PAHAE JULU, ForestEarth.id – Peresmian Sopo Adat dan Sentra Kerajinan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Simardangiang menjadi momentum penting bagi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tapanuli Utara untuk mempertegas posisi masyarakat adat sebagai penjaga sejati alam.
Dalam sambutannya, perwakilan Pengurus AMAN Taput, Edward Siregar, menekankan bahwa kehadiran Sopo Adat ini bukan sekadar bangunan fisik atau urusan ekonomi semata, melainkan bukti otentik eksistensi masyarakat yang mampu hidup mandiri tanpa merusak lingkungan.
Edward berharap Sopo Adat yang baru diresmikan ini menjadi ruang sakral bagi masyarakat Simardangiang dalam merumuskan kebijakan lokal yang bijaksana. Menurutnya, masyarakat adat telah membuktikan bahwa mereka bisa sejahtera dengan mengelola sumber daya alam tanpa harus melakukan eksploitasi besar-besaran.
“Sopo Adat ini adalah bukti bahwa kita ada, kita eksis, dan kita memelihara hutan. Kita tidak bergantung pada pekerjaan lain yang merusak alam. Ke depannya, dari Sopo ini harus lahir keputusan-keputusan arif dalam mengelola wilayah adat kita,” tegas Edward, Kamis (12/2/2026).
Menagih Janji Tim Verifikasi Wilayah Adat
Di tengah suasana syukur atas pengakuan 10 wilayah adat dan 9 hutan adat yang sudah ada di Tapanuli Utara, Edward secara terbuka menagih janji Bupati Taput terkait percepatan pengakuan wilayah adat lainnya.
Ia mengingatkan kembali pertemuan pada Desember lalu, di mana Pemerintah Kabupaten berjanji akan membentuk Tim Verifikasi Wilayah Adat. Hal ini menjadi krusial, terutama pasca-penutupan PT TPL (Toba Pulp Lestari) di beberapa titik, di mana terdapat sekitar 9 hingga 10 wilayah adat yang mendesak untuk segera diverifikasi dan diakui negara.
“Kami meminta Bapak Bupati untuk segera merealisasikan tim verifikasi tersebut. Masih banyak wilayah adat di Tapanuli Utara yang belum mendapat pengakuan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan kedaulatan masyarakat atas tanahnya,” tambah Edward.
“Horas di Kita, Horas di Hutan”
Menutup orasinya, Edward mengajak seluruh elemen pejuang masyarakat adat untuk terus solid dalam menjaga keutuhan ekosistem Tapanuli Utara. Sebuah pekik semangat dikumandangkan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam yang telah menghidupi mereka secara turun-temurun.
“Horas ma di kita, horas ma di hutan, horas ma di tanah, horas ma di Tapanuli Utara!” pungkasnya disambut seruan hangat dari warga dan rekan-rekan organisasi pejuang adat yang hadir.