Hot Topics

Ekspor Perdana Jadi Momentum Marancar Godang Naik Kelas

TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id – Pelepasan ekspor perdana kopi Tapanuli Selatan ke Singapura menjadi momentum bagi Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat dan memperluas akses pasar produk desa.

Kepala Desa Marancar Godang, Ade Zonri Siregar, mengatakan ekspor perdana tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan kopi masyarakat. Ia berharap keberhasilan kopi menembus pasar internasional dapat membuka peluang lebih luas bagi produk pertanian lainnya yang dihasilkan masyarakat desa.

Hal itu disampaikan Ade dalam kegiatan diskusi, peresmian rumah produksi atau dry house kopi, penanaman bibit kopi secara simbolis, dan pelepasan ekspor perdana kopi Tapanuli Selatan ke Singapura di Desa Marancar Godang, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut diinisiasi Green Justice Indonesia (GJI) bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Permata Hijau. Selain Ade, kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh, di antaranya Direktur GJI Panut Hadisiswoyo, jurnalis senior Tikwan Raya Siregar, Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan Sofyan Adil yang mewakili Bupati Tapanuli Selatan, serta tokoh konservasi dan mantan Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M. Pasaribu.

Menurut Ade, dukungan terhadap pengembangan kopi di Marancar tidak hanya berdampak pada satu komoditas. Ia menyebut masyarakat juga memiliki potensi pertanian lain yang dapat dikembangkan, seperti bawang dan kentang.

“Di sini ada bawang, ada juga kentang. Mohon kami nanti di Desa Marancar Godang, Gunung Binanga dan juga empat desa lainnya agar diarahkan dan dibantu,” ujar Ade dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Direktur GJI Panut Hadisiswoyo yang dinilai telah mendukung program LPHD di Desa Marancar Godang dan desa-desa lainnya di Kecamatan Marancar.

Ekspor kopi menjadi salah satu hasil dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, rumah produksi atau dry house kopi diresmikan untuk mendukung proses pengolahan pascapanen.

Direktur GJI Panut Hadisiswoyo mengatakan pengembangan kopi di Marancar merupakan bagian dari strategi membangun ekonomi masyarakat melalui pertanian regeneratif dan agroforestri yang tetap bersinergi dengan alam.

GJI telah mendukung pengembangan sekitar 80.000 bibit kopi robusta dan arabika melalui empat LPHD dan satu KTH. Potensi pengembangan kopi dari kelompok-kelompok tersebut diperkirakan mencapai hampir 700 hektare.

Sementara itu, jurnalis senior Tikwan Raya Siregar menekankan bahwa pengembangan kopi di hutan desa tidak semata-mata mengejar produksi. Menurutnya, kawasan harus dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus tetap mempertahankan fungsi ekologisnya.

“Pengembangan kopi ini bukan hanya soal produksi, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi sekaligus kawasan tetap terjaga,” kata Tikwan.

Dari sisi pemerintah daerah, Sekda Tapanuli Selatan Sofyan Adil mendorong pengembangan kopi tidak berhenti pada penjualan green bean. Ia menilai rumah produksi perlu menjadi bagian dari proses hilirisasi, peningkatan kualitas, pengemasan, hingga standardisasi produk.

Sofyan juga berharap rumah produksi dapat menjadi ruang kolaborasi, tempat belajar, dan inkubator bisnis bagi UMKM, pelaku ekonomi kreatif, serta generasi muda.

Sementara itu, Syahrul M. Pasaribu mengingatkan agar pengembangan ekonomi di kawasan hutan tetap memperhatikan aspek legalitas dan ketentuan pemanfaatan kawasan. Menurutnya, pemanfaatan hutan produksi oleh masyarakat harus memiliki dasar perizinan yang jelas agar pengembangan ekonomi tidak menimbulkan persoalan baru dalam pengelolaan kawasan.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 2,5 ton kopi Tapanuli Selatan disiapkan untuk diekspor ke Singapura pada awal September 2026.

Bagi Ade Zonri Siregar, langkah tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar produk masyarakat. Keberhasilan kopi memasuki pasar internasional diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap produk desa sekaligus membuka peluang bagi komoditas lainnya.

Dengan adanya rumah produksi, masyarakat tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bahan mentah, tetapi juga meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk sebelum dipasarkan. Ekspor perdana kopi menjadi penanda bahwa potensi desa dapat dikembangkan lebih jauh melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, organisasi pendamping, dan pelaku pasar.

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.