JAKARTA, ForestEarth.id — Setiap pertanyaan yang Anda kirimkan ke model kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghasilkan jawaban instan yang seolah-olah muncul begitu saja di layar ponsel.
Namun, di balik kemudahan visual tersebut, terdapat realitas fisik yang amat masif. Untuk menjawab satu pertanyaan sederhana, dibutuhkan infrastruktur riil yang menguras energi, air, hingga lahan dalam skala fantastis.
Dilansir dari berbagai sumber, Senin (7/9/2026), di suatu tempat di dunia, mungkin di Virginia, São Paulo, atau Hong Kong, sebuah gudang raksasa yang dipenuhi kabel serat optik dan deretan server terus berdengung tanpa henti. Fasilitas ini bekerja keras menyediakan daya pemrosesan bagi lebih dari 2,5 miliar pertanyaan yang setiap harinya ditangani oleh ChatGPT saja.
Model AI, bersama penyimpanan cloud, layanan streaming, hosting web, dan media sosial, seluruhnya meninggalkan jejak fisik yang sangat nyata di bumi. Para peneliti dari United Nations University memberikan gambaran yang cukup menghentak mengenai besarnya dampak ini.
“Jika pusat data dianggap sebagai sebuah negara, tingkat konsumsi listriknya akan menjadikannya konsumen listrik terbesar ke-11 di dunia,” ujar tim peneliti United Nations University dalam laporan terbarunya mengenai dampak infrastruktur digital global.
Pusat data kini bertransformasi menjadi salah satu sumber konsumsi listrik dengan pertumbuhan paling cepat di planet ini. Gudang-gudang server beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, didampingi sistem pendingin yang berputar tanpa henti agar perangkat teknologi di dalamnya tidak mengalami panas berlebih.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa krisis daya bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Di Frankfurt, Jerman, jaringan listrik sudah begitu padat hingga sambungan listrik baru diperkirakan tidak akan tersedia setidaknya hingga tahun 2030-an.
Saat ini pusat data mengonsumsi sekitar 41% listrik kota Frankfurt, sementara di Dublin, Irlandia, porsinya bahkan mencapai dua kali lipat. Badan Energi Internasional (International Energy Agency) memproyeksikan lonjakan yang lebih tajam dalam beberapa tahun ke depan.
“Konsumsi listrik pusat data diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada 2030 menjadi sekitar 945 terawatt-jam, atau kira-kira setara dengan jumlah listrik yang dikonsumsi seluruh negara Jepang setiap tahunnya,” ungkap laporan resmi Badan Energi Internasional.
Kebutuhan daya yang melonjak drastis ini mengancam dan memperlambat kemajuan iklim global karena memicu ketergantungan baru pada bahan bakar fosil. Sebuah penelitian pada tahun 2024 menemukan bahwa lebih dari separuh pusat data di Amerika Serikat ditenagai oleh bahan bakar fosil dan menghasilkan emisi lebih dari 105 juta ton CO₂.
Jumlah emisi masif ini setara dengan daya yang membutuhkan lebih dari 31.000 turbin angin beroperasi terus-menerus selama satu tahun penuh untuk menyeimbangkannya.
Guna memenuhi lonjakan permintaan listrik dari pusat data, perusahaan utilitas bahkan menunda penghentian operasi 15 pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah tua di seluruh AS. Pembangkit-pembangkit tua tersebut menghasilkan hampir 65 juta ton gas rumah kaca pada tahun 2023 saja.
Di sisi lain, pembangunan pembangkit listrik baru berbahan bakar gas juga terus dimarakkan dengan pengumuman fasilitas tambahan melebihi 100 GW, sebuah langkah yang akan menghasilkan emisi karbon lebih besar daripada pembakaran 50,4 juta kilogram batu bara.
Kendati pusat data mulai diarahkan menggunakan energi terbarukan atau listrik hijau, hal itu membawa dilema baru. Pengalihan energi bersih ke fasilitas AI dan cloud menyebabkan berkurangnya pasokan listrik hijau yang tersedia untuk elektrifikasi sektor transportasi atau penurunan emisi di industri berat lainnya.
Dampak lingkungan tidak berhenti pada konsumsi listrik, melainkan merembet pada kebutuhan air tawar yang tersembunyi. Satu fasilitas pusat data berukuran besar dapat menggunakan hingga lima juta galon air per hari untuk proses pendinginan evaporatif, sebuah volume yang setara dengan kebutuhan air kota berpenduduk 10.000 hingga 50.000 orang.
Parahnya, sekitar 80% air yang diambil tersebut menguap begitu saja ke udara, sedangkan sisanya menjadi air limbah yang membebani sistem pengolahan air lokal. Fenomena ini terlihat jelas di Northern Virginia, kawasan yang dikenal sebagai ibu kota pusat data dunia karena menampung hampir 300 pusat data dan memasok sekitar sepertiga lalu lintas internet dunia.
Pada tahun 2023, fasilitas-fasilitas di kawasan Northern Virginia tercatat menghabiskan hampir dua miliar galon air tawar. Selain menguras sumber daya alam, proses pendinginan pusat data memindahkan panas buangan ke lingkungan sekitar dan memperburuk efek urban heat island.
Penelitian di Phoenix, Arizona, menunjukkan bahwa satu pusat data besar menghasilkan panas buangan setara puluhan hingga ratusan ribu rumah tangga, yang mampu meningkatkan suhu permukaan tanah di sekitarnya hingga 9 derajat Celsius dan suhu udara hingga 2 derajat Celsius dalam radius setengah kilometer.
Ancaman terakhir yang tidak kalah berbahaya adalah polusi udara langsung dari generator diesel cadangan yang disiagakan di lokasi pusat data. Generator diesel ini melepaskan nitrogen oksida 200 hingga 600 kali lebih banyak dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam.
Sebuah perkiraan dampak kesehatan memperingatkan bahaya laten dari penggunaan mesin cadangan tersebut. “Ketika generator cadangan untuk seluruh pusat data di Virginia beroperasi dengan emisi hanya sebesar 10% dari tingkat yang diizinkan, generator-generator tersebut dapat berkontribusi terhadap 14.000 kasus gejala asma, lebih dari selusin kematian, serta biaya kesehatan masyarakat hingga US$300 juta per tahun,” papar estimasi dampak lingkungan regional tersebut.
Di tengah ancaman ekologis yang kian nyata ini, inovasi seperti immersion cooling, sistem closed-loop, serta jaringan energi termal pemanasa pemukiman menjadi harapan penting agar pesatnya kemajuan AI tidak mengorbankan keberlanjutan bumi.


