Pusat Adat Simardangiang Adalah Simbol Kedaulatan Ruang Hidup dan Solusi Krisis Iklim

PAHAE JULU, ForestEarth.id –  Peresmian Pusat Adat dan Sentra Kerajinan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Simardangiang di Tapanuli Utara bukan sekadar perayaan fisik atas berdirinya sebuah bangunan.

Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa gedung ini merupakan “Rumah Kebudayaan” yang merepresentasikan perjalanan panjang leluhur dalam menjaga nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.

Dalam sambutannya yang emosional di Desa Simardangiang, Kamis (12/2/2026), Panut menyebutkan bahwa pusat adat ini adalah bentuk aktualisasi jati diri masyarakat yang harus dijaga oleh generasi muda.

Representasi Jalan Panjang Leluhur

Bagi Panut, bangunan artistik yang baru diresmikan tersebut adalah warisan semangat kebersamaan untuk menciptakan ruang hidup yang sehat dan sejahtera.

“Pusat Adat ini bukan hanya sebuah bangunan fisik. Ini adalah representasi dari jalan panjang para leluhur yang telah mewariskan kearifan, hukum adat, dan semangat perjuangan untuk menciptakan ruang hidup yang baik bagi kita semua,” ujar Panut di hadapan tokoh adat dan jajaran pemerintah daerah.

Ia berharap tempat ini menjadi ruang dialog bagi masyarakat untuk menjunjung tinggi musyawarah, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi penerus tentang asal-usul dan jati diri mereka sebagai masyarakat adat.

Hutan Adat Sebagai Solusi Krisis Global

Satu poin krusial yang ditekankan Panut adalah peran hutan adat dalam menjawab tantangan global saat ini. Menurutnya, interaksi harmonis antara masyarakat dengan wilayah adatnya adalah jawaban atas ancaman eksploitasi alam dan krisis iklim.

“Hutan adat adalah solusi masa depan. Berbagai persoalan yang kita hadapi, mulai dari krisis iklim hingga eksploitasi sumber daya alam, dijawab oleh masyarakat adat melalui perlindungan hutan demi kelestarian alam dan tradisi,” tambahnya.

Melalui keberadaan Pusat Adat ini, diharapkan pengelolaan wilayah adat Simardangiang semakin kuat, memastikan kesejahteraan masyarakat tetap berjalan beriringan dengan kelestarian ekosistem Bukit Barisan.

Apresiasi Gerakan Masyarakat Adat

Sebagai mitra pendamping, Panut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menumpahkan waktu, pikiran, tenaga, hingga dana untuk mewujudkan sarana ini.

Kehadiran tokoh seperti Saurlin Siagian dari Jakarta dan dukungan dari AMAN Tapanuli Utara yang diwakili Edward Siregar, menjadi bukti bahwa gerakan masyarakat adat di Taput semakin solid.

“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang bekerja sama dalam rangka menguatkan gerakan masyarakat adat di Tapanuli Utara ini. Semoga ini menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain,” pungkasnya.

Leave A Comment