Hot Topics

Menyelamatkan Orangutan, Melampaui Luas Hutan

Oleh: Onrizal, PhD

Ada satu pelajaran penting dari kabar terbaru tentang orangutan di Sumatra: hutan yang masih tampak hijau di peta belum tentu aman bagi orangutan.

Hutan bisa saja masih berdiri, tetapi telah terbelah oleh jalan. Ia dapat terjepit perkebunan, kehilangan jalur penghubung dengan blok hutan lain, atau terus mengalami konflik dan pembunuhan satwa yang tidak pernah terlihat dari citra satelit.

Karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara membaca keadaan orangutan. Pertanyaannya tidak cukup lagi sekadar: berapa hektare hutan yang masih tersisa? Yang lebih penting adalah: apakah populasi orangutan di dalamnya masih hidup, saling terhubung, dan mampu bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Survei pada 2021–2023 memberi gambaran terbaru yang seharusnya membuat kita waspada. Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) diperkirakan sekitar 11.694 individu, sementara Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) sekitar 716 individu.

Untuk Orangutan Sumatera, jika perbandingan dilakukan pada wilayah geografis yang sama dengan baseline sebelumnya, jumlahnya turun dari 13.846 menjadi sekitar 11.146 individu. Penurunannya mencapai sekitar 19,5 persen.

Angka nasional tentu penting. Namun cerita yang lebih nyata justru muncul ketika data tersebut dibaca per bentang alam.

Empat wajah persoalan

Leuser masih menjadi benteng terbesar Orangutan Sumatera. Ribuan individu bertahan di bentang alam ini. Namun status sebagai benteng utama tidak membuatnya kebal terhadap tekanan.

Di Leuser Timur, populasi diperkirakan turun lebih dari 20 persen. Di Leuser Barat, penurunannya sekitar 14 persen. Angka ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan luas hutan secara keseluruhan belum tentu cukup.

Tidak semua hektare hutan mempunyai nilai ekologis yang sama.

Hutan dataran rendah, rawa gambut, kawasan dengan kepadatan orangutan tinggi, dan koridor penghubung antarpopulasi mempunyai peran yang jauh lebih besar bagi kelangsungan spesies. Kehilangan beberapa puluh hektare pada jalur penghubung yang sempit bisa lebih berbahaya daripada kehilangan areal yang lebih luas di tempat lain.

Rawa Tripa menunjukkan apa yang terjadi ketika tekanan berlangsung terlalu lama.

Pada wilayah yang dapat dibandingkan, populasinya diperkirakan turun dari sekitar 212 menjadi hanya sekitar 52 individu. Pada saat yang sama, lebih dari separuh hutan baseline di bentang ini telah hilang.

Pada titik seperti ini, Tripa bukan lagi sekadar persoalan konservasi rutin.

Yang dibutuhkan adalah penyelamatan sisa bentang alam: menghentikan konversi baru, memulihkan hidrologi rawa gambut, menjaga fragmen hutan yang masih bertahan, menghubungkan kembali bagian-bagian habitat yang terputus, dan memastikan melalui survei lapangan berapa individu yang sebenarnya masih tersisa.

Jika tidak, kita hanya akan menjadi saksi penurunan berikutnya.

Ketika hutan masih ada

Pelajaran yang berbeda muncul dari Batu Ardan dan Siranggas.

Di Batu Ardan, penurunan populasi orangutan diperkirakan jauh lebih besar daripada proporsi hutan yang hilang. Di Siranggas, pola serupa terlihat: jumlah orangutan turun cukup tajam meskipun kehilangan hutan yang terdeteksi relatif kecil.

Di sinilah anggapan sederhana bahwa “selama hutannya masih ada, orangutannya aman” tidak lagi berlaku.

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa kehilangan hutan memang sangat berkaitan dengan perubahan populasi. Sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antarmetapopulasi dapat dijelaskan oleh kehilangan hutan. Namun itu juga berarti ada bagian persoalan lain yang tidak terlihat hanya dengan menghitung pohon yang hilang.

Konflik manusia-orangutan, pembunuhan, perburuan, perdagangan, pembukaan akses ke dalam hutan, dan fragmentasi habitat dapat terus menekan populasi bahkan ketika tutupan hutan secara statistik belum banyak berubah.

Citra satelit bisa memberi tahu kita bahwa pohon masih berdiri. Ia tidak bisa memberi tahu apakah orangutan yang hidup di bawah kanopi itu ditembak, diburu, atau kehilangan anaknya.

Karena itu, ukuran keberhasilan konservasi tidak boleh berhenti pada angka deforestasi. Di beberapa bentang, kita juga perlu mengetahui berapa banyak orangutan yang mati, di mana konflik terus berulang, apakah perdagangan ilegal masih berlangsung, dan apakah kelompok-kelompok kecil masih mempunyai hubungan dengan populasi lain.

Batang Toru dan ruang yang makin sempit

Bagi Orangutan Tapanuli, persoalannya bahkan lebih genting.

Survei terbaru memperkirakan hanya sekitar 716 individu yang tersisa dalam tiga kelompok di Bentang Alam Batang Toru. Sebagian besar berada di bagian barat, sementara kelompok di bagian timur dan Sitandiang–Sibualbuali jauh lebih kecil.

Dalam populasi sekecil ini, konektivitas bukan isu tambahan. Ia adalah syarat bertahan hidup.

Kelompok-kelompok orangutan tidak boleh berubah menjadi pulau-pulau kecil yang terpisah satu sama lain. Pertukaran individu antarkelompok diperlukan untuk menjaga aliran gen dan mengurangi risiko yang muncul ketika populasi menjadi terlalu kecil dan terisolasi.

Karena itulah cara kita menilai pembangunan di Batang Toru perlu berubah.

Pertanyaan pertama semestinya bukan lagi, “berapa hektare hutan yang akan dibuka?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “apakah kegiatan ini memutus hubungan antarpopulasi?”

Jalan, jaringan energi, tambang, perkebunan, maupun pembangunan lainnya mungkin hanya menggunakan areal yang relatif kecil. Namun jika tapaknya tepat berada pada jalur pergerakan orangutan, dampaknya dapat jauh lebih besar daripada luas yang hilang di atas kertas.

Pada bentang seperti Batang Toru, prinsip dasarnya semestinya jelas: jangan menciptakan fragmentasi baru pada habitat kritis.

Keadaan ini menjadi lebih mendesak setelah bencana besar pada akhir 2025 yang memicu longsor luas di Batang Toru. Angka 716 individu berasal dari survei sebelum kejadian tersebut.

Karena itu, kita perlu hati-hati menyebut angka tersebut sebagai jumlah Orangutan Tapanuli yang “tersisa” saat ini.

Kita memang mempunyai baseline yang baik. Namun kita belum sepenuhnya mengetahui kondisi populasi setelah bencana.

Survei ulang pascabencana seharusnya menjadi salah satu prioritas konservasi pada 2026, terutama pada blok-blok hutan yang terdampak dan pada koridor yang menghubungkan subpopulasi.

Belajar disiplin dari angka

Survei ini juga memberi pelajaran lain: kita perlu jauh lebih disiplin dalam menggunakan data.

Dalam paparan hasil survei, kehilangan tutupan hutan pada 2011–2023 disebut mencapai sekitar 131.030 hektare di Leuser, kompleks BSS, dan Batang Toru. Sementara itu, publikasi ilmiah final Hadi dan kolega pada 2026, dengan definisi hutan dan batas geografis yang dibuat konsisten untuk perbandingan antarwaktu, menghasilkan angka 94.399 hektare.

Perbedaan seperti ini tidak selalu berarti salah satu analisis keliru. Angka dapat berbeda karena definisi hutan, batas wilayah, dan metode penghitungan yang digunakan juga berbeda.

Persoalan muncul ketika angka-angka itu dikutip tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dihitung.

Bagi konservasi, ini bukan persoalan teknis semata. Data yang sama kelak dapat digunakan untuk mengevaluasi izin, menentukan prioritas pemulihan habitat, mengukur kinerja pemerintah, bahkan memutuskan apakah suatu rencana pembangunan layak diteruskan.

Karena itu, Indonesia membutuhkan baseline dan protokol pemantauan yang konsisten. Apa yang dimaksud habitat, kehilangan hutan, batas populasi, tahun dasar, dan metode pembanding harus jelas sejak awal.

Kita tidak boleh terus sibuk memperdebatkan angka, sementara tekanan terhadap habitat berjalan setiap tahun.

Orangutan di luar kawasan konservasi

Ada satu temuan lain yang tidak kalah penting.

Sekitar 18 persen, atau lebih dari 2.200 orangutan, diperkirakan hidup di Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi, atau areal penggunaan lain yang tingkat perlindungan habitatnya lebih rendah.

Angka ini menunjukkan keterbatasan pendekatan konservasi yang terlalu bergantung pada kawasan konservasi formal.

Orangutan memang merupakan satwa dilindungi di mana pun ia berada. Tetapi habitat tempat satwa itu hidup dapat mempunyai status pengelolaan yang sangat berbeda.

Karena itu, penyelamatan orangutan tidak mungkin hanya menjadi urusan taman nasional dan cagar alam.

Informasi tentang kepadatan dan distribusi orangutan harus masuk ke dalam tata ruang, evaluasi perizinan, pengelolaan konsesi, penetapan kawasan bernilai konservasi tinggi, perhutanan sosial, hingga keputusan pembangunan daerah.

Sebuah habitat penting tidak kehilangan fungsi ekologisnya hanya karena di atas peta administrasi ia disebut APL atau hutan produksi.

Dari hektare ke kehidupan

Ada banyak pekerjaan yang perlu segera dilakukan. Tripa membutuhkan intervensi penyelamatan. BSS membutuhkan perhatian serius terhadap mortalitas langsung. Batang Toru harus dijaga dari fragmentasi baru dan segera dinilai ulang setelah bencana. Orangutan yang hidup di luar kawasan perlindungan kuat juga membutuhkan jaminan habitat yang lebih nyata.

Namun seluruh agenda itu bertemu pada satu perubahan cara berpikir.

Selama ini kita terbiasa mengukur konservasi dalam hektare: berapa luas kawasan lindung, berapa hektare direstorasi, dan berapa luas hutan yang masih tersisa.

Semua ukuran itu penting. Tetapi hektare adalah alat ukur, bukan tujuan akhir.

Tujuan konservasi adalah memastikan populasi tetap hidup, berkembang biak, mempunyai habitat yang cukup, dan tetap terhubung dengan kelompok lain.

Maka ukuran keberhasilan juga harus berubah. Kita perlu bertanya apakah populasi stabil, apakah kematian akibat manusia berkurang, apakah koridor tetap berfungsi, dan apakah kelompok-kelompok kecil mempunyai peluang untuk kembali terhubung.

Hutan memang harus tetap berdiri.

Namun jangan sampai warna hijau pada peta membuat kita merasa telah berhasil.

Ukuran sesungguhnya jauh lebih sederhana—dan sekaligus lebih sulit: ketika generasi mendatang memasuki Leuser, Tripa, BSS, atau Batang Toru, apakah orangutan masih benar-benar hidup di dalamnya?

Bio penulis:

Onrizal, PhD, akademisi kehutanan di Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Ia meneliti biodiversitas, restorasi ekosistem, dan kebijakan konservasi, serta aktif mengadvokasi dan menulis isu lingkungan untuk publik luas.

Tags :

reza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.