MINAHASA UTARA, ForestEarth.id — Ketua Umum The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Joni Aswira Putra menegaskan, jurnalis memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim dan maraknya disinformasi yang kian masif di ruang publik.
Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Green Press Community di Kabupaten Minahasa Utara, yang dihadiri jurnalis lingkungan dari 26 provinsi, akademisi, pemerintah daerah, serta berbagai kelompok masyarakat sipil.
Menurutnya, krisis iklim telah memicu berbagai bencana ekologis di banyak wilayah Indonesia. Bencana hidrometeorologi yang meningkat, krisis pangan, kenaikan muka air laut, hingga abrasi pesisir merupakan dampak nyata dari perubahan iklim yang diperparah oleh aktivitas manusia.
“Jurnalis tidak bisa bekerja sendiri, pemerintah juga tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bahu-membahu di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Ia menegaskan bahwa Green Press Community menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk membicarakan kelangsungan bumi. Forum ini tidak hanya melibatkan jurnalis dan media, tetapi juga pemerintah, akademisi, kampus, pelaku usaha, kelompok masyarakat sipil, komunitas, hingga petani.
Menjelang usia 20 tahun SIEJ yang akan diperingati pada Hari Bumi, 22 April mendatang, organisasi ini berkomitmen memperluas ekosistem jurnalis lingkungan di Indonesia. Di tengah disrupsi digital dan menurunnya kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan, pers dinilai harus tetap diperkuat dan dipertahankan.
Ketua Umum SIEJ juga menyoroti fenomena “era matinya kepakaran”, di mana kebenaran kerap diukur dari popularitas, bukan dari kredibilitas dan basis ilmiah. Dalam situasi tersebut, jurnalis diharapkan mampu menjernihkan hoaks, misinformasi, dan disinformasi yang beredar luas, khususnya terkait isu lingkungan.
Selain itu, SIEJ mendorong lahirnya kebijakan publik yang berbasis bukti dan riset ilmiah. Menurutnya, kebijakan yang baik harus partisipatif, deliberatif, serta berpijak pada ilmu pengetahuan, terutama dalam menghadapi persoalan lingkungan yang bersifat multidimensi.
Tahun ini, Green Press Community mengangkat tema jurnalisme menyelamatkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, mengingat sektor laut dan keanekaragaman hayati kepulauan Indonesia menghadapi ancaman serius akibat krisis iklim. Selama ini, isu perubahan iklim dinilai terlalu bias daratan, padahal persoalan laut jauh lebih kompleks.
SIEJ mengapresiasi dukungan berbagai organisasi dan lembaga yang terlibat, termasuk Climate World Center, Greenpeace Indonesia, CELIOS, Trend Asia, Pulitzer Center, dan sejumlah mitra lainnya. Kegiatan ini diharapkan terus bergulir ke berbagai wilayah kepulauan Indonesia sebagai upaya memperkuat advokasi dan literasi lingkungan hidup.