Hot Topics

“Tolong, Jangan Sampai Bertahun-tahun Lagi”: Jerit Hati Pengungsi Sinabung yang Takut Pulang

KARO, ForestEarth.id – Gemuruh dahsyat dari perut Gunung Sinabung kembali memecah ketenangan warga di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Muntahan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter di atas puncak mengubah langit menjadi kelabu, memutus asa ratusan jiwa yang terpaksa berhamburan mengemas barang seadanya.

Di balik angka-angka statistik kebencanaan, ada kecemasan mendalam dan trauma masa lalu yang kembali membayangi raut wajah para pengungsi di Posko Penanganan Darurat Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran.

Bagi Roy Sembiring, keputusan melangkah pergi dari rumahnya di Desa Kuta Tengah bukanlah hal yang mudah. Namun keselamatan anak dan istrinya berada di atas segalanya. Sembari merangkul keluarganya di pos penampungan, ingatan kelam tentang erupsi belasan tahun lalu mendadak berputar kembali di kepalanya.

“Kami diminta pemerintah untuk mengungsi, kami mau karena takut juga erupsi susulan. Kembali menetap ke Desa Kuta Tengah itu tahun 2020, sebelumnya pindah pengungsian sejak 2010,” kata Roy Sembiring, Rabu (2/9/2026) dengan raut wajah penuh kekhawatiran saat mengingat masa lalunya yang bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian.

Rasa getir serupa membendung di hati Eva Br Sinulingga, warga Kuta Tengah lainnya yang kini hanya bisa memanjatkan doa di tengah kepungan udara berdebu. Bayang-bayang harus hidup bertahun-tahun di posko pengungsian seperti yang pernah mereka jalani dahulu menjadi ketakutan terbesar yang kini menggelayuti pikirannya.

“Harapannya agar Gunung Sinabung ini kembali tenang sehingga dapat kembali ke rumah, jangan sampai seperti yang lalu bertahun tahun di pengungsian,” tutur Eva Br Sinulingga memuat bisikan asa agar tanah kelahirannya bisa segera pulih.

Gelombang keputusasaan warga ini bermula saat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status Gunung Sinabung mendadak menjadi Level III (Siaga). Hantaman debu tebal dan getaran vulkanik yang tak kunjung berhenti memaksa tim Satgas mengevakuasi ratusan warga keluar dari zona bahaya radius 3 hingga 6 kilometer.

Di tengah kepungan abu yang kian pekat, petugas BPBD Karo menyisir setiap sudut pemukiman untuk membagikan masker dan memastikan tidak ada satu pun nyawa yang tertinggal di area rawan bencana.

Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengimbau agar masyarakat tetap bersabar dan menahan diri untuk tidak nekat kembali ke kediaman mereka sebelum kondisi benar-benar aman. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., melayangkan penegasan penting bagi seluruh warga di sekitar lokasi terdampak.

“Masyarakat di sekitar Gunung Sinabung diimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas gunung api. Masyarakat dan pengunjung agar mematuhi kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya, tidak melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan instansi berwenang. Warga yang bermukim di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar,” ujar Berton SP Panjaitan dalam keterangan resminya.

Warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, saat ini telah mengungsi ke Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak sekitar 211 keluarga atau 615 jiwa warga Desa Kuta Tengah berada di lokasi pengungsian.

Sementara itu, warga Desa Payung, Kecamatan Payung, masih bertahan di rumah masing-masing dengan tetap bersiaga. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memantau kondisi masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak.

Peningkatan aktivitas tersebut menyusul erupsi Gunung Sinabung pada Senin (31/8/2026) pukul 12.00 WIB. Erupsi menghasilkan kolom erupsi sekitar 3.500 meter di atas puncak atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut. Hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitas Gunung Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), terhitung sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.

Erupsi tersebut merupakan erupsi awal dan masih terdapat kemungkinan terjadinya peningkatan aktivitas. Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Desa Ndokum Siroga dan Desa Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat serta Desa Payung di Kecamatan Payung.

Di lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo telah melakukan penanganan dengan mengarahkan masyarakat untuk keluar dari zona bahaya dan berpindah ke lokasi yang lebih aman. BPBD juga membagikan masker kepada masyarakat yang berada di wilayah yang telah terdampak debu vulkanik.

Pemantauan aktivitas Gunung Sinabung terus dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Masyarakat yang berada dan bermukim di sekitar sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga perlu mewaspadai potensi bahaya lahar. Evaluasi tingkat aktivitas gunung api dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan.

Sementara itu, Penetapan Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo berdasarkan Nomor 361/559/BPBD/2026 berlaku selama 90 hari, terhitung sejak 8 Juli hingga 5 Oktober 2026.

Tags :

reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.