MEDAN, ForestEarth.id – Studi terbaru mengungkap terjadi mega kekeringan di belahan bumi Utara membuat krisis air global semakin parah. Temuan di beberapa negara di Asia Tenggara juga mengungkap hal yang tak kalah mengkhawatirkan.
Krisis air tawar global semakin serius. Beberapa waktu lalu sebuah riset dari Arizona State University mengungkap temuan mengejutkan di sejumlah daratan mengering dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sejak 2002.
Kekeringan ekstrim itu terjadi sebagai dampak perubahan iklim, penggunaan air tanah yang tidak berkelanjutan. Laju area kering yang meluas di daratan itu setara dua kali luas California. Negeri beruang grizzly itu memiliki luas 423.970 km2.
Hal itu berdasarkan data satelit dari misi GRACE dan GRACE-FO selama lebih dari dua dekade. Sebagai gambaran, untuk konteks Indonesia, gabungan luas Provinsi Papua Induk, Papua Pegunungan dan Papua Selatan yakni 421.981 km2.
Bahkan yang lebih parah, tingkat kekeringan di wilayah-wilayah itu melampaui laju area basah yang semakin lembab. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances ini mengidentifikasi wilayah ‘mega-kekeringan’ baru, yang semuanya berada di belahan bumi utara.
Wilayah-wilayah ini mencakup:
* Alaska dan Kanada Utara: Meliputi gletser yang mencair dan kekeringan di area pertanian.
* Rusia Utara: Mengalami pelelehan salju dan permafrost yang masif.
* Timur Tengah-Afrika Utara (MENA) dan Pan-Eurasia: Termasuk kota-kota besar, wilayah penghasil makanan, serta danau yang menyusut.
Penelitian ini juga menyoroti temuan paling mengkhawatirkan: 68% dari total kehilangan air tawar di benua-benua berasal dari penipisan air tanah. Jumlah ini bahkan melebihi kontribusi gabungan dari pelelehan lapisan es Greenland dan Antartika terhadap kenaikan permukaan air laut.
Jay Famiglietti, salah satu peneliti utama, menyatakan bahwa temuan ini adalah ‘pesan paling mengkhawatirkan’ tentang dampak perubahan iklim pada sumber daya air.
“Benua-benua mengering, ketersediaan air tawar menyusut, dan kenaikan permukaan air laut semakin cepat. Konsekuensi dari penggunaan air tanah yang berlebihan bisa mengancam ketahanan pangan dan air bagi miliaran orang di seluruh dunia,” katanya.
Hrishikesh A. Chandanpurkar, penulis utama studi, menambahkan bahwa manusia telah memperlakukan air tanah seperti ‘dana abadi kuno‘ yang terus-menerus diambil tanpa diisi kembali, mendorong kita menuju ‘kebangkrutan air tawar yang sudah di depan mata.’
Studi ini menyerukan tindakan segera dan kerja sama global untuk mengelola air tanah secara berkelanjutan, yang tidak hanya akan melestarikan air untuk masa depan tetapi juga membantu memperlambat laju kenaikan permukaan air laut.
Kasus di Asia Tenggara
Krisis air tawar akibat perubahan iklim dan penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan bukan lagi ancaman di masa depan bagi Asia Tenggara.
Berbagai laporan dan riset menunjukkan wilayah ini kini menghadapi konsekuensi serius, mulai dari penurunan muka tanah di kota-kota besar hingga intrusi air laut yang merusak lahan pertanian.
Di Indonesia, penarikan air tanah yang masif telah menyebabkan masalah geologis yang akut. Berdasarkan laporan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 22 Juli 2024, penurunan muka tanah di Jakarta mencapai rata-rata 5 cm per tahun.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa laju penurunan air tanah ini sebenarnya bisa diperlambat melalui pengelolaan yang lebih baik.
Namun, ia menekankan bahwa penarikan air tanah yang berlebihan masih menjadi penyebab utama penurunan permukaan tanah yang signifikan di ibu kota.
Fenomena serupa juga terjadi di wilayah pesisir lainnya. Di Vietnam, intrusi air asin diperkirakan akan berlangsung lebih awal di Delta Mekong, salah satu lumbung pangan Asia.
Berita yang dirilis oleh kantor berita ANTARA pada 15 Oktober 2023, melaporkan bahwa para ahli khawatir tentang salinitas yang meningkat di area tersebut.
Hal ini sejalan dengan riset lain, termasuk penelitian di muara Sungai Citanduy, Indonesia, yang juga mencatat intrusi air laut ke dalam akuifer air tawar akibat penipisan air tanah.
Kondisi ini diperparah oleh variabilitas iklim. Penelitian ilmiah telah menunjukkan bagaimana pola cuaca ekstrem, seperti El Niño, secara signifikan memperburuk kekeringan.
Hal ini memicu permintaan air yang lebih tinggi untuk irigasi, yang pada akhirnya mempercepat penipisan air tanah, terutama di daerah-daerah pertanian di Thailand dan Indonesia.
Laporan dari berbagai lembaga, termasuk UNDP, juga menyoroti perlunya tata kelola air yang lebih baik dan praktik yang berkelanjutan di kawasan ini.
Tanpa tindakan cepat, kelangkaan air tidak hanya akan mengancam ketahanan pangan dan ekonomi, tetapi juga stabilitas sosial di seluruh Asia Tenggara.