DELI SERDANG, ForestEarth.id – Panas terik tak menyurutkan langkah Ridho (51) menuju perahu di dermaga Desa Bagan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Selasa (15/10/2024). Angin kencang bercampur aroma asin pesisir menyambut di tepian. Perahu berbagai ukuran hilir mudik sejak pagi hingga malam, membawa cerita nelayan yang kian terhimpit persoalan: hasil tangkapan menurun, solar langka, utang menumpuk, hingga perahu dan mesin tua yang butuh perbaikan.
“Dulu orang tua bilang kalau mau ke laut lihat cuaca, dari situ bisa ditebak titik ikan. Sekarang sudah tak berlaku. Angin datang mendadak, gelombang besar tiba-tiba, ikan entah di mana didapat,” keluh Ridho, Rabu (20/8/2025).
Cuaca ekstrem menjadi tantangan paling berat. Ia kini terpaksa melaut lebih jauh hingga ke tengah laut, menambah biaya solar dan perawatan mesin, sementara hasil tangkapan tak sepadan. Jika dulu bisa membawa pulang Rp200 ribu bersih per hari, kini sering tak menentu: kadang Rp100 ribu, kadang Rp50 ribu, sesekali naik Rp300 ribu. “Cenderung menurun. Dulu masih ada anggota, sekarang tidak. Anaklah yang dibawa ke laut,” ujarnya.
Ridho bahkan sempat tergoda untuk alih profesi menjadi buruh. Namun laut sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. “Kalau begini terus, anak-anakku nanti bagaimana nasibnya,” katanya dengan nada gusar.
Abdul Sani, nelayan lain, juga mengakui sulitnya melaut akibat cuaca tak menentu. “Gak mungkin ke laut kalau angin berubah-ubah. Bahaya. Kadang batal berangkat,” katanya. Ia lebih beruntung karena memiliki usaha sampingan berupa kedai kelontong di pasar. Meski begitu, ia tetap menggantungkan hidup utama dari hasil laut.
“Mau gimana pun kita orang pesisir, ya nelayanlah kita. Tapi maunya ada solusi dari pemerintah. Kita ini nelayan kecil, tak pernah merambah mangrove, tak punya sawit atau tambak. Katanya itu penyebab perubahan iklim. Tapi yang jelas, dampaknya kami yang rasakan,” ujarnya.
Situasi yang dihadapi para nelayan ini sejalan dengan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi. Prakirawan BMKG Wilayah I Medan, Putri Diana, menyebut sejumlah wilayah di Sumatera Utara berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang pada Minggu (24/8/2025).
“Pada pagi hari, sebagian besar wilayah Sumut diprakirakan berawan dengan potensi hujan ringan di Nias Selatan. Siang hingga sore, hujan ringan hingga sedang kemungkinan terjadi hampir di seluruh wilayah, terutama Pakpak Bharat. Pada malam hari, Deli Serdang dan Langkat masih berpotensi hujan, sementara dini hari diprediksi hujan ringan di Padang Lawas,” jelas Putri Diana di Medan, Sabtu (23/8/2025).
BMKG juga memperkirakan suhu udara di Sumut berkisar 14–36 derajat Celsius dengan kelembapan 77–95 persen. Angin bertiup dari arah selatan hingga barat daya dengan kecepatan 3–7 km/jam. “Masyarakat diimbau tetap waspada potensi hujan dengan durasi panjang karena dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor,” tambahnya.
Tak hanya di daratan, ancaman juga datang dari laut. Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan, Riandiny Putri, menyampaikan adanya gelombang tinggi setinggi 1,25–2,5 meter yang berpotensi melanda perairan Sumut pada 24–27 Agustus 2025. Kondisi ini meliputi Samudera Hindia barat Kepulauan Nias, perairan timur dan barat Kepulauan Nias, perairan barat Sumut, hingga perairan Kepulauan Batu.
“Pola angin umumnya bergerak dari selatan hingga barat dengan kecepatan 4–20 knot. Kondisi ini cukup signifikan bagi aktivitas nelayan maupun masyarakat pesisir. Karena itu, kami imbau agar masyarakat selalu memantau informasi cuaca terbaru melalui aplikasi resmi BMKG,” jelas Riandiny.
Dengan cuaca yang makin sulit diprediksi, gelombang tinggi yang kerap datang tiba-tiba, serta biaya melaut yang terus meningkat, nelayan kecil di Deli Serdang semakin merasakan dampak perubahan iklim. Mereka tak peduli pada teori atau istilah teknis soal iklim, tetapi setiap hari harus menghadapi kenyataan: laut tak lagi bisa ditebak, dan hasil tangkapan tak lagi menjanjikan.