TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id – Setiap desa memiliki cerita. Namun, tidak semua cerita tentang desa ditemukan, didokumentasikan, dan disampaikan kepada publik dengan baik. Karena itu, warga dapat mengambil peran sebagai pengumpul sekaligus penyampai informasi melalui jurnalisme warga.
Hal itu menjadi salah satu pesan yang disampaikan Koordinator Wilayah Barat The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ), Dewantoro, saat memberikan materi tentang jurnalisme warga di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, desa tidak hanya dapat dilihat sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang yang menyimpan berbagai peristiwa, perubahan, potensi, persoalan, serta kehidupan masyarakat. Cerita tersebut dapat ditemukan dari berbagai hal yang dekat dengan keseharian warga, mulai dari kebun, hutan, sungai, sawah, satwa, adat dan budaya, makanan, kerajinan hingga aktivitas masyarakat.
Ia mendorong warga untuk melihat lingkungan sekitar dengan cara yang lebih kritis. Ketika warga melihat kebun kopi, misalnya, pertanyaan tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi dapat dikembangkan menjadi cerita tentang mengapa kopi penting bagi ekonomi masyarakat. Begitu pula ketika melihat hutan, warga dapat menggali perubahan yang terjadi dan siapa saja yang kehidupannya bergantung pada hutan.
Dalam jurnalisme, Knowledge Management Officer Green Justice Indonesia itu mengatakan, proses menemukan cerita dapat dimulai secara sederhana: melihat, bertanya, mencari fakta, menemukan narasumber, menceritakan, kemudian melihat dampaknya.
Jurnalisme warga sendiri tidak mengharuskan seseorang menunggu wartawan datang atau menggunakan peralatan mahal. Warga dapat menemukan informasi, mendokumentasikan peristiwa maupun perubahan, menyusun cerita, lalu membagikannya melalui media yang tersedia.
Namun, informasi yang disampaikan tetap harus berdasarkan fakta, memiliki sumber yang jelas, dan dilakukan secara bertanggung jawab. Dikatakannya, hal penting lainnya adalah verifikasi. Informasi yang berasal dari tetangga, grup WhatsApp, media sosial, maupun tokoh masyarakat tidak serta-merta dapat dianggap sebagai fakta. Informasi tersebut tetap perlu diperiksa untuk memastikan kebenarannya.

Dalam proses peliputan, warga juga dapat menggunakan prinsip 5W+1H untuk membantu mengembangkan cerita: siapa yang terlibat atau terdampak, kapan peristiwa terjadi, mengapa hal tersebut penting, di mana persoalan berlangsung, bagaimana prosesnya, serta apa yang sebenarnya terjadi.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari justru dapat menjadi bahan cerita yang memiliki nilai. Isunya bisa berkaitan dengan ekonomi, lingkungan maupun sosial-budaya. Mulai dari harga komoditas dan mata pencaharian, perubahan hutan dan sungai, konflik satwa, hingga tradisi yang mulai hilang dan perubahan kehidupan masyarakat desa.
Cerita warga juga tidak harus selalu disajikan dalam bentuk tulisan panjang. Dengan telepon genggam, warga dapat menghasilkan foto jurnalistik maupun video pendek. Foto dapat digunakan untuk memperlihatkan lokasi, aktivitas, manusia, serta detail yang berkaitan dengan cerita. Sementara video dapat disusun dari potongan-potongan gambar yang memperlihatkan situasi dan aktivitas secara lebih utuh.
“Sebelum mengunggah sebuah informasi, warga perlu berhenti sejenak untuk memeriksa sumber dan bukti utama, memastikan unsur 5W+1H cukup jelas, serta membandingkan informasi dengan sumber lain yang dapat melengkapi atau membantahnya,” katanya.
Prinsip tersebut penting karena konten yang dibuat warga berpotensi menjadi sumber informasi awal bagi media. Cerita yang dilengkapi ide yang jelas, fakta awal, lokasi, narasumber, foto atau video, serta kontak yang dapat dihubungi akan lebih mudah ditindaklanjuti.
Dengan demikian, jurnalisme warga bukan sekadar aktivitas membuat konten. Ia dapat menjadi cara bagi masyarakat untuk mendokumentasikan perubahan di lingkungan sekitar sekaligus memperkenalkan potensi dan persoalan yang terjadi di desa kepada khalayak yang lebih luas.
“Pada akhirnya, warga tidak perlu menunggu orang luar untuk menceritakan desanya. Cerita tentang desa dapat dimulai dari orang-orang yang tinggal di dalamnya, selama cerita tersebut digali dengan rasa ingin tahu, diperiksa berdasarkan fakta, dan disampaikan secara bertanggung jawab,” katanya.


