Hot Topics

Jalur Pendakian di 9 Taman Nasional Ditutup Sementara, Antisipasi Karhutla

JAKARTA, ForestEarth.id – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara resmi mengumumkan kebijakan penutupan sementara wisata pendakian di 9 taman nasional yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (1/9/2026), kebijakan tegas ini diambil guna meminimalisasi risiko keselamatan para wisatawan sekaligus mengoptimalkan pengerahan sumber daya pemadaman api di 6 provinsi prioritas yang menjadi fokus penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Keputusan ini bakal diperkuat melalui surat edaran resmi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Langkah darurat ini terpaksa diambil lantaran maraknya insiden kebakaran di kawasan konservasi justru makin mempersulit upaya pemadaman di wilayah lain.

Sejumlah helikopter pengebom air yang seharusnya difokuskan penuh untuk mengatasi kebakaran di enam provinsi prioritas terpaksa dialihkan guna memadamkan kobaran api yang melalap kawasan taman nasional. Peralihan armada udara tersebut dinilai sangat menyita efisiensi tim penanggulangan bencana di lapangan.

Dalam keterangannya usai menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Palembang, Sumatera Selatan, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan tantangan berat yang dihadapi tim pemadam saat ini.

“Mengingat beberapa taman nasional kita juga terjadi kebakaran dan ini sangat menyulitkan kita untuk melakukan pemadaman, beberapa heli water bombing yang mestinya bisa dipergunakan, dimaksimumkan di enam provinsi prioritas, tapi karena ada kebakaran yang luar biasa di beberapa taman nasional akhirnya heli ini juga di-deploy ke taman-taman nasional tersebut,” ujar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.

Pemerintah menekankan bahwa kebijakan penutupan ini murni berdasar pada pertimbangan keselamatan jiwa dan kelancaran operasi pemadaman di lapangan, bukan untuk mengekang minat para pencinta alam.

Pengalaman pahit akibat insiden kebakaran sebelumnya menjadi pelajaran berharga agar kejadian serupa yang membahayakan nyawa manusia tidak kembali terulang. Risiko cuaca ekstrem dan kekeringan membuat area hutan sangat rentan tersulut api dalam waktu singkat.

Lebih lanjut, Raja Juli Antoni menjelaskan latar belakang di balik keputusan krusial tersebut agar dapat dipahami oleh masyarakat luas.

“Ini sekali lagi maksudnya adalah bukan kita membatasi keinginan para pendaki untuk menaiki taman nasional kita, tapi karena risiko yang sangat tinggi seperti yang terjadi terakhir di Bromo Tengger dan Semeru yang akhirnya mengakibatkan ada 170-an pendaki yang terjebak,” kata Raja Juli Antoni.

Adapun 9 kawasan yang ditutup total untuk aktivitas pendakian meliputi jalur Gunung Semeru di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Tambora, Taman Nasional Manusela, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuser, serta Taman Nasional Lorentz khusus untuk jalur Ilaga, Tsinga, Sugapa, dan Ugimba.

Sementara itu, pemerintah masih mengizinkan aktivitas pendakian secara terbatas dengan pengawasan ekstra ketat serta pembatasan ketat pada zonasi aman di Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Merbabu, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang (Argopuro), dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Tags :

reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.