MEDAN, ForestEarth.id – Pendiri Yayasan Bitra Indonesia, Soekirman menilai Panut Hadisiswoyo merupakan contoh langka generasi muda yang mampu mempertahankan idealisme hingga dewasa. Menurutnya, perjalanan hidup pendiri Orangutan Information Centre (OIC) itu menunjukkan bahwa kerja-kerja organisasi masyarakat sipil bukan sekadar aktivitas semasa kuliah, tetapi dapat menjadi jalan pengabdian seumur hidup.
Pandangan itu disampaikan Soekirman saat memberikan tanggapan dalam peluncuran buku Autobiografi Panut Hadisiswoyo, Berdiri di Garis Terakhir pada Jumat (17/7/2026). Ia mengawali ceritanya dengan mengenang budaya aktivisme mahasiswa pada masa lalu. Menurutnya, ketika masih berstatus mahasiswa, sudah menjadi hal yang lumrah jika anak-anak muda menghabiskan banyak waktu di kantor organisasi nonpemerintah (NGO).
“Dulu kami sering bercanda. Kalau masih mahasiswa, rajin datang ke kantor NGO itu wajar. Di situlah tempat berdiskusi, berdebat, dan bertemu dengan gagasan-gagasan yang menantang,” ujar mantan Bupati Serdang Bedagai ini.
Bahkan setelah lulus kuliah, lanjut Soekirman, masih ada sebagian orang yang tetap aktif membantu organisasi masyarakat sipil. Baginya, hal itu juga masih dapat dimengerti. Namun, ukuran idealisme sesungguhnya terlihat ketika seseorang telah berkeluarga.
“Kalau sudah tamat kuliah masih datang ke kantor NGO, masih wajar. Tapi kalau sudah menikah, sudah punya anak, masih tetap bertahan di NGO, nah itu baru luar biasa,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Ia mengingatkan bahwa bekerja di organisasi masyarakat sipil bukan pilihan yang mudah. Berbeda dengan pekerjaan lain yang menawarkan kepastian pendapatan, kehidupan di NGO sering kali penuh ketidakpastian. “Jangankan bicara program tahunan, kadang uang untuk operasional sehari-hari saja tidak jelas. Itu realitas yang kami alami,” katanya.
Karena itu, Soekirman menilai perjalanan Panut Hadisiswoyo yang tetap bertahan di dunia konservasi hingga kini menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki banyak orang.
“Bagi saya, Panut adalah kristalisasi sumber daya manusia Indonesia yang tetap menjaga idealismenya. Dia tidak hanya menyayangi sesama manusia, tetapi juga memperjuangkan kehidupan orangutan dan hutan tempat satwa itu hidup,” ujarnya.
Meluruskan Cara Pandang tentang Hutan
Selain menyoroti perjalanan hidup Panut, Soekirman juga mengingatkan pentingnya terus mengedukasi masyarakat dan para pengambil kebijakan mengenai fungsi hutan. Ia mengaku masih prihatin karena hingga kini masih ada pejabat publik yang menyamakan kebun kelapa sawit dengan kawasan hutan.
“Ada pejabat yang mengatakan, ‘Apa bedanya hutan dengan kelapa sawit? Sama-sama pohon.’ Cara berpikir seperti itu menurut saya masih harus diluruskan,” katanya.
Menurut Soekirman, buku tentang Panut dan perjalanan OIC seharusnya tidak berhenti pada kisah biografi semata, tetapi juga menjadi media edukasi mengenai pentingnya menjaga habitat orangutan.
Ia menjelaskan bahwa orangutan memiliki kebutuhan ekologis yang sangat berbeda dengan satwa lain. Satwa tersebut memerlukan kawasan hutan alami yang luas untuk mencari makan, berkembang biak, dan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
“Orangutan tidak bisa disamakan dengan satwa lain. Mereka membutuhkan hutan yang utuh sebagai ruang hidupnya. Karena itu, pemahaman seperti ini harus terus disampaikan kepada masyarakat maupun para pejabat,” ujarnya.
Soekirman berharap akan ada penerbitan lanjutan yang tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Panut, tetapi juga memperluas pembahasan mengenai pentingnya ekosistem hutan bagi kelangsungan hidup orangutan.
“Kalau nanti ada buku berikutnya, saya berharap penjelasan tentang hutan dan orangutan bisa diperbanyak. Masih banyak orang, bahkan pejabat publik, yang belum memahami bahwa kebun sawit tidak bisa disamakan dengan hutan,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Soekirman menyampaikan ucapan selamat kepada Panut Hadisiswoyo atas terbitnya buku biografi tersebut. Ia juga memberikan penghormatan kepada keluarga Panut yang dinilainya telah menjadi bagian penting dari perjalanan panjang seorang pegiat konservasi.
“Selamat kepada Panut, dan juga kepada keluarga yang telah melahirkan dan mendampingi seorang pejuang konservasi dari Kampung Kolam,” tutupnya.


