Hot Topics

Fragmentasi Hutan Siberut dan Populasi Bilou

MENTAWAI, ForestEarth.id – Hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, tidak hanya menjadi rumah bagi empat jenis primata endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Kawasan hutan juga menjadi ruang penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat setempat. Namun, tekanan terhadap habitat terus meningkat seiring pembukaan akses jalan, perluasan lahan pertanian, dan aktivitas pembalakan.

Koordinator survei populasi SuaraOwa, Triantoro Widyutomo atau Yoyok, mengatakan kondisi habitat primata di Siberut menghadapi ancaman yang cukup tinggi. Pembukaan kawasan hutan yang berlangsung dalam berbagai bentuk telah menyebabkan habitat primata terpecah-pecah.

Menurut Yoyok, fragmentasi habitat terutama terjadi akibat pembukaan akses jalan dan pembukaan lahan pertanian. Kondisi tersebut membuat kawasan hutan yang sebelumnya terhubung menjadi terpisah oleh permukiman, ladang, maupun jalur akses.

“Kalau terfragmentasinya pertama-tama karena pembukaan akses jalan ini yang sekarang. Kemudian kalau di tahun-tahun sebelumnya mungkin 10–15 tahun lalu itu pembukaan perladangan,” kata Yoyok.

Salah satu periode yang menurutnya memberikan tekanan cukup besar terjadi ketika tanaman nilam berkembang di Mentawai pada sekitar 2000-an. Masyarakat membuka dataran rendah yang dinilai subur untuk pertanian nilam. Ketika tanaman tidak lagi produktif, lahan kemudian ditinggalkan dan pembukaan berpindah ke lokasi lain.

Pola tersebut menyebabkan terbentuknya bagian-bagian hutan yang terputus. Yoyok menggambarkan kondisi tersebut seperti koridor yang sebelumnya menghubungkan satu hamparan hutan dengan hamparan lainnya kemudian terpotong oleh kawasan pertanian. Fragmentasi semacam itu, menurut dia, banyak ditemukan terutama di sekitar permukiman dan kawasan yang mendapatkan konsesi HPH.

Ancaman terhadap habitat tidak hanya berasal dari aktivitas masyarakat. Yoyok juga menyebut pembalakan oleh perusahaan kayu sebagai salah satu persoalan yang telah berlangsung sejak lama. “Kalau yang level besar kita lihat perusahaan kayu, pembalakan masih berlangsung sampai sekarang, dari zaman Orde Baru dulu,” ujarnya.

Koordinator survei populasi SuaraOwa, Triantoro Widyutomo atau Yoyok, mengatakan habitat primata endemik Siberut semakin tertekan akibat pembukaan jalan dan perluasan lahan pertanian yang memecah kawasan hutan. Fragmentasi tersebut membuat habitat yang sebelumnya terhubung menjadi terpisah, sehingga meningkatkan ancaman terhadap keberlangsungan empat jenis primata endemik Pulau Siberut.

Tekanan terhadap hutan tersebut menjadi persoalan serius karena Siberut merupakan habitat bagi empat jenis primata endemik Mentawai. Keempatnya hanya ditemukan di kawasan tersebut, sehingga kehilangan habitat di pulau ini memiliki konsekuensi penting bagi keberlangsungan satwa.

Namun, kondisi primata di Siberut belum sepenuhnya dapat dipetakan secara menyeluruh. Yoyok mengatakan data riil mengenai populasi primata belum tersedia untuk seluruh kawasan pulau. Pemantauan yang dilakukan SuaraOwa masih berada di sejumlah lokasi yang memungkinkan untuk disurvei, termasuk Trolago, dengan melibatkan pemilik lahan yang tertarik terhadap kegiatan konservasi.

Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah perjumpaan tim dengan seekor bilou dalam kegiatan pemantauan terbaru. Tim menggunakan metode triangulasi dengan tiga titik pengamatan dalam satu kawasan. Pada salah satu titik, tim bertemu langsung dengan satu individu bilou setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit berjalan kaki. Bagi Yoyok, perjumpaan dengan hanya satu individu perlu menjadi catatan.

Secara normal, bilou hidup dalam kelompok yang setidaknya terdiri dari pasangan jantan dan betina, dan dapat disertai anak-anak. Karena itu, apabila seekor bilou ditemukan seorang diri, terdapat sejumlah kemungkinan yang perlu diperhatikan. Bisa saja kondisi tersebut terjadi secara alami, misalnya pasangannya dimangsa predator.

Namun, ketika lokasi berada dekat permukiman, faktor perburuan juga patut dipertimbangkan. Bilou memiliki karakter sosial yang membuat fragmentasi habitat menjadi persoalan tersendiri. Yoyok menjelaskan bahwa satu kelompok bilou pada dasarnya merupakan satu keluarga inti.

Pasangan jantan dan betina hidup bersama dengan anak-anak mereka. Ketika anak telah dewasa, mereka akan berpisah dan mencari pasangan untuk membentuk kelompok baru. Masalah muncul ketika hutan yang menjadi habitat mereka telah terfragmentasi.

Individu yang hendak meninggalkan kelompok dan mencari pasangan lain akan menghadapi jarak dan bentang lahan yang semakin sulit dilalui. Jika satu kelompok berada di satu kantong hutan sementara kelompok lain berada di kawasan yang terpisah, peluang pertemuan antarkelompok dapat semakin terbatas.

“Ini yang menjadi masalah ketika hutan itu terfragmentasi,” kata Yoyok.

Fragmentasi dengan demikian tidak hanya berarti berkurangnya luas hutan. Bagi satwa yang membutuhkan ruang untuk bergerak dan berkembang biak, terputusnya konektivitas antarhutan dapat memengaruhi proses alami dalam mempertahankan populasi.

Kondisi tersebut semakin penting bagi bilou karena satwa ini memiliki fungsi ekologis yang tidak kecil. Yoyok mengatakan bilou hidup di kawasan hutan dengan tegakan tinggi. Karena itu, keberadaan bilou dapat menjadi salah satu indikasi bahwa kawasan tersebut masih memiliki kondisi hutan yang relatif baik.

“Kalau ada bilou, kemungkinan sangat besar tiga spesies primata yang lain ada di situ,” ujarnya.

Bilou juga berperan sebagai penyebar biji tumbuhan hutan. Sekitar 60 persen makanan bilou, menurut Yoyok, berupa biji-bijian dan buah dari tumbuhan hutan. Biji yang dimakan kemudian membantu penyebaran tumbuhan ke lokasi lain.

Peran tersebut penting karena tidak semua biji berukuran besar dapat disebarkan oleh burung. Ketika bilou hilang dari ekosistem, salah satu agen penyebar biji tumbuhan hutan ikut menghilang.

“Kalau seandainya bilou punah, salah satu faktor untuk penyebaran tumbuhan alam ini sudah tidak ada,” katanya.

Dengan fungsi tersebut, keberadaan bilou sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan konservasi satu spesies. Perlindungan bilou juga berhubungan dengan keberlanjutan ekosistem hutan tempat masyarakat hidup.

Yoyok mengatakan pembukaan akses jalan memang berkaitan dengan kebutuhan pembangunan dan peningkatan ekonomi. Namun, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan kondisi kawasan yang akan dilalui.

Ia menilai pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan para pemangku kepentingan perlu duduk bersama untuk menyusun perencanaan yang mempertimbangkan kepentingan ekonomi sekaligus keberadaan habitat primata.

Menurutnya, selama ini pembangunan jalan belum selalu mempertimbangkan apakah suatu kawasan memiliki nilai penting untuk konservasi atau seharusnya tetap dipertahankan sebagai habitat.

Karena itu, perlindungan hutan Siberut menurut kedua narasumber membutuhkan pendekatan yang tidak hanya melihat satwa sebagai objek konservasi. Hutan perlu dipertahankan sebagai satu kesatuan ekosistem yang menyediakan habitat bagi primata, sekaligus ruang hidup masyarakat adat.

Yoyok mengatakan masyarakat juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya primata, termasuk bilou, bagi kehidupan mereka. Ia menilai pendekatan konservasi seharusnya tidak semata-mata berupa larangan.

Pengetahuan mengenai manfaat bilou secara ekologis, adat, pengetahuan, dan ekonomi perlu dibagikan kepada masyarakat agar konservasi dapat menjadi kepentingan bersama. “Pelan-pelan kita bisa sama-sama belajar dengan masyarakat kita di sini bahwa kelestarian keanekaragaman hayati ini begitu penting,” ujarnya.

Bagi Yoyok, mempertahankan bilou pada akhirnya berarti mempertahankan hutan yang menjadi tempat hidupnya. Dan mempertahankan hutan Siberut berarti menjaga pula salah satu ruang penting bagi keberlangsungan masyarakat Mentawai.

Di tengah meningkatnya kebutuhan ekonomi, pembangunan akses, serta tekanan terhadap lahan, tantangannya adalah menemukan bentuk pembangunan yang tidak memutus hubungan antara hutan, satwa, dan masyarakat yang selama ini hidup bersamanya.

Kepala Divisi Kajian dan Riset Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM), Tarida Hernawati, mengatakan hubungan masyarakat Mentawai dengan hutan memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat dan budaya mereka.

Menurut Tarida, Arat Sabulungan menjadi salah satu fondasi penting dalam cara masyarakat Mentawai memandang hubungan manusia dengan alam. Alam tidak diperlakukan semata-mata sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi memiliki nilai dan harus dihormati serta dijaga keseimbangannya.

“Manusia bisa hidup dari lingkungan alam, sumber daya alam di sekitarnya, tapi mereka juga harus menghargai itu,” kata Tarida.

Tarida menilai hubungan tersebut sering kali tidak dipahami oleh pihak luar yang melihat masyarakat Mentawai dan hutannya sebagai dua hal yang terpisah. Padahal, menurut dia, karakter masyarakat Mentawai sangat dekat dengan hutan. Adat, tradisi, kebiasaan, perilaku, kesenian, dan berbagai bentuk ekspresi budaya berkembang dari lingkungan alam yang mereka tempati.

Karena itu, tekanan terhadap hutan tidak hanya berdampak terhadap satwa. Ketika hutan dibuka atau wilayah adat berubah fungsi, masyarakat juga berhadapan dengan perubahan terhadap ruang hidup dan sistem sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika pembangunan akses dan peningkatan ekonomi mendorong perubahan penggunaan lahan.

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.