MEDAN, ForestEarth.id – Diskusi bedah buku “Reset Indonesia” di Serayu Cafe and Space, Medan, Kamis (5/2/2026), menjadi forum penting yang tak hanya mengupas ketimpangan sosial dan pendidikan, tetapi juga memekikkan alarm darurat bagi isu lingkungan hidup di Indonesia.
Suasana haru sempat mewarnai acara saat penulis Benaya Harobu tak kuasa menahan tangis mengungkapkan tragisnya ketidakadilan di dunia pendidikan, namun sorotan terhadap ancaman ekologi tak kalah mendominasi diskusi.
Benaya Harobu mengawali pemaparannya dengan kisah memilukan seorang siswa SD di Ngada, NTT, yang nekat mengakhiri hidup karena ketiadaan biaya sekolah. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Benaya mengecam keras kegagalan negara dalam menjamin hak dasar pendidikan.
“Bagaimana saya tidak terpukul dengan peristiwa ini. Adik saya harus meregang nyawa akibat ketidakadilan dalam sistem pendidikan. Ini menjadi tamparan keras bagi kita yang mau berpikir jernih,” kecam Benaya, sembari menitikkan air mata yang turut menyentuh hadirin.
Namun, diskursus kemudian melebar ke persoalan yang tak kalah krusial: kerusakan lingkungan. Jurnalis investigatif Dhandy Dwi Laksono, rekan penulis buku “Reset Indonesia”, menegaskan bahwa karya ini berupaya menyuarakan berbagai persoalan struktural yang kerap terpinggirkan.
“Buku ini mencoba merekam suara-suara yang sering dibungkam dan mengajak pembaca untuk tidak sekadar menjadi penonton,” ujarnya.
Puncak dari fokus lingkungan hadir dari Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo. Panut secara lugas menyoroti betapa parahnya kerusakan lingkungan yang terus terjadi di berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara. Secara spesifik, ia menunjuk Mandailing Natal sebagai salah satu wilayah yang rentan terhadap ancaman ekologis.
“Tanpa keterlibatan masyarakat, kerusakan lingkungan tidak dapat kita hindari. Ekologi hutan akan terus terancam, alih fungsi lahan terus terjadi, dan masyarakat hanya akan menjadi korban bencana alam,” tegas Panut, memberikan peringatan keras.
Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menolak segala bentuk alih fungsi lahan yang berpotensi merugikan ekosistem dan kehidupan warga.
Ia menekankan bahwa literasi kritis, sebagaimana yang diusung Benaya, tidak hanya relevan untuk isu demokrasi dan pendidikan, tetapi juga krusial untuk membangun kesadaran kolektif terhadap krisis iklim dan lingkungan.
Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang, Fika Rahma, selaku penyelenggara, menambahkan bahwa diskusi ini memantik banyak pertanyaan kritis dari peserta, mulai dari peran media hingga tantangan menyuarakan kebenaran di tengah tekanan kekuasaan.
Diskusi bedah buku “Reset Indonesia” yang turut menghadirkan akademisi Ibnu Avena Matondang serta pegiat literasi Eka Delanta Rehulina dan Ranggini Triono ini menjadi platform vital untuk membangun kesadaran kolektif akan perlunya “mereset” ulang fondasi keadilan sosial dan ekologi di Indonesia.