JAKARTA, ForestEarth.id – Rangkaian gelombang panas ekstrem yang menerjang berbagai belahan bumi sepanjang musim panas ini meninggalkan jejak kerusakan yang sulit dibantah. Jerman mencatat sekitar 14.000 kematian terkait cuaca panas, dengan hampir dua pertiganya terjadi hanya dalam satu pekan yang sangat terik pada bulan Juni.
Dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (1/9/2026), di sektor ekonomi, sebuah bank di Belanda memperkirakan Uni Eropa kehilangan nilai Produk Domestik Bruto hingga €180 miliar akibat paparan suhu tinggi.
Sementara itu, para petani di Eropa harus merelakan sekitar 9 juta ton hasil panen serealia lenyap dalam waktu singkat. Dampak nyata ini semakin menyulitkan upaya skeptis untuk memalingkan mata dari realitas krisis iklim.
Namun, hantaman data dan penderitaan masyarakat tidak menghentikan politisi kanan populis di berbagai negara untuk menyuarakan narasi penyangkalan. Richard Tice, wakil pemimpin Partai Reformasi Inggris, secara terbuka meremehkan krisis ini.
“Perubahan iklim sudah selalu terjadi dan akan selalu terjadi,” kata Richard Tice. Ia bahkan menilai bahwa manusia sangat arogan jika merasa mampu menghentikannya, seraya mendorong masyarakat Inggris untuk menikmati cuaca panas tersebut.
Sikap serupa terdengar dari seberang Samudra Atlantik. Harriet Hageman, politikus Partai Republik yang berpotensi menjadi senator Wyoming, menyebut lonjakan suhu di Eropa sebagai hal yang lumrah.
“Ini namanya musim panas. Ada tahun-tahun yang lebih panas daripada tahun lainnya, dan ada tahun-tahun yang lebih dingin daripada tahun lainnya. Itulah sifat siklus cuaca,” ujar Harriet Hageman.
Di Jerman, Tino Chrupalla selaku salah satu ketua partai AfD turut melabeli krisis ini sebagai fenomena biasa. Ia menyebut periode terik tersebut sebagai “musim panas yang sepenuhnya normal” dan menganggap isu perubahan iklim sekadar isu yang dibesar-besarkan.
Klaim para politisi tersebut gugur saat diuji secara ilmiah. NASA menegaskan bahwa aktivitas manusia adalah dalang utama pemanasan global.
“Bukti ilmiah terus menunjukkan bahwa aktivitas manusia (terutama pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia) telah menghangatkan permukaan Bumi dan cekungan samuderanya, yang pada gurunnya terus memengaruhi iklim Bumi,” tegas NASA dalam pernyataannya.
Lembaga pemantau iklim dunia seperti NOAA, Copernicus Climate Change Service, dan Japan Meteorological Agency mengonfirmasi bahwa bulan lalu mencatatkan rekor sebagai bulan terpanas atau terpanas kedua sepanjang sejarah pencatatan. Di Amerika Utara, Afrika, dan Asia, suhu Juli lalu memecahkan rekor tertinggi.
Daratan utama Amerika Serikat bahkan melampaui rekor suhu tertinggi bulan Juli yang sebelumnya bertahan sejak fenomena Dust Bowl tahun 1936 dan gelombang panas 2012. Di lautan, suhu rata-rata permukaan laut harian menembus angka tertinggi sejak 1979, yakni mencapai 21,1 derajat Celsius akibat kombinasi pemanasan global dan fenomena El Niño.
Dampak ekstrem ini memicu bencana lanjutan, termasuk kebakaran hutan masif yang membakar lebih dari 254.000 hektare lahan di Spanyol serta meluas ke Prancis dan Kanada. Meskipun partai kanan jauh Spanyol, Vox, mengklaim kebakaran tersebut tidak ada hubungannya dengan perubahan iklim, ilmu atribusi iklim membuktikan sebaliknya.
Kenaikan suhu menciptakan fenomena weather whiplash, yaitu ketika atmosfer yang hangat menyerap uap air secara masif lalu mengeringkan tanah dan vegetasi secara drastis pada musim panas, mengubah tanaman menjadi bahan bakar api yang sempurna.
Analisis ilmiah menunjukkan bahwa pemanasan global membuat kebakaran hutan di Spanyol 20 kali lebih mungkin terjadi, dan dua kali lebih mungkin terjadi di Prancis. Francesca Di Giuseppe, koordinator proyek prakiraan kebakaran di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, menguatkan temuan ini.
“Kita tahu, dan ini telah dibuktikan secara matematis, bahwa kemungkinan terjadinya kondisi cuaca yang mendukung kebakaran dan dapat mempertahankan serta memicu peristiwa semacam ini telah berubah akibat perubahan iklim,” kata Francesca Di Giuseppe.
Dampak berantai krisis ini merembet ke jalur logistik dan ketahanan pangan. Sungai-sungai besar di Eropa seperti Rhein, Danube, dan Po menyusut ke level terendah dalam sejarah, menghentikan jalur pelayaran kapal pembawa bahan baku industri seperti baja dan minyak bumi. Kondisi ini juga mengancam pasokan air minum karena vegetasi penyaring di tepi sungai mengering.
Sementara di Amerika Serikat, Departemen Pertanian mencatat periode Agustus 2025 hingga Mei 2026 sebagai periode terkering sejak era 1970-an, yang kini mengancam mayoritas tanaman sorgum, gandum musim semi, dan kawasan peternakan sapi nasional. Seluruh indikator ilmiah ini membuktikan bahwa bumi sedang berada dalam kondisi ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya.


