Hot Topics

Awas Sinyal Bahaya Pascabencana: Pakar BRIN Peringatkan Risiko Wabah Penyakit Tular Vektor

JAKARTA, ForestEarth.id — Bencana alam seperti banjir, tsunami, hingga kekeringan tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga menyimpan ancaman kesehatan tersembunyi. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ristiyanto, memperingatkan fenomena amplifikasi ekologi pascabencana yang sangat berisiko menimbulkan wabah penyakit tular vektor di tengah masyarakat.

Dalam diskusi tentang penyakit menular pascabencana yang digelar secara daring di Jakarta, Ristiyanto mengungkapkan bahwa alam pada dasarnya tidak serta-merta melahirkan wabah seketika. Bencana menciptakan kondisi lingkungan yang sangat ideal bagi vektor dan reservoir pembawa penyakit untuk berkembang biak dengan cepat.

“Jadi ada suatu urutan atau rantai dapat kita lihat secara sederhana. Bencana terjadi, lingkungan berubah, populasi atau distribusi vektor dan reservoir berubah, kontak dengan manusia meningkat, kemudian risiko penyakit ikut meningkat pula,” kata Ristiyanto, dilansir dari Antara, Kamis (20/8/2026).

Ia mencontohkan bencana seperti tsunami atau banjir kerap menyisakan genangan air tawar maupun payau, sementara bencana kekeringan memaksa masyarakat menampung air secara tidak higienis. Kondisi-kondisi lingkungan baru inilah yang kemudian secara radikal mengubah habitat nyamuk dan tikus. Menurutnya, jika kondisi lingkungan yang rusak tersebut tidak segera ditangani, maka akan terjadi proses pembesaran risiko atau amplifikasi ekologi.

“Jadi, semakin lama maka lingkungan itu akan semakin memperkuat terjadinya perkembangan penyakit yang dibawa oleh vektor maupun reservoir itu sendiri,” ujarnya.

Ristiyanto menilai perubahan ekstrem pada ekologi itu akan memicu kemunculan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak ada atau tidak lazim ditemukan di suatu wilayah, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga ancaman penyakit leptospirosis dan salmonelosis. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya kecepatan dalam membaca sinyal perubahan alam sebelum fasilitas pelayanan dasar masyarakat ikut lumpuh di wilayah yang terdampak parah.

“Jadi yang kita pantau bukan hanya jumlah penderita penyakit saja di sini, tetapi perubahan ekologi dapat menjadi sinyal sebelum peningkatan kasus itu terlihat,” ucap Ristiyanto.

Tags :

reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.