KARO, ForestEarth.id – Ancaman erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dipastikan belum mereda meski sempat terlihat tenang di permukaan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa letusan yang terjadi baru-baru ini merupakan awal dari fase baru aktivitas vulkanik setelah gunung tersebut terlelap selama 4 tahun.
Meskipun secara visual tidak teramati adanya letusan besar susulan pada hari ini, sinyal bahaya dari perut bumi justru terus mengepul. Pemantauan ketat mendeteksi kemunculan hembusan asap yang menebal dan menghitam, titik api di area puncak, hingga aktivitas getaran atau tremor yang berlangsung secara terus-menerus tanpa henti sejak awal pekan ini. Kondisi tersebut menandakan tingginya tekanan magma di dalam tubuh Gunung Sinabung.
Pihak PVMBG menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan sistem dapur magma yang sangat dinamis. Kembalinya aktivitas Sinabung setelah berhenti cukup lama menjadi sinyal penting agar seluruh pihak tidak mengendurkan kewaspadaan, mengingat proses pengisian dan pengeluaran magma di tiap gunung api bekerja dengan mekanisme yang unik.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi RI, Rita Susilawati, Rabu (2/9/2026) memberikan penegasan terkait dinamika vulkanik Gunung Sinabung yang perlu diantisipasi oleh masyarakat.
“Saya ingin menyampaikan sepintas ya, gunung api Sinabung ini, per hari ini itu tidak ada erupsi ya, tapi kita masih mengamati ada asap, ada titik api juga, tremor masih teramati terus-menerus. Jadi ini kan belum menunjukkan bahwa menurun, justru kalau berdasarkan para ahli, kalau baru awal gitu setelah 4 tahun berhenti erupsi, erupsi satu itu seperti baru awal, oleh karena itu ini perlu kewaspadaan, kesiapsiagaan masyarakat,” kata Rita Susilawati.
Rita menuturkan bahwa perbedaan karakter antar-gunung api sangat dipengaruhi oleh kondisi dapur magmanya masing-masing.
“Tiap gunung sekali lagi berbeda-beda. Ada yang mungkin dia itu diam dulu, kemudian erupsi, tetapi ada juga yang dia erupsinya terus-menerus, dilepaskan terus-menerus. Itulah memang yang terjadi, karena dapurnya itu ada aktivitas tersendiri. Karakteristiknya berbeda-beda, sistem magmanya berbeda-beda, sehingga itu yang menyebabkan dia bisa langsung erupsi terus-terusan, misalnya erupsi kemudian berhenti, sistem magma atau sistem vulkanisme di dalam tubuh gunung api tersebut,” ungkapnya.
Mengenai intensitas kegempaan yang terukur dari pos pengamatan, Rita menambahkan bahwa getaran di dalam perut gunung masih sangat aktif.
“Kalau tremornya itu menerus, jadi dia tidak berhenti selama sejak letusan di tanggal 31 itu, sampai hari ini tidak berhenti, tapi amplitudonya sempat mengecil. Tetapi tadi sekitar jam 8 pagi itu, amplitudonya membesar lagi, dan itu ditandai dengan hembusan asapnya menebal, dan warnanya juga semakin menghitam. Kalau angka tepatnya ada di Magma, bisa dicek itu kegempaannya, tapi memang vulkaniknya masih tinggi, cukup tinggi dibandingkan biasanya ketika dia statusnya masih waspada,” kata Rita.
Mengingat arah sebaran abu vulkanik yang sangat bergantung pada pergerakan angin serta jangkauan ancaman yang dominan mengarah ke sektor timur laut, PVMBG meminta warga dan pengungsi untuk tetap disiplin mematuhi radius zona bahaya yang telah ditetapkan demi menghindari risiko jatuhnya korban jiwa.

