PEKANBARU, ForestEarth.id – Belum genap sepekan setelah seorang bocah berusia 12 tahun tewas diduga diserang Harimau Sumatera, seorang pria berusia 29 tahun kembali menjadi korban di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Korban kedua bernama Eko Prasetyo (29). Ia dilaporkan tewas setelah diduga diterkam Harimau Sumatera pada Jumat (10/7/2026) malam di area camp pekerja yang berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi serangan pertama. Jenazah korban ditemukan keesokan harinya dalam kondisi mengenaskan.
“Sebagian tubuh korban juga telah dimangsa harimau,” ujar Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Laskar Jaya Permana, di Pekanbaru, Senin, dikutip dari Kompas.com.
Sebelumnya, pada Selasa dini hari (7/7/2026), seorang anak berinisial JZ (12) tewas setelah diduga diserang Harimau Sumatera saat menunggu kakaknya mencuci peralatan makan di kamar mandi belakang camp pekerja. Korban sempat berteriak sebelum ditemukan sekitar 10 meter dari lokasi awal dengan luka parah di bagian leher. Meski sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan, nyawanya tidak tertolong.
Menyusul dua kejadian tersebut, BBKSDA Riau mengambil langkah mitigasi dengan memasang dua kandang jebak di sekitar lokasi serangan. Upaya ini dilakukan untuk menangkap harimau yang diduga terlibat dalam kedua insiden tersebut sekaligus mencegah jatuhnya korban berikutnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lapangan, BBKSDA Riau menduga kedua serangan dilakukan oleh individu harimau yang sama. “Kesimpulan sementara diperoleh dari hasil pemeriksaan jejak di lapangan yang memiliki ukuran dan karakteristik yang sama. Namun, identifikasi masih terus dilakukan untuk memastikan apakah benar individu yang sama,” kata Laskar.
Harimau tersebut diperkirakan merupakan individu jantan berusia sekitar tiga tahun. Meski demikian, proses identifikasi masih terus dilakukan untuk memastikan jenis kelamin maupun identitas individu tersebut. BBKSDA Riau mengimbau masyarakat, khususnya pekerja di kawasan HTI, agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas di luar ruangan pada malam hari selama proses penanganan berlangsung.


