Sebanyak 651 juta di antaranya bahkan menghadapi dua atau lebih bahaya sekaligus.

80 Persen Penduduk Miskin Dunia Tinggal di Wilayah Rawan Bencana Iklim

MEDAN, ForestEarth.id — Sejak 15 tahun yang lalu, Juliati sudah tinggal di rumah sederhana di ujung Jalan Yong Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan. Kapan saja hujan deras, rumahnya selalu terendam banjir, apalagi kalau bersamaan dengan air pasang. Tak sedikit barang-barang berharga yang rusak akibat seringnya terkena air laut. Banjir adalah salah satu masalah di antara sekian banyak masalah yang dihadapinya. Derita lainnya, penyakit kulit menahun yang tak kunjung sembuh.

Sore itu, Juliati sedang menyelesaikan tusukan sate. Air pasang se mata kaki. Ya, tusuk demi tusuk diletakkannya ke dalam wadah lalu dipindahkan suaminya ke gerobak. Cuaca mendung tak bisa jadi alasan untuk tidak jualan. Kebanjiran bukanlah hal aneh karena bisa terjadi kapan saja. Mulai dari 10 cm hingga 1 meter pun dialami hampir sepanjang tahun. Kadang disebabkan hujan, kadang oleh jebolnya tanggul.

“Kalau tak jualan, tak ada duit. Mudah-mudahan tak hujan,” ujarnya.

Dikatakannya, selama beberapa tahun terakhir banjir semakin lama surut. Dia menduga ada banyak factor penyebabnya. Mulai dari semakin banyaknya pendirian bangunan di sekitar pelabuhan, sampah, perumahan,penimbunan dan lain sebagainya. “Katanya juga ada perubahan iklim. Es di kutub mencair makanya debit air berlebih. Nggak tahu lah. Kami lah pokoknya yang kena dampak ni. Habis tu, banyak orang nimbun. perusahaan di Belawan itu. Ada yang dibendungnya, di Canang pun dibendung juga. Jadi airnya lari ke sini,” katanya.

Juliati mengatakan, situasi yang terjadi selama ini membuat Kesehatannya menurun. Salah satunya adalah penyakit kulit. Dia dan anggota keluarga yang lain mengalami gatal-gatal yang sulit sembuh meski bertahun-tahun bagian kaki dan tangan. Dikatakannya, hingga saat ini tidak ada perhatian dari pemerintah terhadap masyarakat. Solusi yang dilakukannya adalah jika tidak sanggup lagi menahan gatal, dia pergi ke apotek membeli obat salep.

“Ini gatal-gatal, penyakit kulit, 5 tahun sudah ada ini. Menyeluruh di badan. Tapi ya begini. Bertahan lah entah sampai kapan. Maunya pemerintah turun ke sini, melihat kondisi kami dan memberi bantuan apa lah,” katanya.

Nelayan pencari kerang di lokasi yang sama bernama Selamat mengatakan, penyakit kulit menjadi masalah yang dialami umumnya masyarakat karena kondisi yang terjadi. Banjir yang semakin sering, suhu yang basah dan sanitasi yang kurang baik membuat masyarakat tak bisa menghindar dari penyakit kulit. “Kalau untuk beli obat salep bisa lah. Tapi di luar itu seperti hujan, banjir, sampah, itu kami minta dibantu lah,” katanya.

Diketahui, naiknya permukaan laut yang semakin intens akibat perubahan iklim global kini memicu berbagai permasalahan serius di masyarakat pesisir Indonesia. Di antara berbagai dampak negatif tersebut, wabah penyakit kulit menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan. Laporan terbaru menunjukkan peningkatan kasus penyakit kulit yang signifikan di kalangan penduduk pesisir, mengakibatkan keresahan dan tantangan baru bagi sektor kesehatan masyarakat. 

Kisah yang dialami Juliati dan Selamat menggambarkan apa yang selama ini menjadi sorotan dunia. United Nations Development Programme (UNDP) dan Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) melaporkan sebanyak 887 juta dari 1,1 miliar penduduk miskin di seluruh dunia tinggal di wilayah yang terekspos bahaya iklim seperti panas ekstrem, banjir, kekeringan,  atau polusi udara. 

Hal itu menjadi bukti ancaman iklim tidak tunggal tetapi berlapis dan membuat masyarakat semakin rentan diperparah dengan kurangnya akses layanan dasar seperti kesehatan. Dalam laporan itu disebutkan, dengan menggabungkan peta paparan bahaya iklim dan data kemiskinan multidimensi untuk pertama kalinya, laporan berjudul “Overlapping Hardships: Poverty and Climate Hazards”, sebanyak 651 juta dari mereka menghadapi dua atau lebih bahaya iklim secara bersamaan. 

Sementara 309 juta orang miskin tinggal di wilayah yang terpapar tiga atau empat bahaya sekaligus — beban yang oleh penulis disebut sebagai triple or quadruple burden. Secara terpisah, laporan merinci jenis bahaya yang paling banyak menimpa kelompok miskin: high heat (panas ekstrem) 608 juta orang, polusi udara 577 juta orang, wilayah rawan banjir 465 juta orang, dan zona terdampak kekeringan 207 juta orang. 

Wilayah Asia Selatan dan Sub-Sahara Afrika muncul sebagai titik panas global: masing-masing 380 juta dan 344 juta orang miskin tinggal di wilayah yang terpapar bahaya iklim. Di Asia Selatan hampir 99,1 persen orang miskin di kawasan itu terekspos satu atau lebih bahaya iklim (380 juta orang), dan 91,6 persen (351 juta orang) menghadapi dua atau lebih jenis bahaya — proporsi paparan sangat tinggi dibandingkan wilayah lain. 

Dari sisi kelompok negara, beban terbesar secara absolut berada pada negara berpendapatan lower-middle-income, di mana sekitar 548 juta orang miskin diperkirakan terekspos setidaknya satu bahaya iklim — jumlah yang mewakili 61,8 persen dari total orang miskin yang terekspos secara global. Selain itu, lebih dari 470 juta orang miskin di kelompok negara ini menghadapi dua atau lebih bahaya bersamaan. 

Laporan itu menyerukan strategi pengentasan kemiskinan yang mengintegrasikan ketahanan iklim, peningkatan kapasitas adaptasi lokal, dan mekanisme pembiayaan internasional yang skala besar. “Penelitian baru kami menunjukkan bahwa untuk mengatasi kemiskinan global dan menciptakan dunia yang lebih stabil untuk semua, kita harus menghadapi risiko iklim yang mengancam hampir 900 juta orang miskin,” ujar Haoliang Xu, Pejabat Pelaksana Administrator UNDP.

Leave A Comment