MEDAN, ForestEarth.id — Korban jiwa akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera terus bertambah.
Data terbaru BNPB mencatat 442 orang meninggal dunia, sementara 402 lainnya masih dinyatakan hilang, menjadikan bencana ini salah satu yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir.
Sumatra Utara menjadi wilayah dengan dampak terparah. Hingga laporan terakhir, 217 warga dinyatakan meninggal dan 209 orang hilang.
Di Sumatra Barat, jumlah korban mencapai 129 meninggal dan 118 hilang, sedangkan 96 warga meninggal dan 75 lainnya hilang di Aceh.
BNPB bersama TNI, Polri, relawan, dan pemerintah daerah masih melanjutkan operasi evakuasi dan pencarian korban.
Ribuan warga telah diungsikan ke lokasi-lokasi aman, dengan kebutuhan logistik, air bersih, dan layanan kesehatan terus meningkat.
Upaya penyelamatan menghadapi tantangan berat. Kerusakan infrastruktur dan putusnya akses jalan membuat banyak wilayah terisolasi.
Hujan ekstrem yang terjadi hampir tanpa jeda sejak akhir November memperburuk kondisi lapangan dan mempersulit mobilisasi alat berat.
Pemerintah menegaskan status darurat di sejumlah daerah terdampak, sembari mempercepat distribusi bantuan.
BNPB mengingatkan bahwa potensi longsor susulan dan banjir bandang masih tinggi mengingat curah hujan diperkirakan tetap intens dalam beberapa hari ke depan.
Bencana yang melanda tiga provinsi besar ini memunculkan kekhawatiran akan dampak lebih luas terhadap sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pemerintah pusat diminta melakukan langkah cepat dan terkoordinasi, termasuk percepatan pemulihan akses, pemetaan ulang risiko, dan perbaikan daerah aliran sungai yang rusak.
