MEDAN, ForestEarth.id – Pada Kamis (3/12/2025) sore, tim di Posko Kantor Camat Batang Toru mendapat laporan dari warga adanya mayat korban banjir di Pulo Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah yang jauhnya sekitar 4 km. Tim SAR gabungan dengan peralatan lengkap bergerak menuju lokasi. Tempat itu adalah kebun kelapa sawit.
Adalah Decky Chandra, salah satu anggota tim Search and Rescue (SAR) di Posko Kantor Camat Batang Toru ketika dikonfirmasi mengatakan, berdasarkan informasi warga, ada temuan mayat namun lokasinya terisolasi. Tim harus menyeberangi sungai keruh berlumpur untuk sampai di titik temuan.
Pada hari itu, lanjut Decky, memang banyak laporan temuan mayat dan tim baru saja mengevakuasi 3 jenazah di tempat lain. “Lokasinya 4-5 km lah dari pemukiman warga. Itu di tengah kebun sawit. Dari jalan raya masuk ke dalam sekitaran 2 km lah, jalan aspal kan,” katanya.
Dijelaskannya, teman-tema lebih dulu tiba di lokasi. Saat itu dia sedang berada di jalur evakuasi dengan tali. Tim SAR gabungan saat itu sudah mulai mengangkat kayu-kayu untuk proses pencarian. Menurutnya, banyak di antara mereka di tim SAR udah gak sadar itu bangkai orangutan atau mayat manusia karena bentuknya mirip.
“Kalo liat tangannya udah beda. Itu bukan manusia. Aku cek balikin punggungnya ternyata masih ada bulunya, keadaan udah mulai membusuk sih. Masih ada bulu oranye. Dari size-nya aja udah yakin itu orangutan, diperkuat dengan warna bulunya oranye. Yaudah lah fix orangutan. Perkiraanku Itu betina remaja,” katanya.
Dijelaskannya, saat ditemukan bangkai orangutan itu tertimpa puing-puing batang pohon yang terbawa banjir Sungai Garoga yang di kanan kirinya dipenuhi kayu dan lumpur. “Nah itu kan fokus kami itu kan manusia bang. Nah jadi (kalau) mau dibawa, kutanya sama komandan tim kami, Ini gimana bang? Ini bukan manusia, gini-gini,” katanya.
Timnya tidak tahu akan dibawa kemana. Jika dibawa ke Puskesmas, kemungkinan ditolak karena focus pada menangani warga yang menjadi korban. Tim saat itu berada pada pilihan mengisi kantong mayat dengan bangkai orangutan atau digunakan untuk mayat warga yang akan dievakuasi.
“Nah itu, udah kami pindah posisi lagi, fokus aja ke evekuasi jenazah manusia. Kita sempat ambil dokumentasi, koordinat lalu meninggalkan tempat itu. Saat itu, pukul 15.53 WIB,” katanya.
Temuan bangkai orangutan itu menurutnya tidak biasa. Jika selama ini, proses evakuasi mayat jarang didokumentasikan, untuk bangkai orangutan, dia dokumentasikan. “Perjuangan juga itu bang. Ketika itu orang utan, terlalu naif kalau gak aku foto, jadi nyeberang lagi handphone dibungkus pake sarung tangan latek, taruh di helm baru nyeberang,” katanya.
Di akun Instagramnya, dia mengunggah sejumlah aktivitas sehari-hari mengevakuasi di wilayah bencana. Dia juga mendapat pesan pribadi dari perantauan yang kehilangan keluarganya. “Itu daily life ada kubuat selalu karena banyak yang minta, keluarga-keluarga yang hilang, yang di perantauan segala macem itu banyak yang DM,” katanya.
Terpisah, Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo mengatakan, bencana ekologis yang baru terjadi di Batang Toru ini menurutnya berdampak kepada orangutan tapanuli terutama beberapa wilayah terjadi longsor yang mengakibatkan penambahan wilayah area habitat yang terfragmentasi.
“Ini tidak bisa dipungkiri. Kemudian barangkali juga ada individu orangutan tapanuli yang ikut terseret menjadi korban longsor,” katanya.
Sebab, orangutan tapanuli hidup di lereng perbukitan yang memang saat ini sudah sangat terdesak. Orangutan tapanuli hidup di lereng yang lebih tinggi karena di dataran rendah sebagian sudah terkonversi atau beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau lahan perkebunan ataupun lahan untuk industri ekstraktif seperti tambang emas dan juga ada PLTA.
“Jadi saya kira, kita perlu melakukan kajian bagaimana dampaknya terhadap orangutan tapanuli. Saya juga sudah mendapat informasi bahwa ada satu foto orangutan tapanuli, tangan orangutan yang difoto yang tertimbun di longsoran di sekitaran hulu Sungai Garoga. Dan kita masih mendalami apakah memungkinkan kita mendapatkan dokumentasi terkait dengan temuan orangutan yang terkubur di salah satu tempat yang menjadi area terdampak longsor dan banjir bandang,” katanya.
Panut menambahkan, dia sangat meyakini bahwa banjir bandang yang mengakibatkan bencana hidrologis dan ekologis ini mengganggu darah aliran sungai (DAS) yang merupakan daerah penting bagi orangutan tapanuli yang sangat bergantung kepada keutuhan ekosistemnya.
Deforestasi, mengganggu kehidupan sosial masyarakat yang ada di sekitaran kawasan hutan. Deforestasi mengakibatkan ketidakseimbangan, kemudian penyakit, sebaran bakteri ataupun virus. Setelah banjir dan longsor, banyak sekali penyakit yang akan timbul. Ini kemungkinan juga berdampak kepada satwa, termasuk orangutan yang memang memiliki keeratan secara genetik dengan manusia
“Hampir 97% genetik orang hutan dan manusia sama, sehingga semua penyakit yang diderita oleh manusia bisa juga diderita oleh orangutan,” katanya.