MEDAN, ForestEarth.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Utara menekankan pentingnya akses informasi cuaca yang cepat dan akurat sebagai upaya mitigasi agar bencana alam tidak terulang.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Koordinator Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Sumatera Utara, Novel Simanjuntak, dalam forum diskusi yang digelar di Medan, Kamis (5/2/2026).
Novel menjelaskan bahwa BMKG secara konsisten mengumpulkan data curah hujan di seluruh Sumatera Utara untuk dianalisis dan didistribusikan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
“Setiap hari kami menyediakan peta cuaca harian, pembaruan mingguan untuk analisis dan prakiraan, hingga buletin bulanan. Masyarakat dapat mengakses informasi ini dengan mudah melalui situs web resmi, kanal YouTube, maupun aplikasi Info BMKG,” ujar Novel.
Laju Suhu dan Perubahan Perilaku
Di tengah fenomena perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu global secara signifikan, Novel mengajak masyarakat untuk mulai mengubah gaya hidup guna menekan laju kerusakan lingkungan. Ia menyarankan langkah-langkah konkret seperti mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil dan meminimalisir pemakaian plastik.
“Laju kenaikan suhu sekarang sudah semakin meningkat. Kami mengharapkan masyarakat bisa mendapatkan informasi lebih awal melalui kanal-kanal digital kami agar kesiapsiagaan tetap terjaga,” tambahnya.
Kolaborasi Strategis Hadapi Tantangan Masa Depan
Pernyataan dari pihak BMKG ini merupakan bagian dari rangkaian acara bedah buku bertajuk “Menguji Reset Indonesia” karya Dandhy Laksono dkk, yang diselenggarakan oleh Indata Komunika Cemerlang berkolaborasi dengan Green Justice Indonesia (GJI).
Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang, Fika Rahma, menegaskan bahwa diskusi ini adalah refleksi mendalam atas kondisi bangsa. Sementara itu, Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, menambahkan bahwa tragedi banjir dan longsor di penghujung 2025 yang menelan ribuan korban jiwa di Sumatera menunjukkan betapa rentannya wilayah Indonesia terhadap krisis iklim.
“Degradasi lingkungan dan lemahnya mitigasi berbasis komunitas menegaskan bahwa krisis iklim adalah realitas saat ini. Kita butuh ruang dialog yang mempertemukan sains iklim, advokasi lingkungan, dan literasi publik,” pungkas Panut.
Diskusi ini juga menghadirkan perspektif dari berbagai narasumber, mulai dari jurnalis, akademisi, hingga praktisi lingkungan, dengan tujuan melahirkan diskursus yang konstruktif demi kemajuan Indonesia yang lebih baik dan tangguh terhadap bencana.