Hot Topics

Ancaman Banjir Susulan Mengintai Nepal, Lebih dari 3.000 Orang Masih Hilang di Kawasan Himalaya

NEPAL, ForestEarth.id – Otoritas Nepal kembali mengeluarkan peringatan potensi banjir susulan pada Minggu (30/08) setelah permukaan air sungai terpantau terus meningkat. Bencana banjir bandang yang diduga dipicu oleh runtuhnya gletser di Himalaya sejak Rabu (26/8/2026) lalu ini telah meluluhlantakkan kawasan lembah sungai dan menimbulkan krisis kemanusiaan hebat di wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok.

Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (1/9/2026), hingga kini, total korban hilang dari kedua negara diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 orang. Badan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan korban tewas di wilayahnya telah bertambah menjadi 788 orang, sementara 2.502 orang lainnya masih belum ditemukan.

Di saat yang sama, otoritas Tiongkok mencatat 16 korban jiwa dan 546 orang hilang di wilayah perbatasannya. Di antara ribuan korban yang hilang tersebut, terdapat ratusan warga asing dari belasan negara yang sedang melakukan perjalanan wisata pegunungan, bekerja, hingga berziarah ke puncak suci Gunung Kailash.

Kondisi di lapangan kian mengkhawatirkan setelah otoritas Tibet memperingatkan munculnya bendungan baru akibat material longsor yang menyumbat aliran sungai. Warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Bhotekoshi telah diminta untuk segera mengevakuasi diri ke lokasi yang lebih tinggi melalui pesan singkat darurat.

Kepala Eksekutif Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, Dharam Raj Uprety, menyampaikan bahwa peringatan bahaya ini dirilis usai menerima laporan langsung dari pihak Tiongkok terkait lonjakan debit air di area hulu.

Meskipun danau yang terbentuk akibat banjir di pegunungan tinggi dilaporkan mulai surut oleh kantor berita Xinhua, masih terdapat cekungan air sekitar 5,6 kilometer di hulu yang menampung hingga 1,4 juta meter kubik air dan sewaktu-waktu dapat jebol.

Proses evakuasi yang berulang membuat warga lokal berada dalam titik nadir kelelahan. Salah satu warga desa terdampak, Govind Shreshta, menceritakan beratnya perjuangan bertahan hidup di tengah kepungan banjir dan hujan yang tak kunjung reda.

“Kadang-kadang mereka memberi tahu bahwa banjir akan datang, lalu kami harus kembali berlari ke tempat yang lebih tinggi, bahkan di malam hari. Hujan juga terus turun. Situasi ini sangat berat. Saya harus menggendong ayah saya yang berusia 72 tahun dan ibu saya yang berusia 70 tahun. Saya sangat kelelahan,” ujar Govind Shreshta.

Kerusakan infrastruktur seperti hancurnya jembatan-jembatan utama semakin memperparah isolasi desa-desa di seberang sungai. Di saat yang sama, tim penyelamat Nepal terus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan lebih dari 100 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sungai Trishuli, Nepal tengah.

Para pekerja tersebut diyakini masih bertahan hidup meski terjebak di dalam terowongan yang tertimbun lumpur pekat. Pada Sabtu (29/8/2026) malam, tim gabungan telah berupaya mengebor bagian atas terowongan demi memompa masuk oksigen dan menyisipkan kamera pemantau.

Pihak Kantor Perdana Menteri Nepal mengakui bahwasanya medan yang ekstrem serta curah hujan tinggi menjadi penghambat utama percepatan evakuasi, walau tim SAR tetap dikerahkan bekerja tanpa henti sepanjang malam.

Melihat besarnya skala bencana yang diperkirakan oleh Palang Merah Internasional telah berdampak pada lebih dari 90.000 jiwa, dukungan internasional pun mulai mengalir. Tim penyelamat dari India dan Tiongkok telah diterjunkan untuk bahu-membahu bersama tim penyelamat gunung Nepal.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, menegaskan bahwa negaranya sangat membutuhkan uluran tangan dari negara lain, terutama dalam aspek teknis operasi pencarian, pengujian DNA, hingga proses identifikasi para korban.

Sebagai bentuk solidaritas global, Amerika Serikat telah mengumumkan penyaluran bantuan kemanusiaan sebesar US$3,6 juta (sekitar Rp63,9 miliar) untuk menopang kebutuhan pangan darurat 10.000 keluarga selama tiga bulan. Selain itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim turut menyatakan komitmennya untuk mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan guna membantu penanganan bencana sekaligus mengevakuasi warga negaranya yang terdampak di Nepal.

Tags :

reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.