Peninjauan Bendung Sei Wampu di Kabupaten Langkat oleh Menteri PU sebagai bagian dari percepatan pembangunan irigasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Menteri PU Kebut Proyek Strategis Floodway Medan, Irigasi Sei Wampu, dan Penanganan Longsor Sembahe

MEDAN, ForestEarth.id — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam memperkuat infrastruktur pengendalian banjir, ketahanan pangan, dan konektivitas wilayah di Sumatera Utara. Hal itu disampaikan saat meninjau langsung sejumlah proyek strategis nasional di Kota Medan, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Deli Serdang, Sabtu (8/11/2025).

Dalam siaran persnya, salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah pembangunan floodway Sikambing–Belawan yang diharapkan mampu mengatasi banjir rutin di Kecamatan Medan Selayang dan Kecamatan Medan Sunggal. Floodway ini berfungsi mengalihkan dan mengatur aliran air dari Sungai Sikambing ke Sungai Belawan, sehingga dapat menekan potensi luapan saat curah hujan tinggi.

“Floodway ini dibangun untuk mengurangi banjir yang selama ini kerap terjadi. Insya Allah setelah selesai, Medan Selayang dan Medan Sunggal tidak lagi mengalami genangan signifikan,” ujar Dody saat meninjau lokasi proyek di Jalan Asoka Pasar I, Medan Selayang.

Proyek floodway tersebut memiliki panjang sekitar 1,1 kilometer dengan total anggaran mencapai Rp66 miliar yang bersumber dari APBN 2023–2025 dan dilaksanakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II. Meski sempat terkendala pembebasan lahan, Dody menyebut progres pembangunan kini sudah mendekati rampung dan ditargetkan selesai pada akhir November 2025.

Selain pengendalian banjir, Menteri PU juga meninjau Bendung Sei Wampu di Kabupaten Langkat yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan irigasi saluran primer dan sekunder di sisi kiri bendung rampung pada 2026 dengan total anggaran sekitar Rp300 miliar.

Dody menjelaskan, jaringan irigasi tersebut akan mencakup 5,5 kilometer saluran primer dan 43 kilometer saluran sekunder, yang nantinya mampu mengairi sekitar 3.700 hektare lahan sawah di puluhan desa. Saat ini, sekitar 1.100 hektare sawah masih bergantung pada air hujan, sehingga sebagian petani beralih menanam sawit.

“Dengan irigasi yang berfungsi optimal, warga berkomitmen mengonversi kembali lahan sawit menjadi sawah. Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Dody.

Bendung Sei Wampu juga memiliki fungsi penting dalam pengaturan aliran Sungai Wampu, pengendalian banjir, serta penyediaan air baku bagi masyarakat sekitar. Pemerintah berharap distribusi air yang lebih merata dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani.

Di lokasi berbeda, Dody turut meninjau penanganan longsor di ruas jalan Medan–Berastagi tepatnya di kawasan Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Ia menargetkan pekerjaan penanganan longsor tersebut rampung pada Desember 2025, sebelum puncak arus libur Natal dan Tahun Baru.

“Jalur Medan–Berastagi sangat vital untuk ekonomi, sosial, dan pariwisata. Karena itu penanganannya harus tuntas sebelum Nataru,” tegasnya.

Saat ini, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 70–74 persen. Dari total 21 titik rawan longsor di jalur tersebut, sebanyak 12 titik menjadi prioritas penanganan tahun ini dengan anggaran sekitar Rp21,7 miliar. Penanganan dilakukan menggunakan teknologi khusus dari Eropa, termasuk pemasangan tiang penahan tebing pada medan curam dan berbatu.

Dody menambahkan, Kementerian PU secara nasional juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan dengan menyiagakan satgas dan peralatan penanganan darurat di berbagai wilayah. Upaya ini dilakukan untuk memastikan konektivitas antarwilayah tetap terjaga serta meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi.

Leave A Comment