Hot Topics

Ekonomi Masyarakat Harus Menjadi Bagian dari Strategi Konservasi

TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id — Upaya menjaga kawasan hutan tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konservasi. Penguatan ekonomi masyarakat yang hidup dan mengelola kawasan juga menjadi bagian penting agar perlindungan lingkungan dapat berjalan dalam jangka panjang.

Hal tersebut disampaikan Direktur Green Justice Indonesia (GJI) Panut Hadisiswoyo dalam kegiatan peresmian rumah produksi atau dry house kopi, penanaman bibit, dan pelepasan ekspor perdana kopi Tapanuli Selatan di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Jumat (28/8/2026).

Panut mengatakan GJI berupaya membangun model pengelolaan yang mempertemukan kepentingan ekonomi masyarakat dengan perlindungan lingkungan. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki ruang untuk memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan yang dikelola tanpa memberikan dampak negatif terhadap ekosistem.

“Bagaimana masyarakat memang memiliki motivasi sendiri. Itu yang menjadi kunci,” kata Panut.

Ia menilai masyarakat Marancar telah memiliki inisiatif dan semangat untuk mengembangkan kawasan mereka. GJI, menurut Panut, lebih banyak berperan sebagai pendukung dan penghubung bersama pemerintah serta para pihak lainnya. “Jadi bukan kami yang giat. Warga di Marancar ini semua memang giat,” ujarnya.

Salah satu bentuk penguatan ekonomi tersebut dilakukan melalui pengembangan kopi berbasis pertanian regeneratif dan agroforestri. GJI telah mendukung penyediaan sekitar 80.000 bibit kopi untuk empat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan satu Kelompok Tani Hutan (KTH). Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 60.000 bibit berhasil tumbuh.

Usai peresmian dry house LPHD Permata Hijau, seluruh narasumber diskusi melakukan penanaman bibit kopi secara simbolis.
Usai peresmian dry house LPHD Permata Hijau, seluruh narasumber diskusi melakukan penanaman bibit kopi secara simbolis.

Potensi pengembangan kopi dari empat LPHD dan satu KTH tersebut diperkirakan mencapai hampir 700 hektare. LPHD Permata Hijau di Marancar Godang sendiri memiliki wilayah kelola sekitar 198 hektare, sementara Desa Sugi sekitar 80 hektare. Panut memperkirakan Marancar memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu sentra kopi penting di Tapanuli Selatan.

“Marancar ini akan sangat jadi primadona kopi,” ujarnya.

Namun, pengembangan komoditas tidak berhenti pada penanaman. GJI juga berupaya membangun rantai usaha dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bibit, budidaya, pengolahan pascapanen, hingga akses pasar. Peresmian dry house dan fasilitas pengolahan kopi menjadi bagian dari upaya tersebut. Fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sekaligus nilai tambah kopi yang dihasilkan masyarakat.

“Bagi kita ini adalah usaha strategis kita bagaimana kita menjaga alam melalui sistem pertanian regeneratif, pertanian yang memang bernuansa kepada agroforestri dan juga bersinergi dengan alam,” kata Panut.

Menurut Panut, membangun produksi tanpa membangun pasar tidak cukup. Karena itu, GJI juga memfasilitasi pertemuan masyarakat dengan calon pembeli untuk membuka akses pasar kopi Marancar. Salah satunya adalah calon pembeli dari Singapura. Dari proses tersebut, sebanyak 2,5 ton kopi Tapanuli Selatan akan dikirim ke Singapura pada awal September 2026.

Panut menyebut pengiriman tersebut merupakan langkah awal untuk mengembangkan pasar yang lebih luas. Ia menjelaskan, pasar dapat berkembang ketika kualitas produk mulai dikenal oleh pembeli lainnya. Karena itu, pengembangan kopi perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan berhenti pada satu kali pengiriman.

“Ini langkah awal kita untuk terus mengembangkan pasar. Kita ingin bekerja dari hulu sampai ke hilir. Bagaimana kita mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan, tapi kemudian kita juga menciptakan pasarnya,” ujar Panut.

Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo bersama praktisi kopi, Wahid Harahap menunjukkan jenis kopi robusta yang dijemur di dry house di LPHD Permata Hijau kepada tokoh konservasi, M. Syahrul Pasaribu pada Jumat (28/8/2026).
Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo bersama praktisi kopi, Wahid Harahap menunjukkan jenis kopi robusta yang dijemur di dry house di LPHD Permata Hijau kepada tokoh konservasi, M. Syahrul Pasaribu pada Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi penting dalam konteks konservasi. Ketika masyarakat memperoleh penghasilan melalui praktik pertanian yang ramah lingkungan, kepentingan ekonomi mereka dapat berjalan seiring dengan kepentingan menjaga alam.

Panut melihat Marancar memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi hijau karena kawasan ini memperlihatkan hubungan antara masyarakat dan ekosistem yang masih relatif terjaga. Ia mengatakan berbagai upaya konservasi dan pertanian berkelanjutan di Marancar telah dimulai sejak sebelumnya. GJI, menurutnya, hadir untuk melanjutkan dan memperkuat inisiatif yang sudah tumbuh di masyarakat.

Pengalaman tersebut menjadi dasar untuk membangun model pengelolaan yang menggabungkan perlindungan alam, penguatan ekonomi, serta kelembagaan masyarakat. “Bagaimana bisa bersama-sama dengan masyarakat membangun masyarakat, membangun desa, membangun kawasan ini yang memang sesuai dengan pengelolaannya tanpa memberikan dampak negatif,” ujarnya.

Panut juga menyinggung pentingnya pengetahuan lokal dalam menjaga hubungan masyarakat dengan alam. Menurutnya, nilai-nilai yang telah diwariskan generasi sebelumnya perlu diteruskan kepada generasi muda sebagai bagian dari keberlanjutan pengelolaan kawasan.

Bagi GJI, pengembangan kopi di Marancar pada akhirnya bukan semata-mata proyek komoditas. Bibit, lahan, rumah produksi, hingga pasar merupakan bagian dari satu rantai yang diarahkan untuk menciptakan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan lingkungan. “Jaga alam, maka alam menjaga kita,” kata Panut.

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.