Hot Topics

Dinding Es dan Lumpur Menyapu Nepal: 10 Menit Malapetaka di Lembah Himalaya

NEPAL, ForestEarth.id – Di bawah bayang-bayang megahnya Pegunungan Himalaya, duka mendalam menyelimuti Nepal bagian utara. Dinding air raksasa bercampur es, lumpur, dan material bebatuan menerjang tanpa ampun pada Rabu (26/8/2026), menyapu bersih permukiman dan menyisakan kehancuran masif.

Ratusan jiwa terkonfirmasi tewas, sementara ribuan lainnya masih menghilang di balik timbunan material longsor. Skala bencana ini tergolong luar biasa mematikan karena hanya dalam kurun waktu sekitar sepuluh menit, gelombang pasang material padat tersebut meluncur sejauh 20 kilometer ke arah hilir, meluluhlantakkan jalan, jembatan, hingga belasan fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Bagi warga yang berada di jalur aliran, hampir tidak ada jeda waktu untuk melarikan diri. Dilansir dari DW, Jumat (28/8/2026), Bidhya Rajput, seorang jurnalis di Kathmandu, menceritakan penderitaan keluarganya di Desa Sole, Distrik Nuwakot, yang tersapu luapan Sungai Trishuli.

Hanya sekitar empat atau lima warga yang berhasil selamat dengan berlari ke area perbukitan tinggi, sementara sisanya terjebak tanpa sempat menghindar.

“Yang lain tidak sempat, karena banjir datang tiba-tiba,” kata Bidhya Rajput.

Ia menambahkan bahwa kondisi di lapangan sangat memprihatinkan karena terisolasi secara total.

“Bantuan pemerintah belum sampai ke Sole, upaya penyelamatan dan bantuan pemerintah mayoritas terpusat di kota-kota besar,” ujar Rajput menegaskan.

Namun, dinamika di lapangan menunjukkan kerumitan tersendiri mengenai efektivitas peringatan bencana.

Politikus oposisi asal Nuwakot, Usha Kiran Timsena, menyebutkan bahwa kepolisian dan pejabat lokal sebenarnya sudah menyebarkan imbauan bahaya. Masalahnya, warga tidak pernah membayangkan skala serta kecepatan air yang begitu ekstrem.

“Banyak warga yang tinggal agak jauh dari tepi sungai menganggapnya sepele. Mereka akhirnya tidak sempat menyelamatkan diri ketika banjir mencapai permukiman mereka,” tutur Usha Kiran Timsena.

Kepanikan senada dirasakan Sujan Lohani, warga Dhading, yang terisolasi dari ibu kota akibat hancurnya infrastruktur penghubung utama.

“Saya khawatir sepupu saya sekarang berada di desa. Kami terputus dari Kathmandu,” ujar Sujan Lohani meluapkan kecemasannya.

Pihak berwenang mengonfirmasi sedikitnya 30 jembatan hancur dan lebih dari 1.300 orang lebih masih dilaporkan hilang, memicu gelombang evakuasi udara menggunakan helikopter militer menuju pusat medis di Kathmandu. Pemerintah menetapkan Nuwakot, Rasuwa, dan Dhading sebagai wilayah terdampak paling parah.

Menteri Informasi dan Komunikasi Nepal, Bikram Timilsina, yang turun langsung ke lokasi bencana menggambarkan dahsyatnya dampak musibah tersebut.

“Kami mengerahkan seluruh upaya untuk menyelamatkan warga yang masih hidup,” kata Bikram Timilsina. “Seluruh desa tersapu. Banyak yang kehilangan nyawa secara tragis. Banyak lainnya tidak bisa dihubungi.”

Timilsina juga mengakui keterbatasan pemerintah dalam mengantisipasi bencana sebesar ini. Ia menyatakan bahwa pemerintah Nepal tidak pernah membayangkan banjir dan bencana dengan skala sebesar ini sebelumnya.

Dari kacamata ilmiah, fenomena mematikan ini memicu perdebatan di kalangan peneliti. Data awal menunjukkan bencana bermula dari runtuhnya gletser di sektor utara Pegunungan Langtang, dekat perbatasan Nepal dan Cina.

Ahli geomorfologi dari GFZ Helmholtz Centre for Geosciences di Potsdam, Niels Hovius, menjelaskan mekanisme pergerakan cepat banjir bandang tersebut.

“Banjir bandang merupakan kejadian yang cukup sering terjadi di Himalaya,” jelas Niels Hovius. “Gesekan kemudian mencairkan sebagian es menjadi air, yang membawa lumpur dan material lainnya. Aliran tersebut bergerak dengan kecepatan seperti mobil di jalan tol Jerman.”

Hovius menegaskan bahwa bencana kali ini bukan disebabkan oleh jebolnya danau glasial (GLOF), melainkan murni runtuhnya gletser yang diperparah oleh topografi lembah Himalaya yang sempit. Mengenai kaitannya dengan perubahan iklim global, ia memberikan pandangannya.

“Sulit untuk mengaitkan setiap kejadian dengan krisis iklim. Tapi saya pikir kita kemungkinan akan melihat semakin banyak kejadian seperti ini,” tutur Hovius memperingatkan.

Ancaman bencana serupa di masa depan dinilai bisa jauh lebih parah jika penataan permukiman di sepanjang bantaran sungai tidak segera dievaluasi. Hovius menyarankan agar warga mulai mempertimbangkan untuk memindahkan tempat tinggal ke lokasi yang lebih aman.

“Mungkin kini lebih baik untuk kembali ke wilayah yang lebih tinggi,” pungkas Hovius.

Tags :

reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.