MEDAN, ForestEarth.id – Namanya Decky Chandra. Sejak awal kejadian banjir bandang dan longsor di Batang Toru pada Selasa (25/11/2025), dia bersama teman-temannya bergabung di tim Search and Rescue (SAR) di Pos Kantor Camat Batang Toru. Hingga hari ini, dia dan timnya masih berada di lokasi, mengevakuasi jenazah korban banjir.
Banyak yang ditemukannya; air bah bercampur lumpur, kayu dan material rumah dan bangunan yang runtuh tersapu mayat, bahkan bangkai orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Bencana ini adalah yang paling parah sepajang sejarah. Kamis (11/12/2025), dia baru bisa dihubungi via telepon tanpa gangguan jaringan.
Ya, beberapa hari pasca bencana jaringan telekomunikasi putus. Di Pos Kantor Camat Batang Toru, tiap saat ada laporan dari masyarakat tentang temuan korban banjir bandang dan longsor. Seketika itu juga tim SAR gabungan dengan TNI/Polri dengan peralatan lengkap turun ke lokasi yang semua medannya berat.
Hampir semua lokasi evakuasi dipenuhi tumpukan kayu, batu dan lumpur. Menurutnya, dibandingkan kayu dan batu, lumpur adalah yang paling sulit. Hari ini dibersihkan, dalam sekejap akan terisi lagi karena hujan masih sering turun dengan lebat membawa material lumpur. Kontur lembek menyulitkan tim SAR gabungan saat berjalan di atasnya.
Setiap hari lokasi evakuasi tidaklah berdekatan. Sering kali tidak hanya di Tapanuli Tengah, tapi juga masuk ke perbatasan Tapanuli Selatan. Dia mencontohkan, di lokasi banjir bandang di Sungai Garoga.
“Sungai Garoga itu, limpahan airnya menyapu itu radius 2 km kanan kiri sungai. Makanya Jenazah itu tersebar luas. Susahnya kan, hujannya datang terus setiap sore ini jadi lumpur-lumpur tetap lembek, kadang sepaha kadang pinggang. Jadi setengah mati juga angkatin mayat,” katanya.
Tiada Waktu Istirahat
Saat ini, lanjut Decky, tim SAR di Posko Kantor Camat Batang Toru semakin berkurang. Beberapa tim sudah bergeser ke beberapa daerah, di antaranya Aceh Tamiang. Saat ini masih tersisa dari Basarnas 9 orag dan timnya sebanyak 6 orang. Menurutnya, yang menjadi tantangan itu saat banyak temuan dengan lokasi yang berjauhan.
Tugas yang dilakukan tidaklah mudah, karena itu dukungan apapun akan sangat berarti bagi tim yang nyaris tidak punya waktu beristirahat. Di posko, sejumlah kebutuhan tersedia seperti suplemen, kurma, madu dan juga tim medis. Bantuan, tidak hanya dibutuhkan oleh korban. Tim ‘di balik layar’ ini juga harus mendapakannya.
Secara peralatan, sudah memadai. Dari sisi personil, semua sudah terlatih. Sehingga tidak menjadi permasalahan berarti. Namun, lanjut Decky, bagaimana pun tim SAR adalah manusia yang membutuhkan waktu istirahat. Apalagi untuk wilayah yang skala dampak bencananya seluas ini dengan intensitas hujan deras yang tinggi.
“Gini, kalau bencana itu biasanya dihantam hari ini, besoknya kita udah bisa mulai evakuasi, Ini gak bisa. Debit sungainya naik turun. Kami kemarin tim evakuasi malah terjebak di seberang sungai waktu evakuasi warga warga. Air tiba-tiba naik. Jam 9 malam baru bisa berjalan keluar dari dari zona bahaya itu. Ini kayak kita gak dikasih istirahat,” katanya.
Dia juga sering menerima laporan adanya jenazah dengan lokasi jauh dan mengarungi sungai. Namun tiba-tiba anggota tim yang berada di hulu mengabari bahwa air mulai naik, mau tak mau tim yang hendak mengevakuasi harus turun ke darat dan besoknya harus diulangi.
Histeris dan Trauma
Situasi pascabanjir tak kalah mendebarkan. Dia berulangkali menyaksikan korban yang berada di pengungsian menangis histeris saat hujan deras datang. Mereka berteriak ketakutan keluar dari tempat pengungsian ke jalan karena trauma dengan air. “Itu pengungsian kalau udah hujan histeris. Trauma luar biasa, lari semua ke jalan,” katanya.
Bangkai Orangutan di Kebun Sawit
Pada Kamis (3/12/2025) sore, tim di Posko Kantor Camat Batang Toru mendapat laporan dari warga adanya mayat korban banjir di Pulo Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah yang jauhnya sekitar 4 km. Tim SAR gabungan dengan peralatan lengkap bergerak menuju lokasi. Tempat itu banyak kebun kelapa sawit.
Berdasarkan informasi warga, ada temuan mayat namun lokasinya terisolasi. Tim harus menyeberangi sungai keruh berlumpur untuk sampai di titik temuan. Pada hari itu, lanjut Decky, memang banyak laporan temuan mayat dan tim baru saja mengevakuasi 3 jenazah di tempat lain.
“Lokasinya 4-5 km lah dari pemukiman warga. Itu di tengah kebun sawit. Dari jalan raya masuk ke dalam sekitaran 2 km lah, jalan aspal kan,” katanya.
Dijelaskannya, teman-tema lebih dulu tiba di lokasi. Saat itu dia sedang berada di jalur evakuasi dengan tali. Tim SAR gabungan saat itu sudah mulai mengangkat kayu-kayu untuk proses pencarian. Menurutnya, banyak di antara mereka di tim SAR udah gak sadar itu bangkai orangutan atau mayat manusia karena bentuknya mirip.
“Kalo liat tangannya udah beda. Itu bukan manusia. Aku cek balikin punggungnya ternyata masih bulunya, keadaan udah mulai membusuk sih. Masih ada bulu oranye. Dari size-nya aja udah yakin itu orangutan, diperkuat dengan warna bulunya oranye. Yaudah lah fix orangutan. Perkiraanku Itu betina remaja,” katanya.
Dijelaskannya, saat ditemukan bangkai orangutan itu tertimpa puing-puing batang pohon yang terbawa banjir Sungai Garoga yang di kanan kirinya dipenuhi kayu dan lumpur. “Nah itu kan fokus kami itu kan manusia bang. Nah jadi (kalau) mau dibawa, kutanya sama komandan tim kami, Ini gimana bang? Ini bukan manusia, gini-gini,” katanya.
Timnya tidak tahu akan dibawa kemana. Jika dibawa ke Puskesmas, kemungkinan ditolak karena focus pada menangani warga yang menjadi korban. Tim saat itu berada pada pilihan mengisi kantong mayat dengan bangkai orangutan atau digunakan untuk mayat warga yang akan dievakuasi.
“Nah itu, udah kami pindah posisi lagi, fokus aja ke evekuasi jenazah manusia. Kita sempat ambil dokumentasi, koordinat lalu meninggalkan tempat itu. Saat itu, pukul 15.53 WIB,” katanya.
Temuan bangkai orangutan itu menurutnya tidak biasa. Jika selama ini, proses evakuasi mayat jarang didokumentasikan, untuk bangkai orangutan, dia dokumentasikan. “Perjuangan juga itu bang. Ketika itu orang utan, terlalu naif kalau gak aku foto, jadi nyeberang lagi handphone dibungkus pake sarung tangan latek, taruh di helm baru nyeberang,” katanya.
Di akun Instagramnya, dia mengunggah sejumlah aktivitas sehari-hari mengevakuasi di wilayah bencana. Dia juga mendapat pesan pribadi dari perantauan yang kehilangan keluarganya. “Itu daily life ada kubuat selalu karena banyak yang minta, keluarga-keluarga yang hilang, yang di perantauan segala macem itu banyak yang DM,” katanya.
Fragmentasi, Dampak Banjir dan KSN
Terpisah, Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo mengatakan, kawasan ekosistem Batang Toru merupakan habitat satwa endemic yang terancam punah, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang terfragmentasi di blok barat, blok timur, dan blok selatan. Di blok barat yang secara administrasi berada di wilayah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, terdapat sekitar 400 individu.
Blok barat, lanjutnya, adalah kawasan lindung dan sebagian wilayah areal penggunaan lain (APL) yang masih berhutan. Sedangkan blok timur, dipisahkan oleh jalan nasional dari Medan menuju Sipirok terdapat sekitar 200 individu. Menurutnya, banyak wilayah APL yang sebenarnya masih bagian dari habitat dan home range orangutan tapanuli yang tidak dapat dipisahkan ya secara administrasi dan juga secara fungsi.
“Blok selatan yang sepenuhnya berada di Tapanuli Tengah ini sebenarnya wilayah penting yang kita upayakan sebagai wilayah koridor untuk menghubungkan antara Sibual-buali, kemudian Lubuk Raya. Kemudian Blok Barat yang menghubungkan wilayah ini dipisahkan oleh Sungai Batang Toru,” katanya.
Secara keseluruhan, populasi orangutan tapanuli sebanyak 760-an dan kondisi habitatnya sedang tidak baik-baik saja. Ancaman terbesar terhadap keberadaan orangutan tapanuli adalah deforestasi, perubahan lahan, hilangnya tutupan hutan untuk perkebunan, PLTA maupun industri ekstraktif.
“Ancaman ini sangat menyulitkan orangutan tapanuli karena mengakibatkan fragmentasi hutan, sehingga wilayah jelajahnya terganggu. Perubahan ruang gerak orangutan tapanuli membuatnya terisolasi ataupun terkurung dalam satu habitat yang tidak terhubung dengan habitat lain,” katanya.
Dampak Banjir dan Longsor
Menurutnya, persoalan ini menjadi sangat krusial dan sangat esensial sebab kesatuan habitat ini menyakut kelangsungan hidup orangutan tapanuli secara jangka panjang. Bencana ekologis yang baru terjadi di Batang Toru ini menurutnya berdampak kepada orangutan tapanuli terutama beberapa wilayah terjadi longsor yang mengakibatkan penambahan wilayah area habitat yang terfragmentasi.
“Ini tidak bisa dipungkiri. Kemudian barangkali juga ada individu orangutan tapanuli yang ikut terseret menjadi korban longsor,” katanya.
Sebab, orangutan tapanuli hidup di lereng perbukitan yang memang saat ini sudah sangat terdesak. Orangutan tapanuli hidup di lereng yang lebih tinggi karena di dataran rendah sebagian sudah terkonversi atau beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau lahan perkebunan ataupun lahan untuk industri ekstraktif seperti tambang emas dan juga ada PLTA.
“Jadi saya kira, kita perlu melakukan kajian bagaimana dampaknya terhadap orangutan tapanuli. Saya juga sudah mendapat informasi bahwa ada satu foto orangutan tapanuli, tangan orangutan yang difoto yang tertimbun di longsoran di sekitaran hulu Sungai Garoga. Dan kita masih mendalami apakah memungkinkan kita mendapatkan dokumentasi terkait dengan temuan orangutan yang terkubur di salah satu tempat yang menjadi area terdampak longsor dan banjir bandang,” katanya.
Panut menambahkan, dia sangat meyakini bahwa banjir bandang yang mengakibatkan bencana hidrologis dan ekologis ini mengganggu darah aliran sungai (DAS) yang merupakan daerah penting bagi orangutan tapanuli yang sangat bergantung kepada keutuhan ekosistemnya.
Deforestasi, mengganggu kehidupan sosial masyarakat yang ada di sekitaran kawasan hutan. Deforestasi mengakibatkan ketidakseimbangan, kemudian penyakit, sebaran bakteri ataupun virus. Setelah banjir dan longsor, banyak sekali penyakit yang akan timbul. Ini kemungkinan juga berdampak kepada satwa, termasuk orangutan yang memang memiliki keeratan secara genetik dengan manusia
“Hampir 97% genetik orang hutan dan manusia sama, sehingga semua penyakit yang diderita oleh manusia bisa juga diderita oleh orangutan,” katanya.
Kerusakan Kawasan
Menurut Panut, saat ini yang harus dilakukan adalah menyerukan agar hulu, DAS dan kawasan lindung tidak disentuh oleh aktivitas ekstraktif dan juga aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan atau target perluasan pertanian. Pemerintah untuk menata ulang kawasan hutan dan termasuk kawasan APL yang berhutan.
“Kawasan hutan yang sudah dilegalkan sebagai fungsi lindung yang ditetapkan secara undang-undang, tetapi masih banyak harus dilindungi. Area di luar dari kawasan lindung yang berhutan, harus memiliki kepastian hukum terkait dengan perlindungan area yang berhutan ini sebagai bagian dari ekosistem dan juga sebagai areal penyangga,” katanya.
Selain itu, areal APL yang sensitif, berlereng yang saat ini masih sebagai hutan dan juga sedang ditargetkan untuk dibuka untuk perkebunan, pembangkit listrik tenaga air, tambang dan aktivitas ekstraktif lainnya harus dilindungi. Sebagai pelajaran bahwa saat ini juga yang longsor terjadi itu di luar dari kawasan hutan lindung yang masih memiliki kelerengan yang tinggi.
“(kawasan itu) harusnya itu ditetapkan sebagai area hutan lindung, tetapi, ya, karena kebutuhan mendesak, kebutuhan lahan, dan lain sebagainya maka dikeluarkanlah beberapa area yang berbukit ini, yang terjal ini, yang berlereng ini menjadi wilayah APL. Tentu kita mendukung APL ditetapkan, tetapi harus juga dilihat secara fungsi hutan yang sangat akan memberikan pelindungan yang kuat bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, APL berhutan ini pengelolaannya harus berorientasi pada perlindungan DAS. Terutama sepanjang sungai, harus ada larangan pembukaan lahan. “Masyarakat, kita juga sebagai bagian dari civil society organization (CSO) mendorong pemerintah agar penguatan tata ruang. Perencanaan tata ruang yang berbasis keseimbangan ekologis, bukan karena desakan untuk investasi ekstraktif,” katanya.
Tata ruang yang berkeadilan itu sangat penting sebagai dasar dari semua rencana-rencana pembangunan yang ada di ekosistem Batang Toru. Hal itu juga untuk menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat dan juga spesies yang tidak bisa dipisahkan di ekosistem Batang Toru.
“Bila tata ruang tidak sehat, maka bencananya akan datang. Kondisi ekosistem Batang Toru yang rapuh tapi juga penting bagi kelangsungan kehidupan termasuk masyarakat dan juga keanekaragaman hayati di dalamnya, kita mendesak bahwa ekosistem Batang Toru ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional. Ini tidak bisa ditawar lagi,” katanya.
Sebab, mengingat ya pentingnya ekosistem ini secara utuh yang memiliki fungsi sebagai perlindungan bagi keseluruhan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dengan status KSN, menjamin keterlibatan pemerintah pusat dalam pengelolaanya.
Namun saat ini Pemerintah Provinsi Sumatera melalui rancangan peraturan daerah tata ruangnya untuk periode berikutnya malah mengurangi delineasi ekosistem Batang Toru. Di dalam Perda No. 2 2017 tentang Ekosistem Batang Toru itu ditetapkan dengan luasnya 241 ribu hektare, malah dikurangi menjadi 170 ribu hectare.
“Di mana seluruh wilayah ekosistem Batang Toru yang berada di Tapanuli Tengah dan sebagian ada di Tapanuli Selatan itu dikeluarkan dari delineasi ekosistem Batang Toru.
Ini menjadi satu keprihatinan kami, mendesak Pemerintah Provinsi untuk membuat penekanan kembali terhadap pentingnya satu-kesatuan ekosistem Batang Toru yang memang terbukti saat ini bisa menjadi sumber kehidupan dan juga sebagai pencegah bencana,” katanya.
Dikatakanya, saat ini bencana sudah terjadi sebagai akibat rusaknya wilayah di luar kawasan lindung untuk kegiatan ekstraktif. “Kita mendesak juga pemerintah pusat untuk menelaah usulan delineasi ekosistem Batang Toru agar dipertahankan dan bila perlu diperluas sampai ke wilayah atas Tapanuli Tengah, Sorkam, dan wilayah-wilayah penting lainnya di sekitaran wilayah ekosistem Batang Toru ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem Batang Toru sebagai kawasan strategis nasional,” katanya.