MEDAN, ForestEarth.id — Green Justice Indonesia (GJI) dan Al Washliyah Kota Medan berkolaborasi dalam gerakan energi bersih melalui program bertajuk Sedekah Energi. Program ini ditujukan untuk mendorong masyarakat, khususnya lembaga pendidikan Islam, agar berpartisipasi dalam transisi menuju energi berkeadilan.
Hal tersebut diungkapkan Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo saat menyambangi Kantor Sekretariat Pengurus Daerah Al Jam’iyatul Washliyah Kota Medan pada Selasa (28/10/2025) siang. Panut menjelaskan, organisasi Islam Al Washliyah di Sumatera Utara memiliki peran penting dalam upaya mengembangkan gerakan transisi energi berkeadilan yang dikemas dalam semangat keislaman.
Kolaborasi ini merupakan bagian dari inisiatif global Purpose bersama jaringan Mosaic (Muslims for Shared Action on Climate Impact), sebuah gerakan yang menekankan nilai-nilai Islam dalam aksi iklim dan transisi energi bersih.
“Kita dengan Purpose dan Mosaic, itu lembaga yang dibentuk sebagai gerakan iklim Islam, bernuansa keislaman. Dan kita diminta untuk menjadi partner di Sumatera Utara,” ujar Panut di Medan.
Dikatakannya, melalui kerja sama ini, GJI mendukung adanya Islamic Climate Movement, sebuah gerakan yang mengaitkan ajaran Islam tentang keadilan sosial dengan keadilan energi. Menurutnya, Al Washliyah menjadi mitra strategis karena memiliki jaringan sosial dan kelembagaan yang luas di Sumatera Utara.
“Saya pikir Al Washliyah organisasi yang sangat tepat untuk mengangkat isu Islamic Climate Movement yang bernuansa keislaman. Dengan jaringan masyarakat yang luas dan kelembagaan besar, sangat sesuai untuk bermitra dan berkolaborasi,” ujarnya.
Dalam tahap awal, kerja sama ini akan berfokus pada edukasi dan promosi narasi transisi energi berkeadilan kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Tujuannya bukan hanya menyampaikan konsep, tetapi juga menghubungkannya dengan kebijakan energi di tingkat provinsi.
Tahap lanjutan program akan diwujudkan melalui implementasi sedekah energi dan solarisasi, yakni pemasangan panel surya di sekolah-sekolah Islam binaan Al-Washliyah.
Menurut Panut, model ini bisa memperkuat kemandirian energi di sektor pendidikan Islam.
“Implementasi sedekah energi dan solarisasi bisa dilakukan di sekolah-sekolah yang dikelola Al-Washliyah. Nanti ada profiling sekolah untuk dijadikan showcase model transisi energi berkeadilan,” jelasnya.
Panut menjelaskan, inisiatif ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi karbon sesuai target internasional — yakni mencapai net zero emission pada 2060.
Ia menekankan bahwa transisi energi dari batu bara ke energi terbarukan tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan yang realistis.
“Pemerintah punya komitmen menurunkan emisi karbon. Tapi itu tidak mudah. Ada banyak pertimbangan dan tahapan. Sekarang baru tahap kajian PLN, dan nanti akan ada peta jalan penghapusan PLTU,” ujarnya.
Menurut Panut, transisi energi nasional juga tengah diarahkan untuk memperbesar porsi energi baru terbarukan (EBT) hingga 69 gigawatt (GW), melalui sumber-sumber seperti tenaga surya, air, dan panas bumi.
“Ada istilah dekarbonisasi — pengurangan energi yang menghasilkan karbon. Pemerintah juga sedang menyiapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Jadi, kita membantu pemerintah mempercepat EBT,” katanya.
Panut menegaskan, tujuan utama kerja sama GJI dan Al-Washliyah adalah mengintegrasikan kerangka kerja transisi energi berkeadilan ke dalam dokumen perencanaan energi daerah, termasuk RUED dan peraturan turunannya.
“Kita ingin mendukung agar konsep transisi energi berkeadilan masuk ke dalam dokumen perencanaan energi provinsi. Kita sudah punya konsep-konsepnya, dan akan kita diskusikan dengan pemerintah,” jelasnya.
Untuk itu, GJI akan mengadakan audiensi dan pertemuan resmi dengan Gubernur Sumatera Utara, Bappeda, dan Dinas ESDM. Pertemuan tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian advokasi dan penyusunan policy brief yang akan diserahkan kepada pemerintah provinsi.
Selain advokasi kebijakan, GJI bersama Al-Washliyah juga akan fokus pada kampanye narasi dan diskursus publik.
Program ini menargetkan penerbitan 40 artikel dan konten media tentang transisi energi dalam perspektif Islam, termasuk artikel opini tokoh agama yang berpengaruh di masyarakat.
“Hasil survei menunjukkan bahwa ulama dan tokoh agama adalah pihak yang paling didengar masyarakat. Karena itu, kami melibatkan tokoh-tokoh seperti Ustaz Dedi Iskandar dan H. Hafiz untuk menulis opini tentang energi baru terbarukan dalam konteks keislaman,” kata Panut.
Ia menambahkan, selain media massa, kampanye ini juga akan diperluas ke media sosial.
Dari total target konten, GJI akan memproduksi 10 konten utama digital yang menampilkan kerja-kerja kolaboratif dengan Al-Washliyah.
Enam Bulan Pertama: Diskursus dan Konsolidasi
Program ini dijadwalkan berjalan selama enam bulan tahap awal, yang difokuskan pada konsolidasi, pertemuan dengan pemangku kebijakan, penyusunan policy brief, dan peluncuran narasi publik tentang transisi energi berkeadilan. “Selama enam bulan ke depan kita fokus membangun narasi dan diskursus. Setelah itu, baru masuk tahap implementasi berbasis komunitas dan sedekah energi,” pungkas Panut.
Panut menjelaskan bahwa selama enam bulan pihaknya akan fokus membangun opini publik dan diskursus seputar energi bersih di kalangan masyarakat dan organisasi Islam.
“Kita mau bersama-sama membawa Al-Washliyah ke depan. Dalam tahap enam bulan ini, fokusnya membangun narasi dan opini publik bahwa gerakan Islam bisa relevan dengan kebutuhan energi ramah lingkungan,” ujar Panut.
Kolaborasi ini akan diformulasikan dalam bentuk policy brief hasil kerja bersama untuk disampaikan ke pemerintah daerah melalui serangkaian workshop. GJI juga berencana mengembangkan program Sedekah Energi — sebuah inisiatif penggalangan donasi untuk membantu sekolah-sekolah Islam memasang panel surya.
“Misalnya dari 100 sekolah, dipilih 10 atau 20 sekolah yang siap menggunakan energi surya. Panel dan biayanya disiapkan lewat program sedekah energi itu,” jelas Panut.
Menurutnya, konsep Sedekah Energi adalah bentuk baru sedekah yang memberi manfaat nyata dan berkelanjutan. “Selama ini sedekah berupa uang atau barang, tapi ini sedekah yang menghasilkan manfaat nyata dan tidak menimbulkan limbah. Karena air, penerangan, dapur — semuanya butuh energi,” tambahnya.
Ketua Al-Washliyah Kota Medan, Abdul Hafiz Harahap, menyatakan dukungannya terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, konsep Sedekah Energi sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang amal jariah dan keberlanjutan.
“Kalau bicara konsepsi Islam, ada beberapa jenis sedekah: sedekah karya, sedekah sembunyi-sembunyi, sedekah di saat sulit, dan sedekah kepada orang terdekat. Kalau konsepsi ini bisa diimplementasikan, semuanya ada di sini. Ini bisa menjadi jariah,” ujarnya.
Hafiz menilai inisiatif Sedekah Energi bukan hanya program sosial, melainkan juga dakwah berbasis aksi nyata. Ia mengajak seluruh jaringan Al-Washliyah untuk menjadi bagian dari gerakan ini.
“Waktu, tenaga, pikiran — ini menjadi jariah kita. Kalau nanti ini terimplementasi, dunia luar pun akan tahu bahwa di Sumatera Utara ada gerakan Islam yang mendorong energi bersih,” ucapnya.
Ia menegaskan, sasaran utama program ini akan menyentuh lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, sekolah, hingga masjid dan surau. “Buat siapa? Buat sekolah-sekolah Islam, madrasah, masjid, langgar, surau. Ini akan menjadi sasaran kita. Al-Washliyah siap menjadi bagian terdepan bersama Green Justice Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Bendahara Al-Washliyah Kota Medan, Fachroel Rozi, menambahkan bahwa penggunaan energi surya di kalangan industri dan rumah tangga kini semakin berkembang, termasuk di Deli Serdang. Namun, ia menyoroti masih adanya kendala regulasi terkait batasan daya listrik dan izin integrasi dengan PLN.
“Untuk rumah tangga hanya 500 watt yang diizinkan tanpa izin khusus. Di atas itu wajib izin. Instalasinya juga belum boleh digabung ke PLN, jadi masih mandiri,” ungkapnya.
Fachroel menilai, jika program Sedekah Energi berhasil diterapkan, maka manfaatnya akan sangat besar bagi jaringan pendidikan Islam yang sering menghadapi keterbatasan listrik.
“Kalau memang ini bisa sekali pasang dan tidak bayar bulanan lagi, sangat membantu. Apalagi kalau ini bagian dari kampanye pemerintah menuju zero emission,” ujarnya.



