Kerusakan di bumi sudah melewati batas-batas alam yang menjaga kestabilannya selama jutaan tahun. Dan sekarang, sistem bumi mulai berbalik arah — dari penopang kehidupan menjadi sumber bencana.

Pemanasan Global Sudah Sampai di Titik Kritis yang Tak Bisa Dipulihkan

COPENHAGEN, ForestEarth.id – Pemanasan global disebut telah melewati titik balik kritis yang mengubah sistem bumi secara permanen yang tak bisa atau sangat sulit dipulihkan. Penelitian 160 ilmuwan menunjukkan babak baru krisis iklim yang tak lagi sebagai prediksi masa depan, tapi sekarang.

Disebutkan, temuan berupa peringatan itu adalah isi dalam laporan besar berjudul Global Tipping Points oleh ilmuwan dari 30 negara yang dirilis menjelang pertemuan iklim COP30 di Brasil, November mendatang.

“Perubahan sedang terjadi dengan cepat sekarang, secara tragis, di bagian-bagian dari iklim dan biosfer,” ujar Direktur Global Systems Institute, Universitas Exeter, sekaligus penulis utama laporan tersebut, Dr. Tim Lenton, Selasa (21/10/2025)

Para peneliti menyebut, kematian massal terumbu karang di berbagai samudra dunia merupakan tanda bahwa titik balik pertama dari kolaps ekosistem global telah terjadi.

Dengan kenaikan suhu rata-rata 1,3–1,4°C di atas tingkat pra-industri, banyak sistem kehidupan laut tak lagi mampu pulih.

Begitupun di daratan, lapisan es di Greenland dan Antartika Barat juga menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan struktural. Jika pencairan terus berlanjut, kenaikan muka air laut bisa mencapai beberapa meter dalam beberapa abad — menenggelamkan kota-kota pesisir besar di seluruh dunia.

Dalam laporan itu juga memaparkan ancaman mengkhawatirkan tentang paru-paru dunia,hutan hujan Amazon. Belantara yang selama ini menyerap miliaran ton karbon setiap tahun — kini terancam runtuh menjadi sabana kering.

Laporan terbaru menurunkan ambang batas krisis Amazon menjadi sekitar 1,5°C, mendekati suhu global saat ini. Jika ambang ini terlampaui, Amazon bukan lagi penyerap karbon, melainkan penyumbang emisi raksasa akibat kebakaran dan kematian pohon massal.

“Artinya, bahkan jika dunia berhasil menurunkan emisi di masa depan, mekanisme alami penyeimbang iklim bisa hilang sepenuhnya,” katanya.

Para ilmuwan juga menyoroti tanda-tanda perlambatan sistem arus laut utama di Atlantik, Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) — sistem yang menjaga iklim Eropa tetap stabil.

Gangguan terhadap arus ini berpotensi mengubah pola hujan tropis, memperburuk kekeringan di Afrika dan Asia Selatan, serta mengacaukan monsun di Indonesia.

Laporan tersebut menegaskan bahwa dunia kini sedang menuju pemanasan 3,1°C jika kebijakan saat ini tak berubah — skenario yang akan melampaui sebagian besar batas ekosistem bumi.

Laporan Global Tipping Points tak hanya menggambarkan betapa suramnya masa depan iklim. Laporan itu juga memberi sinar harapan: penggunaan energi terbarukan kini untuk pertama kali melampaui batu bara secara global.

“Kita masih punya sedikit kendali atas arah masa depan. Namun jendela kesempatan itu sedang menutup dengan cepat,” ujar Lenton.

Bagi Indonesia, peringatan ini bukan sekadar isu global. Dengan jutaan hektare hutan hujan tropis, lahan gambut, dan terumbu karang, negeri ini berada di garis depan krisis tipping point.

Kerusakan ekosistem laut di Wakatobi, pemutihan karang di Raja Ampat, dan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan adalah bagian dari pola global yang kini terbukti: sistem alam mulai melewati ambang pemulihan.

Konferensi Iklim PBB ke-30 (COP30) yang akan digelar di Brasil bulan depan menjadi momen penentu arah sejarah umat manusia. Bukan lagi soal menurunkan emisi “di masa depan”, tapi menahan keruntuhan sistem bumi yang sudah dimulai.

“Jika dunia gagal mengubah arah secara radikal, masa depan iklim stabil yang menopang peradaban manusia mungkin sudah lewat,” katanya.

Berita ini sebelumnya tayang di sini

Leave A Comment