Ilustrasi gelombang tinggi - Pixabay

BMKG Warning! Gelombang Tinggi 2,5 Meter Hantui Perairan Nias, Seluruh Sumut Siaga Hujan Lebat

MEDAN, ForestEarth.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Belawan mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Sumatera Utara. Kondisi ini diprediksi akan berlangsung mulai 19 hingga 22 April 2026, yang berisiko tinggi bagi keselamatan pelayaran.

Prakirawan BMKG Belawan, Rizky Ramadhan, mengungkapkan bahwa gelombang di perairan barat Kepulauan Nias, Kepulauan Batu, hingga Samudera Hindia barat Nias dapat mencapai ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter.

Rizky menekankan agar para pengguna jasa kelautan, terutama nelayan tradisional, untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Kondisi ini harus diwaspadai karena dapat mengganggu pelayaran, khususnya perahu kecil. Nelayan diminta waspada jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter,” jelas Rizky di Medan, Senin (20/4/2026).

Peringatan serupa juga ditujukan bagi operator kapal tongkang. Keamanan pelayaran terancam jika kecepatan angin menyentuh 16 knot dengan tinggi gelombang di atas 1,5 meter saat melintasi ketiga wilayah perairan tersebut.

Sementara itu, kondisi cuaca di daratan Sumatera Utara juga menunjukkan tren ekstrem. Prakirawan BBMKG Wilayah I, Utami Al Khairiyah, memaparkan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpotensi terjadi merata di seluruh wilayah Sumut sejak siang hingga malam hari.

Khusus untuk wilayah Pakpak Bharat dan sekitarnya, BMKG memberikan atensi khusus karena diprediksi akan diguyur hujan dengan intensitas lebat pada malam hari. Kondisi ini berlanjut hingga dini hari di beberapa titik seperti Samosir, Tapanuli Utara, Dairi, hingga Gunungsitoli.

Dengan kelembaban udara mencapai 99 persen, BMKG mengingatkan potensi bencana susulan.

“Waspadai potensi hujan intensitas sedang hingga lebat di pantai barat, lereng timur, pantai timur, dan pegunungan di Sumut yang dapat menyebabkan banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya,” tegas Rizky.

Masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai dan lereng perbukitan diimbau untuk tetap siaga, mengingat curah hujan yang tinggi dapat memicu pergerakan tanah dan kenaikan debit air secara mendadak.

Leave A Comment