Ketika hujan ekstrem bertemu hutan rapuh. Di Batang Toru, bencana iklim diduga menewaskan dan memaksa orangutan Tapanuli keluar dari habitat terbaiknya—mendorong spesies ini semakin dekat ke ambang kepunahan.

Ketika 1% Kematian Mendorong Kepunahan, di Batang Toru Ada Puluhan Orangutan Tapanuli Diduga Terdampak Banjir

MEDAN, ForestEarth.id — Hujan lebat, banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tidak bisa pandang sekedar bencana hidrometeorologi biasa. Besarnya dampak sosial, ekologi dan ekonomi sangat besar. Ini adalah bencana terburuk di wilayah sepanjang sejarah.  Tak hanya manusia, hewan ternak hingga satwa liar dilindungi pun terdampak. Para peneliti memperkirakan ada puluhan individu orangutan tapanuli  terdampak. Tragis, karena 1 % kematian dapat mendorong kepunahan penghuni kawasan ekosisten Batang Toru itu. 

Diketahui, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies kera besar endemik di kawasan ekosistem Batang Toru yang paling langka di dunia yang baru diakui secara ilmiah pada 2017. Ada studi terbaru yang dipublikasikan di Preprints.org pada 15 Desember 2025 ditulis oleh Erik Meijaard, Muiz Wafiy , Safwanah Ni’Mattulah , Rona Dennis , Panut Hadisiswoyo , Douglas Sheil , Adrià Descals , David Gaveau , Nabillah Unus , Hjalmar Kühl , Friederike E. L. Otto , Jatna Supriatna , Edvin Aldrian , Serge Wich.

Disebutkan, saat ini diperkirakan kurang dari 800 orangutan Tapanuli yang tersisa di alam liar. Mereka terfragmentasi dalam tiga populasi terisolasi di hutan Batang Toru: Blok Barat, Blok Timur, dan Blok Selatan (Sibual-Buali). Fragmentasi habitat, degradasi hutan, serta tekanan manusia telah lama menggerus daya tahan populasi ini. Sebaran orangutan Tapanuli kini hanya sekitar 2,5–5% dari wilayah jelajah historisnya. 

Mereka bertahan di kawasan perbukitan dan pegunungan, wilayah yang relatif lebih aman dari perburuan tetapi tidak secara ekologis. Laju reproduksi yang sangat lambat—interval kelahiran mencapai 6–9 tahun—orangutan Tapanuli sangat bergantung pada mortalitas yang mendekati nol dan tidak adanya kehilangan habitat. Hingga kemudian pada 23–28 November 2025, Siklon Tropis Senyar membawa curah hujan luar biasa ke sebagian besar Asia Tenggara. 

Di Sumatra saja, lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas akibat banjir dan longsor, sementara ratusan ribuan lainnya mengungsi. Di beberapa lokasi, curah hujan mencapai 1.003 mm hanya dalam lima hari. Peristiwa ini tergolong sangat langka secara klimatologis. Curah hujan lebih dari 150 mm per hari—yang terjadi selama dua hari berturut-turut di Batang Toru—mendekati kejadian berperiode ulang 100 tahunan, bahkan mungkin lebih ekstrem. 

Studi ini menegaskan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan peluang terjadinya hujan ekstrem semacam ini, jauh melampaui pola historis. Di lanskap curam dan rapuh seperti Batang Toru, hujan berintensitas tinggi dengan cepat meningkatkan tekanan air pori tanah, memicu tanah longsor massal, aliran debris, dan runtuhnya kanopi hutan. Bahkan hutan tua yang masih utuh tidak mampu menahan kehancuran ketika ambang kritis ini terlampaui.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-2 dan PlanetScope, para peneliti memetakan dampak bencana di Blok Barat Batang Toru, habitat terbesar yang tersisa bagi orangutan Tapanuli. Hasilnya mengejutkan: 3.964 hektare hutan utuh berubah menjadi tanah terbuka akibat longsor dan erosi banjir—setara dengan 5,76% dari total wilayah studi seluas 71.161 hektare. Karena 36% wilayah tertutup awan pada citra pascabencana, peneliti melakukan ekstrapolasi konservatif. 

Disebutkan, jika area yang tertutup awan memiliki tingkat kerusakan serupa, maka total hutan yang rusak diperkirakan mencapai 6.451 hektare. Di area-area ini, sumber pakan orangutan diperkirakan hampir nol setidaknya selama lima tahun ke depan, hingga hutan pionir kembali tumbuh. Dengan menggabungkan peta kerusakan habitat dan model kepadatan orangutan berbasis grid 1×1 km, para peneliti memperkirakan 33–54 individu orangutan Tapanuli terdampak langsung oleh peristiwa ini. 

Orangutan tapanuli itu diduga mati akibat longsor, tertimpa pohon tumbang, atau tenggelam akibat banjir bandang. Jika estimasi ini benar, maka 6,2–10,5 persen populasi orangutan Tapanuli di Blok Barat hilang hanya dalam satu peristiwa cuaca ekstrem. Angka ini jauh melampaui ambang batas biologis kelangsungan hidup spesies. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa mortalitas tahunan di atas 1 persen saja sudah cukup mendorong orangutan tapanuli menuju kepunahan.

Baca juga: https://forestearth.id/2025/12/12/bangkai-orangutan-tapanuli-di-kebun-sawit/

Para peneliti menyatakan, dampak bencana ini tidak berhenti pada kematian langsung. Kerusakan struktural hutan memperbesar biaya energi pergerakan orangutan yang sangat bergantung pada kanopi utuh. Celah kanopi memaksa individu turun-naik pohon, bentuk pergerakan paling mahal secara metabolik bagi primata besar. Lebih buruk lagi, kerusakan paling parah terjadi di lembah sungai dan dataran rendah, habitat dengan kepadatan orangutan tertinggi. 

Akibatnya, individu yang selamat kemungkinan terdorong ke wilayah elevasi lebih tinggi dengan daya dukung lebih rendah, atau bahkan keluar hutan menuju area pertanian—meningkatkan risiko konflik dengan manusia, cedera, hingga translokasi paksa. Berbeda dengan wabah Ebola yang pernah memusnahkan gorila Afrika tanpa merusak habitat, bencana di Batang Toru menggabungkan kematian langsung dengan kehancuran habitat jangka panjang. 

“Kombinasi ini berpotensi menyeret orangutan Tapanuli ke spiral penurunan populasi yang sulit dihentikan,” ujar peneliti dalam laporan itu.

Para peneliti menegaskan, bencana ini membuka mata tentang kerentanan ekstrem orangutan Tapanuli terhadap perubahan iklim dan kehilangan habitat. Perlindungan yang ada saat ini dinilai belum memadai untuk menjamin kelangsungan hidup spesies ini dalam iklim yang semakin tidak stabil. Mereka mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah tegas: moratorium aktivitas perusak habitat, perluasan kawasan lindung dan koridor ekologis, restorasi hutan dataran rendah, serta penetapan Ekosistem Batang Toru sebagai Kawasan Strategis Nasional. 

Status ini dinilai penting untuk memperkuat perlindungan hukum, mengintegrasikan konservasi dengan pengurangan risiko bencana, dan memastikan pembangunan tidak mengorbankan spesies paling langka di dunia. Krisis orangutan Tapanuli kini bukan hanya soal konservasi satwa, tetapi cerminan pertemuan berbahaya antara krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati. Dalam kondisi populasi yang sangat kecil, satu bencana saja bisa menjadi titik tanpa kembali.

Leave A Comment