KATHMANDU, ForestEarth.id – Korban jiwa kembali berjatuhan di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah tersebut pada Rabu (26/8/2026), menyebabkan sedikitnya 165 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya hilang akibat tersapu material es, batu, serta lumpur yang meluncur deras dari dataran tinggi Himalaya.
Tragedi ini menjadi kabar duka teranyar dari serangkaian bencana serupa yang terus berulang. Berdasarkan catatan historis, banjir mencakup sekitar seperlima dari total bencana di Nepal, tetapi menyumbang hampir setengah dari keseluruhan korban jiwa. Dari 7,4 juta kematian akibat bencana sepanjang kurun 1900 hingga 2005, sekitar 3,2 juta jiwa melayang akibat banjir, dengan konsentrasi dampak terbesar berada di wilayah dataran rendah Tarai.
Kerentanan ekstrem ini dipicu oleh karakter iklim dan kondisi geografis Nepal yang unik. Negeri yang membentang di sepanjang Pegunungan Himalaya ini menerima sebagian besar curah hujan tahunan dalam durasi yang sangat singkat.
“Nepal menjadi salah satu negara yang sangat rentan dilanda banjir, terutama saat musim monsun. Sekitar 80 persen curah hujan tahunan terjadi pada periode Juni hingga September, sehingga hujan deras dalam waktu singkat dapat dengan cepat meningkatkan debit sungai dan memicu luapan,” tulis laporan hidrologi dan mitigasi bencana regional, seperti dilansir dari berbagai sumber, Kamis (27/8/2026).
Kondisi topografi dengan lereng pegunungan yang curam membuat air hujan mengalir sangat deras menuju lembah, sekaligus memicu longsoran tanah yang kerap membendung aliran sungai. Ketika bendungan alami tersebut jebol, terjadilah banjir bandang bercampur material lapuk yang menghancurkan semua di jalurnya.
Risiko alami tersebut makin diperparah oleh keberadaan sekitar 6.000 sungai dan anak sungai, fenomena pencairan gletser akibat krisis iklim yang membentuk banjir danau glasial, serta faktor tekanan populasi. Keterbatasan lahan datar memaksa banyak warga membangun pemukiman di bantaran sungai dan lereng rawan.
Dampak ekonomi dari ancaman yang terus membayang ini sangat memukul negara pegunungan tersebut. Selain merenggut ratusan nyawa dan memaksa ribuan warga mengungsi, bencana seperti banjir ekstrem akhir 2024 lalu terbukti melumpuhkan jaringan transportasi serta pembangkit listrik tenaga air. Kerugian material akibat kehancuran infrastruktur tersebut bahkan ditaksir menggerus hingga satu persen dari total Produk Domestik Bruto Nepal.
Sebelumnya diberitakan, bencana maut ini terjadi bersamaan dengan perayaan festival lokal Janai Purnima. Meskipun periode monsun kurang ideal untuk wisata alam, saat ini justru menjadi puncak musim pendakian menuju Gunung Kailash di Tibet melalui rute Distrik Rasuwa.
Pada Rabu (26/8/2026), pejabat Nepal mengonfirmasi setidaknya 403 orang, termasuk 341 warga negara asing, hilang di jalur tersebut. Sunil Sharma, juru bicara badan pariwisata setempat, merinci bahwa 133 orang di antaranya adalah warga India yang sedang berziarah ke Gunung Kailash—situs suci bagi umat Hindu.
Selain warga India, daftar korban hilang juga mencakup, Amerika Serikat 47 warga negara (Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi tengah memantau situasi secara intensif). Australia 34 warga negara. Inggris 33 warga negara. Kanada 24 warga negara. Malaysia 11 warga negara (dikonfirmasi hilang kontak oleh Kemenlu Malaysia). Korea Selatan 9 pekerja proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air. Dan Rusia 4 warga negara (dikonfirmasi Kedubes Rusia di Nepal).
Selain itu, Sharma menambahkan sedikitnya 62 warga Nepal yang hilang sedang melakukan pendakian (trekking) di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa. Distrik yang berbatasan langsung dengan Gyirong, Tibet, ini merupakan kawasan yang dihantam dampak terparah.
Juru bicara Kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, juga mengungkapkan bahwa sedikitnya 28 personel kepolisian turut dilaporkan hilang.

