ini belum pernah dilakukan sebelumnya,” jelasnya.

Dikatakan Fastovich, hutan membutuhkan banyak intervensi manusia agar tetap sehat, misalnya pendekatan migrasi terbantu (assisted migration), yakni dengan penanaman pohon. Di antaranya dengan menanam pohon yang cocok dengan iklim hangat di wilayah yang sebelumnya dingin sehingga hutan bisa bertahan dan berkembang di tengah pemanasan global.

Menurut Fastovich, adaptasi hutan terhadap iklim merupakan proses yang lambat dan kompleks serta membutuhkan strategi pengelolaan jangka panjang dan cermat.

“Ada ketidaksesuaian antara kecepatan perubahan alami dalam hutan dengan kecepatan perubahan iklim saat ini. Perubahan pada tingkat populasi tidak akan cukup cepat untuk menjaga kelestarian hutan-hutan yang kita cintai. Migrasi terbantu hanyalah salah satu dari banyak alat untuk memperpanjang usia hutan-hutan tersebut,” katanya.

Leave A Comment