SAMPIT, ForestEarth.id – Sebuah aksi penyelamatan dramatis terhadap keanekaragaman hayati Indonesia baru saja berlangsung di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah Kalimantan Tengah.
Dilansir dari Antara, Kamis (3/9/2026), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng bekerja sama dengan Orangutan Foundation International (OFI) berhasil menyelematkan seekor induk dan anak orangutan yang terjebak di atas pohon tinggi di tengah-tengah lahan gambut yang baru saja hangus terbakar di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Keberadaan pasangan primata dilindungi yang bertahan di tengah kepungan sisa-sisa api dan asap pekat ini pertama kali terdeteksi oleh aparat keamanan yang tengah bertugas menjaga wilayah dari karhutla.
Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menceritakan bahwa laporan awal mengenai keberadaan satwa tersebut diperoleh dari seorang anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli rutin karhutla pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
“Awalnya kami mendapat laporan dari anggota TNI bernama Husin yang sedang melakukan patroli kebakaran hutan dan lahan, ada satu individu orangutan yang terjebak di areal bekas kebakaran,” kata Muriansyah.
Menerima informasi berharga itu, Muriansyah bersama personel TNI langsung bergerak menuju lokasi untuk memastikan kondisi satwa. Medan yang dihadapi sangat sulit dan berbahaya karena tanah gambut di bawah pohon tempat orangutan berlindung masih membara dan memancarkan hawa panas serta asap tebal.
Setelah memastikan keberadaan primata tersebut dan berkoordinasi secara intensif dengan BKSDA Kalteng Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pangkalan Bun, tim gabungan dari BKSDA dan OFI langsung diberangkatkan menuju titik koordinat.
Meski tim baru sampai ketika hari sudah gelap gulita dan area sekitar sama sekali tidak memiliki fasilitas penerangan, keputusan untuk segera melakukan eksekusi evakuasi tetap diambil demi keselamatan satwa.
Mengandalkan penerangan seadanya dari senter dan lampu portabel, tim gabungan mulai menyisir area pohon tempat sasaran berada. Pada saat itulah petugas baru menyadari bahwa di atas pohon tersebut ternyata terdapat dua individu orangutan, yakni seorang induk yang sedang memeluk erat anaknya.
Proses evakuasi yang menegangkan dilakukan dengan penuh kehati-hatian tinggi diawali dengan prosedur pembiusan yang terukur agar satwa tidak jatuh terhempas atau mengalami cedera. Berkat kesiapan peralatan dan profesionalisme petugas di lapangan, seluruh rangkaian tindakan pembiusan hingga penurunan induk dan anak orangutan tersebut berlangsung sangat singkat dan efisien, yakni hanya memakan waktu sekitar 47 menit dari pukul 21.00 WIB hingga 21.47 WIB.
Pasca berhasil diturunkan dengan selamat, kedua satwa eksotis yang kemudian diberi nama Raya untuk sang induk dan Rayu untuk anaknya, diambil dari nama lokasi Jalan Sawit Raya, langsung mendapatkan penanganan serta pemeriksaan medis maraton oleh tim medis hewan dari OFI.
Berdasarkan hasil observasi awal di lapangan, kondisi fisik pasangan ibu dan anak ini secara umum relatif stabil dan tidak mengalami luka bakar serius meski berada cukup lama di lokasi berisiko tinggi.
Dokter hewan OFI, Ichlasul Khaerul, mengonfirmasi perkembangan positif tersebut seusai tim melakukan pemeriksaan vitalitas.
“Alhamdulillah, setelah kami melakukan evakuasi, evaluasi dan observasi terhadap orangutan yang kami rescue kondisinya masih terlihat baik,” ucap Ichlasul Khaerul.
Respons alami dan refleks aktif dari Raya maupun Rayu menandakan bahwa keduanya belum terpapar dampak buruk asap tebal secara permanen.
Saat ini BKSDA Kalteng sedang menyiapkan langkah lanjutan untuk menentukan masa depan Raya dan Rayu setelah evaluasi medis menyeluruh selesai dilakukan. Jika seluruh indikator kesehatan menunjukkan hasil yang optimal, kedua orangutan ini akan secepatnya dikembalikan ke habitat alam liar yang aman dari ancaman karhutla dan aktivitas manusia.
Muriansyah menegaskan opsi lokasi pelepasliaran yang kini sedang dikaji oleh pihak berwenang. “Kalau misalkan sehat, maka orangutan ini akan segera kami lepasliarkan. Biasanya ada dua lokasi yang menjadi pilihan, yakni Taman Nasional Tanjung Puting dan Suaka Margasatwa di Lamandau,” sebutnya. Penyelamatan ini menjadi pengingat krusial akan pentingnya pencegahan karhutla demi kelestarian satwa langka Indonesia.


