JAKARTA, ForestEarth.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan yang tengah melanda berbagai wilayah di Indonesia kini menyita perhatian internasional. Dampak parah karhutla tak hanya menyelimuti wilayah domestik dan negara tetangga dengan asap pekat, tetapi juga memicu perhatian serius dari Lembaga Antariksa Amerika Serikat. Citra satelit terbaru merekam gambaran mengkhawatirkan dari kondisi udara di Asia Tenggara akibat fenomena ini.
“Gambar dari satelit NASA ini menggambarkan asap menyelimuti Indonesia dan Malaysia pada 1 September 2026. Titik-titik merah telah ditambahkan di mana instrumen dari satelit MODIS mendeteksi indikasi anomali panas dari kebakaran,” demikian unggahan resmi NASA melalui akun X @NASAEarth saat menampilkan foto satelit kondisi terkini, Jumat (4/9/2026).
NASA menyoroti bahwa kebakaran di Indonesia didominasi oleh lahan gambut yang membara di bawah permukaan tanah. Kebakaran gambut dikenal sangat lambat, menghasilkan polusi amat tinggi, serta relatif sulit dipadamkan karena terus membara dalam temperatur rendah di bawah lapisan deposit yang tebal.
Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan global mengingat Indonesia mengelola sekitar 36 persen dari total lahan gambut tropis di dunia. Saat mengering akibat kemarau panjang, lanskap tersebut sangat rentan berubah menjadi ladang api yang menghasilkan selimut asap tebal berpekan-pekan.
Kondisi diperparah oleh penguatan pola iklim El Nino sejak Agustus yang memicu penurunan curah hujan secara drastis. Peneliti dari Universitas Columbia, Robert Field, memaparkan bahwa eskalasi kebakaran saat ini menunjukkan grafik yang sangat mengkhawatirkan dan mirip dengan bencana besar satu dekade lalu.
“Indonesia baru tiga pekan berada pada musim kebakarannya, tapi kita melihat aktivitas kebakaran yang melaju secara tajam, sama seperti 2015. El Nino yang kuat membuat musim kemarau lebih kering melampaui wilayah yang paling rentan di Indonesia dan memperburuk kebakaran, sebagaimana yang kita antisipasi itu akan terjadi,” kata Robert Field.
Ancaman terbesar terletak pada penjalaran api di lapisan bawah tanah yang sulit terdeteksi dan dihentikan. “Kebakaran di permukaan kurang dikhawatirkan, tapi saat api merambat di bawah tanah, mereka tidak akan berhenti merambat. Api akan tetap membara hingga hujan datang pada Oktober atau November,” tambah Robert Field.
Data Sipongi Kementerian Kehutanan per 1 September 2026 mencatat lonjakan titik panas yang signifikan. Lonjakan paling drastis terjadi di Kalimantan Barat dari 273 menjadi 859 titik, serta Kalimantan Tengah yang melonjak dari 253 menjadi 623 titik. Kenaikan serupa juga terdeteksi di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Jambi. Menanggapi kondisi kritis ini, pemerintah menetapkan wilayah Kalimantan sebagai fokus penanganan nasional.
“Setelah kemarin semua enam provinsi yang prioritas trennya turun, namun hari ini Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menunjukkan kembali hotspot yang meningkat. Artinya, prioritas utama sekarang ini secara nasional tetap Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Jakarta pada Rabu (2/9/2026).
Menhut Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto langsung bergerak menuju Pontianak untuk mengoordinasikan langkah mitigasi darurat. “Oleh karena itu, besok kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh pemangku kepentingan, dengan Pak Gubernur, Kapolda, Pangdam, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk mitigasi,” ujar Menhut.
Eskalasi karhutla ini mendapat atensi penuh dari pucuk pimpinan pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, dengan memanggil Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, serta jajaran pejabat tinggi pertahanan dan intelijen untuk mengevaluasi kondisi lapangan.
“Pertemuan tersebut membahas perkembangan situasi nasional serta penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan terpadu, sekaligus mengantisipasi meluasnya titik kebakaran,” kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat menjelaskan hasil pertemuan strategis tersebut, Selasa (1/9/2026).

