Ilustrasi lumba-lumba. Kawasan ini merupakan salah satu jalur migrasi utama lumba-lumba di Atlantik Utara—namun juga menjadi salah satu zona penangkapan ikan tersibuk di Eropa. Kawasan ini merupakan salah satu jalur migrasi utama lumba-lumba di Atlantik Utara—namun juga menjadi salah satu zona penangkapan ikan tersibuk di Eropa. (Pixabay - PeterG63)

Ribuan Mati Terjerat Jaring, Umur Lumba-lumba Kini Semakin Pendek

PRANCIS, ForestEarth.id — Setiap tahun, ribuan lumba-lumba mati terjerat jaring nelayan. Banyak yang terdampar. Dari penelitian yang dilakukan dengan melihat lapisan pertumbuhan di gigi, umur mamalia laut itu juga semakin pendek, dari sebelumnya yang lumba-lumba betina bisa mencapai 24 tahun, kini 17 tahun. Diperparah rendahnya tingkat kelahiran.

Populasi lumba-lumba umum (common dolphins), salah satu mamalia laut paling melimpah di dunia, kini hidup jauh lebih pendek di Atlantik Utara. Penelitian terbaru di jurnal Conservation Letters menunjukkan bahwa umur hidup mereka menurun tajam dalam dua dekade terakhir.

Tim peneliti dari University of Colorado Boulder menemukan bahwa lumba-lumba betina hidup rata-rata 7 tahun lebih pendek dibandingkan pada 1997. Penurunan ini tidak hanya mengancam kelangsungan spesies, tetapi juga keseimbangan ekosistem laut yang mereka jaga.

“Ada kebutuhan mendesak untuk mengelola populasi ini dengan lebih baik. Jika tidak, penurunan populasi bisa berlanjut hingga berujung pada kepunahan,” ujar Etienne Rouby, peneliti pascadoktoral di Institute of Arctic and Alpine Research (INSTAAR). 

Sekitar 6 juta lumba-lumba umum menghuni perairan tropis dan beriklim sedang di seluruh dunia. Salah satu lokasi penting mereka di musim dingin adalah Teluk Biscay, lepas pantai Prancis, tempat perairan kaya nutrisi menarik ikan kecil seperti Sarden dan Anchovy.

Namun, wilayah ini juga merupakan salah satu zona penangkapan ikan tersibuk di Eropa. Ribuan lumba-lumba mati setiap tahun akibat tertangkap tidak sengaja (bycatch). Pada 2021 saja, diperkirakan 6.900 ekor lumba-lumba mati dari sekitar 180.000 populasi musim dingin di teluk tersebut.

Survei tradisional biasanya hanya menghitung lumba-lumba yang terlihat dari kapal atau udara. Namun, metode ini sering kali tidak mendeteksi penurunan populasi sampai kondisinya parah. Karena lumba-lumba bereproduksi lambat dan berumur panjang, keterlambatan ini bisa membuat pemulihan hampir mustahil.

Untuk mendapatkan data yang lebih akurat, tim Rouby meneliti 759 lumba-lumba terdampar di Teluk Biscay antara 1997 dan 2019. Dari lapisan pertumbuhan di gigi, mereka menentukan usia saat mati dan menemukan bahwa usia rata-rata lumba-lumba betina turun dari 24 tahun menjadi hanya 17 tahun.

Penurunan ini juga disertai penurunan tingkat kelahiran — indikator bahwa populasi berada dalam tekanan serius. Tingkat pertumbuhan populasi kini hanya sekitar 1,6% per tahun, jauh lebih rendah dari potensi ideal 4%.

Pemerintah Prancis sejak 2024 telah memberlakukan larangan menangkap ikan selama satu bulan setiap Januari untuk melindungi lumba-lumba di Teluk Biscay. Hasil awal menunjukkan kebijakan ini membantu, namun Rouby menilai penyesuaian waktu larangan sesuai pola migrasi lumba-lumba akan membuatnya lebih efektif.

Peneliti juga memperingatkan bahwa spesies cetacea lain seperti lumba-lumba hidung botol dan porpoise pelabuhan mungkin mengalami tekanan serupa. Lumba-lumba, lanjutnya, adalah predator puncak di Teluk Biscay. Tanpa mereka, populasi ikan bisa meledak dan memakan terlalu banyak plankton serta tumbuhan laut hingga sistemnya runtuh.

“Sebagai manusia, kita harus mengambil keputusan sadar untuk melindungi kehidupan di laut. Bukti sudah jelas: kita harus bertindak sebelum terlambat,” ujarnya.

Leave A Comment