TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id — Belum selesai dari bencana banjir bandang dan tanah longsor, sebanyak sebanyak 657 warga Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terpaksa mengungsi setelah permukiman mereka rusak parah akibat bencana tanah bergerak. Tercatat 157 rumah warga mengalami rusak berat dan tidak layak huni.
Fenomena tanah bergerak yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir menyebabkan rumah-rumah warga retak, miring, hingga roboh satu per satu, sehingga tidak lagi aman untuk dihuni. Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar, mengatakan hingga kini 167 rumah warga mengalami kerusakan berat. Dari jumlah tersebut, sekitar 157 rumah dinyatakan tidak layak huni, sementara seluruh warga terdampak telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
“Total warga yang diungsikan sebanyak 186 kepala keluarga,” ujar Ranto kepada wartawan, Senin (15/12/2025).
Selain merusak permukiman, bencana ini juga menghancurkan infrastruktur desa. Jalan aspal utama di Desa Tandihat mengalami retakan parah dan tidak dapat digunakan, sehingga aktivitas warga lumpuh total dan akses keluar-masuk desa terhambat. Di lokasi pengungsian, warga hidup dalam keterbatasan. Sebagian dari mereka telah berada di pengungsian lebih dari dua minggu, dengan kondisi psikologis yang kian tertekan. Seorang warga mengaku tidak pernah merasa tenang sejak mengungsi.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk membangun kembali rumah yang rusak atau menyediakan hunian yang layak dan aman. Mereka menegaskan tidak ada satu pun warga yang berani kembali ke Desa Tandihat karena tanah masih terus bergerak dan dikhawatirkan menimbulkan korban jiwa. Warga menunggu kepastian relokasi dan pemulihan, sembari berharap tragedi ini tidak terus berulang di tengah rentetan bencana yang melanda Tapanuli Selatan.