MEDAN, ForestEarth.id — Empat kecamatan di Kota Medan terendam setelah hujan deras mengguyur sejak Rabu (28/10/2026) malam hingga Kamis (29/10/2026) dini hari. Luapan Sungai Deli, Sungai Babura dan Sungai Belawan menyebabkan ribuan rumah di sejumlah wilayah terendam.
Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, sebanyak 562 warga mengungsi dan 22 orang dievakuasi dari rumah mereka karena ketinggian air membahayakan. Empat kecamatan terdampak, yakni Medan Selayang, Medan Maimun, Medan Johor dan Medan Helvetia.
Para pengungsi terdiri atas 39 balita, 170 anak-anak, 270 orang dewasa, 82 lansia dan satu penyandang disabilitas. Genangan terdalam mencapai sekitar 1,5 meter, terutama di Kelurahan Sei Mati dan Aur, Kecamatan Medan Maimun. Di Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor, ketinggian air mencapai sekitar satu meter.
Dari 22 warga yang dievakuasi, 10 orang berasal dari Kelurahan Sei Mati, lima orang dari Kelurahan Aur dan tujuh orang dari Kelurahan Kwala Bekala.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi. Menurut Rico, ancaman banjir tidak hanya berasal dari hujan yang turun di wilayah Kota Medan. Hujan deras di kawasan hulu juga dapat meningkatkan debit sungai dan mengirimkan air ke wilayah perkotaan.
Ia menyebut debit air sungai sempat meningkat sekitar 50–60 sentimeter dalam beberapa hari sebelumnya, meskipun hujan lebat tidak terjadi di Kota Medan. “Hujan di hulu saja bisa menyebabkan air kita bisa naik, bagaimana lagi apabila terjadi hujan yang cukup lebat juga terjadi di kota Medan,” kata Rico dalam rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi di Balai Kota Medan, Rabu (28/10/2026).
Karena itu, pemantauan kawasan hulu menjadi bagian penting dalam sistem peringatan dini banjir Kota Medan, termasuk kawasan Medan Tuntungan dan Medan Selayang.
Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul Harus Jelas
Rico meminta BPBD bersama pemerintah kecamatan dan kelurahan memastikan jalur evakuasi dan titik kumpul warga tersedia serta diketahui masyarakat. Setiap lokasi juga harus memiliki penanggung jawab lapangan dan nomor kontak darurat yang aktif. Hal ini dinilai penting agar evakuasi tidak baru direncanakan ketika banjir telah meluas.
Pemko Medan juga meminta kesiapan sarana evakuasi, termasuk perahu karet dan perahu bermesin, serta ketersediaan logistik pangan di setiap kecamatan. Pemerintah kota sebelumnya telah menyiagakan 23 perahu karet untuk mendukung evakuasi warga. Pemko juga menggandeng komunitas offroad untuk membantu mobilisasi dan evakuasi di wilayah yang sulit dijangkau.
“Jangan sampai kita kalang kabut,” ujar Rico, mengingat pengalaman banjir besar yang melanda Kota Medan pada November 2025.
Selain evakuasi dan logistik, sistem komunikasi darurat juga menjadi perhatian Pemko Medan. Pengalaman banjir November 2025 menunjukkan gangguan infrastruktur dapat memperlambat penanganan. Saat itu, sejumlah gardu listrik terendam dan gangguan jaringan komunikasi terjadi di kawasan Medan bagian utara.
Karena itu, Dinas Komunikasi dan Informatika diminta menyiapkan jaringan alternatif, termasuk perangkat komunikasi berbasis satelit seperti Starlink di lokasi yang membutuhkan dukungan konektivitas darurat. Menurut Rico, komunikasi yang tetap berfungsi dibutuhkan untuk memastikan koordinasi antarinstansi, penyampaian informasi kepada warga dan proses evakuasi dapat berlangsung ketika jaringan komunikasi reguler terganggu.
Musim Hujan dan Ancaman Banjir Susulan
Kepala Balai BMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho menyebut Sumatera Utara telah memasuki musim hujan sejak Oktober dan periode tersebut diperkirakan berlangsung hingga Desember. BMKG juga mengingatkan potensi cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang tidak menentu.
Masyarakat diminta mengikuti informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG. Sementara itu, BPBD Kota Medan menyiagakan 53 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk mendukung penanganan dan evakuasi di 21 kecamatan.
Kepala BPBD Kota Medan Yunita Sari mengingatkan warga agar tidak menunggu petugas apabila kondisi rumah mulai membahayakan. Warga diminta bersiap melakukan evakuasi mandiri dan menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar serta dokumen penting.
Kesiapsiagaan tersebut menjadi semakin penting karena banjir yang terjadi pada 29 Oktober menunjukkan bahwa ancaman tidak hanya bersumber dari hujan lokal, tetapi juga dari peningkatan debit sungai akibat kondisi di kawasan hulu.

