MANOKWARI, ForestEarth.id — Sebuah penelitian internasional mengungkap bahwa mayoritas hiu paus di perairan Indonesia Timur mengalami luka dan cedera yang disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama dari interaksi dengan kapal wisata dan alat tangkap tradisional nelayan.
Hasil studi yang dilakukan di kawasan Bird’s Head Seascape (Bentang Laut Kepala Burung) Papua Barat menunjukkan, sekitar 62 persen dari hiu paus yang diamati memiliki bekas luka akibat kontak dengan manusia. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science (2025) dan dirilis oleh ScienceDaily
“Kami menemukan bahwa sebagian besar cedera pada hiu paus berasal dari tabrakan dengan bagan (platform pancing tradisional) serta interaksi dengan kapal wisata yang semakin meningkat,” ujar Dr. Emily Setyawan, peneliti utama dari tim gabungan tersebut.
Luka dari Aktivitas Manusia
Dari total 268 individu hiu paus (Rhincodon typus) yang diidentifikasi antara tahun 2010 hingga 2023 di Cenderawasih Bay, Kaimana, dan Raja Ampat, sebagian besar sering terlihat berinteraksi dekat dengan bagan. Sebanyak 206 ekor tercatat memiliki luka atau bekas cedera.
Dari jumlah itu, 80,6 persen cedera disebabkan oleh aktivitas manusia seperti tabrakan, gesekan dengan kapal, atau tersangkut pada struktur bagan. Sementara 58,3 persen menunjukkan luka alami, dengan beberapa individu mengalami keduanya.
Jenis luka paling umum adalah abrasi atau gesekan ringan yang tidak mematikan, sementara cedera berat seperti amputasi sirip atau trauma tumpul hanya ditemukan pada sekitar 17,7 persen kasus. Penelitian ini menekankan bahwa hiu paus tumbuh dan bereproduksi sangat lambat—baru matang secara seksual setelah berumur sekitar 30 tahun—sehingga populasi mereka sangat rentan terhadap tekanan tambahan dari aktivitas manusia.
Dalam 75 tahun terakhir, populasi global hiu paus telah turun lebih dari 50 persen, dan hingga 63 persen di wilayah Indo-Pasifik. Para peneliti menyarankan sejumlah langkah sederhana untuk mengurangi risiko cedera pada hiu paus seperti Modifikasi alat tangkap bagan, seperti menutupi atau menghilangkan bagian tajam pada rangka jaring. Selain itu juga penerapan aturan jarak aman bagi kapal wisata, guna menghindari kontak langsung dengan hewan.
“Dengan sedikit perubahan dalam praktik perikanan dan pengelolaan wisata, kita dapat mengurangi tekanan terhadap spesies yang karismatik dan penting bagi ekosistem ini,” kata Setyawan.
Potensi Ekowisata Berkelanjutan
Hiu paus merupakan daya tarik utama bagi pariwisata laut di Indonesia Timur. Karena banyak individu memiliki tingkat residensi tinggi di lokasi yang sama, mereka berpotensi menjadi aset wisata berkelanjutan bagi masyarakat pesisir — selama dikelola secara bertanggung jawab. Peneliti menegaskan, perlindungan terhadap hiu paus bukan hanya penting bagi konservasi laut, tetapi juga bagi keberlanjutan ekonomi lokal yang bergantung pada ekowisata.