JAKARTA, ForestEarth.id – Nama saca inci mungkin masih terdengar asing, namun bagi sebagian petani dan pehobi tanaman di tanah air, tumbuhan bernama latin Plukenetia volubilis ini adalah “emas hijau” baru.
Dikenal juga dengan sebutan kacang gunung atau kacang inka, tanaman merambat asal hutan Amazon ini mulai mencuri perhatian karena nilai ekonominya yang fantastis.
Sejarah mencatat bahwa saca inci telah menjadi bagian dari budaya kuliner suku asli Amazon di Brasil, Kolombia, dan Peru selama 3.000 tahun. Kini, tanaman kerabat singkong ini mulai beradaptasi dengan baik di tanah Indonesia.
Dilansir dari Trubus, Senin (9/3/2026), salah satu ciri paling mencolok dari saca inci adalah bentuk buahnya yang menyerupai bintang dengan empat hingga enam sudut. Menariknya, jumlah sudut ini sering kali menjadi indikator kesuburan tanah; semakin subur lahannya, semakin banyak sudut bintang yang terbentuk.
abar baik bagi para petani, saca inci termasuk tanaman yang sangat produktif. Tanaman mulai berbunga pada usia 3–5 bulan dan dapat dipanen perdana saat menginjak umur 7–8 bulan. Sekali tanam, saca inci bisa terus berproduksi hingga 10–20 tahun, sehingga petani tidak perlu melakukan penanaman ulang dalam waktu singkat.
Kandungan Langka: Omega 3 dari Tumbuhan
Mengapa harganya begitu mahal? Jawabannya ada pada kandungan gizinya. Biji saca inci yang diolah menjadi minyak mengandung Omega 3 dan Omega 9 yang sangat tinggi. Kandungan ini tergolong langka untuk minyak nabati, karena biasanya lebih banyak ditemukan pada minyak hewani seperti minyak ikan.
Daya tarik ekonomi saca inci di pasar lokal sangat menggiurkan. Kacang sangrai/oven dijual dengan harga mencapai Rp200.000 per kg. Sedangkan minyak saca inci harganya bisa menembus Rp1 juta per liter.
Peluang Bisnis dan Tantangan Budidaya
Selain bijinya, daun saca inci juga kaya akan terpenoid dan flavonoid yang bisa dikonsumsi sebagai sayuran setelah dimasak. Tanaman ini relatif mudah tumbuh tanpa perawatan intensif, namun tantangan utama saat ini masih terletak pada ketersediaan benih lokal yang berkualitas.
Sejak benih asal Peru mulai diperbanyak secara generatif di Indonesia pada 2020, ketergantungan pada benih impor dari Thailand atau Vietnam mulai berkurang. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu produsen saca inci yang diperhitungkan di masa depan.