JAKARTA, ForestEarth.id – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan mengambil langkah progresif dalam menjaga kedaulatan ekosistem pesisir. Melalui program Mangrove Goes To School (MGTS), generasi muda kini dipersiapkan menjadi “agen perubahan” untuk memastikan rehabilitasi hutan bakau tidak berhenti di satu generasi saja.
Dilansir dari Antara, Senin (2/3/2026), Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan, Nikolas Nugroho Surjobasuindro, menegaskan bahwa kepemimpinan anak muda adalah kunci keberlanjutan lingkungan.
“Rehabilitasi mangrove membutuhkan keberlanjutan lintas generasi. Kami menyiapkan generasi muda yang tidak hanya paham teori, tapi punya keberanian terlibat langsung sebagai pemimpin perubahan,” ujar Nikolas di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Menjangkau 9 Provinsi dalam 4 Bulan
Hanya dalam kurun waktu empat bulan, program MGTS telah bergerak masif menjangkau lebih dari 2.000 peserta. Target utamanya adalah mahasiswa dan pelajar SMA di sembilan provinsi strategis Indonesia.
Beberapa kampus besar yang menjadi motor penggerak program ini antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), IPB University, Universitas Udayana, Universitas Riau, Universitas Jambi, danUniversitas Maritim Raja Ali Haji.
Kampus-kampus tersebut dipilih karena lokasinya yang bersentuhan langsung dengan wilayah pesisir dan Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas nasional.
Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi Nyata
Program MGTS mengemas edukasi lingkungan dengan cara yang dinamis melalui kuliah umum, talkshow interaktif, hingga praktik lapangan.
Peserta diajak memahami peran krusial mangrove sebagai benteng alami pelindung pesisir dari abrasi. Penyerap karbon biru (blue carbon) yang vital bagi iklim global. Serta penggerak ekonomi lokal bagi masyarakat pesisir.
Dampak Instan: Dari Riset hingga Kampanye Digital
Antusiasme yang dihasilkan luar biasa. MGTS tidak hanya meninggalkan pengetahuan, tetapi juga memicu gelombang aksi nyata di kalangan siswa dan mahasiswa.
Hingga saat ini, program tersebut telah melahirkan berbagai inisiatif mandiri, mulai dari penyusunan proposal riset mangrove, kampanye lingkungan kreatif di media sosial, hingga pembentukan komunitas peduli mangrove di berbagai sekolah dan kampus.
Para mahasiswa pun kini mulai terlibat langsung dalam penanaman dan rehabilitasi bakau di daerah asal mereka masing-masing.