DAIRI, ForestEarth.id – Warga Desa Bongkaras, Kecamatan Silima Pungga Pungga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, dilingkupi rasa cemas. Seekor harimau liar diduga kuat telah keluar dari kawasan hutan dan masuk ke area permukiman, memangsa lima ekor anjing milik warga serta melukai ternak babi dalam satu malam.
Fenomena langka dan mengerikan ini mendadak viral di media sosial setelah warga merekam jejak kaki besar sang “Raja Hutan” yang tertinggal di area perladangan.
Dilansir dari Detik Sumut, Selasa (7/4/2026), Kepala Desa Bongkaras, Arion Sihaloho, mengonfirmasi bahwa peristiwa mencekam tersebut terjadi pada Rabu (1/4/2026). Setelah menerima laporan yang menggegerkan, pihak desa langsung turun ke lokasi untuk melakukan verifikasi.
“Iya, benar. Saya langsung ke tempat kejadian perkara (TKP) pada Jumat (3/4/2026) untuk melihat jejak dan mengambil dokumentasi. Menurut laporan warga, harimau itu memangsa sekaligus lima ekor anjing—tiga dewasa dan dua anak anjing—dalam satu hari itu juga,” ujar Arion, Senin (6/4/2026).
Tak hanya anjing, seekor babi ternak warga juga ditemukan dalam kondisi terluka parah akibat sabetan cakar tajam satwa dilindungi tersebut.
Diduga Akibat Rantai Makanan Hutan Terganggu
Kemunculan harimau di permukiman ini merupakan kejadian pertama dalam beberapa tahun terakhir di Desa Bongkaras. Arion menduga, satwa tersebut terpaksa turun gunung karena habitat aslinya sudah tidak mampu lagi menyediakan sumber makanan yang cukup.
“Ini yang pertama kali terjadi. Jejaknya terlihat jelas keluar dari kawasan hutan. Diduga ada gangguan pada rantai makanan di habitatnya, sehingga ia mencari mangsa hingga ke rumah-rumah warga,” jelasnya.
Warga Takut Meladang, Pihak Berwenang Bertindak
Kehadiran harimau ini praktis melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Banyak petani kini takut pergi ke ladang karena khawatir bertemu langsung dengan sang pemangsa. Masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan evakuasi atau penghalauan agar harimau tersebut kembali ke dalam hutan tanpa harus ada korban jiwa manusia.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak berwenang (BKSDA) untuk mengatasi masalah ini agar tidak terulang kembali dan situasi desa bisa kembali kondusif,” pungkas Arion.