Hot Topics

1.700 Kilometer dari Jakarta ke Batang Toru, Pesepeda Soroti Kerusakan Hutan dan Krisis Lingkungan Sumatera

BATANG TORU, ForestEarth.id — Lima pesepeda dari Komunitas Sepeda Chemonk menutup perjalanan sejauh 1.700 km di Batang Toru. Sepanjang perjalanan, Tim Ekspedisi Hutan Merdeka itu melihat wajah lain Sumatera dari hutan yang terbakar, jalan rusak, aktivitas pertambangan hingga harapan tentang masa depan.

Hal tersebut terungkap dalam talkshow “Fighting Climate Change from the Heart of Forest”, yang menjadi bagian dari rangkaian Orangutan Festival 2026 di Huta Coffee, Padangsidimpuan, Rabu (19/8/2026). Lima pesepeda itu adalah Sihol Sitanggang, Fitri Utami, Veri Sanovri, Jawahir, dan Fadlan Syam.

Sihol, salah satu pesepeda, mengatakan kondisi lingkungan yang dilewati berubah cukup terasa sepanjang perjalanan. Ia mengaku lebih menikmati suasana ketika memasuki Sumatera Barat karena udara, jalan dan lanskap yang menurutnya lebih nyaman.

Namun, ia juga mengaku miris ketika menemukan aktivitas pertambangan yang diduga ilegal di kawasan Muara Sipongi.

“Saya kaget ketika masuk ke wilayah Muara Sipongi. Saya beberapa kali melihat tambang-tambang ilegal di Jawa Timur dan Sumatera Barat, tapi ternyata dalam lintasan itu saya melihat ada juga tambang,” kata Sihol.

Ia bahkan sempat berhenti di sebuah warung dan menanyakan keberadaan sejumlah alat pengolahan emas atau gelundung yang dilihatnya. Dari percakapan dengan warga, ia mengetahui alat tersebut digunakan untuk mengolah emas.

Sihol (tengah) menceritakan perjalanan 1.700 km bersepeda dari Jakarta ke Batang Toru.

Pengalaman tersebut membuat Sihol melihat perjalanan 1.700 kilometer itu bukan sekadar perjalanan bersepeda. Ia menyebutnya sebagai bentuk “pertobatan ekonomi”, sekaligus kesempatan untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga alam.

“Saya merasa terpanggil. Pasti ada sesuatu yang menarik di sepanjang lintasan yang mungkin bisa menjadi edukasi atau menjadi kesadaran kolektif buat kita untuk menjaga alam,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Fitri. Sepanjang perjalanan, ia melihat perubahan lanskap dari wilayah yang relatif terbuka dan didominasi perkebunan hingga kawasan yang menurutnya lebih hijau ketika memasuki Sumatera Barat.

Namun, salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika melewati kawasan yang sebelumnya mengalami kebakaran hutan di sekitar Palembang. Saat melintas, api sudah tidak terlihat, tetapi asap masih tersisa dan terhirup selama perjalanan.

Fitri mengaku khawatir terhadap dampak hilangnya hutan, bukan hanya bagi manusia tetapi juga satwa yang bergantung pada hutan sebagai habitat. “Kalau hutannya saja sudah tidak ada, nanti siapa lagi yang bisa menjaga lingkungannya,” katanya.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih sadar bahwa hutan bukan hanya berfungsi bagi manusia. Hutan juga merupakan rumah bagi berbagai makhluk hidup. “Kalau rumah tinggal kita tidak ada, kita bingung mau ke mana. Begitu juga mereka,” ujarnya.

Fitri juga mengatakan pengalaman bersepeda bersama rombongan memberinya pelajaran lain. Terbiasa bersepeda seorang diri, ia harus belajar menyesuaikan ritme dengan anggota rombongan. Baginya, pengalaman tersebut justru memperlihatkan pentingnya kebersamaan.

Bagi Veri perjalanan tersebut juga memberikan pengalaman tak terlupakan ketika dirinya kelelahan di sebuah tanjakan dan tanpa sengaja terekam oleh seorang pembuat konten yang berada di lokasi.

Video tersebut kemudian beredar di media sosial. Veri baru mengetahui dirinya menjadi bahan pembicaraan setelah tiba di penginapan.

Namun, kejadian itu justru membuatnya mendapatkan pelajaran tentang bagaimana setiap orang memiliki cara berbeda untuk membantu dan membahagiakan orang lain.

Ia melihat pembuat konten tersebut bukan sekadar merekam pesepeda, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi jalan dan kecelakaan yang pernah terjadi di lokasi tersebut.

“Intinya kita hidup bukan sendiri. Di setiap lokasi, di setiap tempat, di mana pun Anda berada, itu adalah keluarga kita,” kata Veri.

Ia juga menyoroti kekayaan lanskap Sumatera, mulai dari rawa gambut hingga hutan dan pegunungan. Menurutnya, persoalan lingkungan di Sumatera sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Banjir dan kabut asap, misalnya, telah dirasakan masyarakat di Sumatera Selatan sejak puluhan tahun lalu. Veri mempertanyakan mengapa pengetahuan dan hasil penelitian mengenai lingkungan belum cukup banyak diterapkan untuk membantu masyarakat.

Menurutnya, pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga penelitian perlu lebih aktif menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi yang bisa digunakan masyarakat setempat, bukan sekadar menyimpannya dalam laporan penelitian.


Jawahir, lebih banyak menyoroti pengalaman perjalanan dan kondisi infrastruktur. Ia mengaku perjalanan menuju Sumatera Utara menjadi pengalaman luar biasa karena sebelumnya perjalanan terjauhnya baru sampai Lampung.

Sementara itu, dalam bagian lain wawancara, ia juga menyoroti kondisi jalan yang menurutnya cukup berbeda dari perkiraannya sebelum berangkat.

Ia mengaku terkejut dengan kondisi sejumlah ruas jalan di Sumatera bagian selatan yang panas dan kering, sementara beberapa ruas di Palembang memiliki permukaan yang tidak rata sehingga berbahaya bagi pengguna jalan yang lebih kecil seperti sepeda dan sepeda motor.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Jawahir mengatakan kebersamaan dan berbagai kejadian lucu selama perjalanan justru menjadi bagian yang membuat ekspedisi tersebut berkesan.

Bagi Fadlan, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa lima pesepeda memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru memperkuat kebersamaan selama 16 hari perjalanan hingga mencapai target 1.700 kilometer.

Namun, Fadlan melihat pengalaman tersebut lebih jauh daripada sekadar keberhasilan mencapai jarak tempuh. Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang mereka lihat sebenarnya menunjukkan lemahnya birokrasi dan regulasi.

Ia menilai sejumlah aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan terjadi secara terbuka, bahkan tidak jauh dari fasilitas pemerintahan.

“Ini merupakan lemahnya birokrasi, lemahnya regulasi dari kita semua. Apa yang terjadi sebenarnya sesuatu yang bisa kita cegah, tetapi sangat vulgar terjadi,” katanya.

Fadlan mengatakan komunitas pesepeda memang tidak memiliki keahlian untuk melakukan penelitian atau edukasi lingkungan secara langsung.

Namun, melalui perjalanan tersebut mereka berusaha melihat dan merasakan sendiri persoalan yang selama ini menjadi perhatian para pegiat lingkungan.

Ia juga menekankan pentingnya memulai perubahan dari hal sederhana. Dalam perjalanan, rombongan menerapkan prinsip “take only pictures, leave no sampah”, dengan tidak membuang sampah plastik sembarangan selama perjalanan.

“Minimal dalam 1.700 kilometer itu kami bermuhasabah ekologi,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Mutaqien menjelaskan kampanye ekspedisi 5 pesepeda dari Jakarta – Batang Toru sejauh 1.700 km.

Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Mutaqien, mengatakan ekspedisi Jakarta–Batang Toru merupakan hasil diskusi panjang antara Satya Bumi dan komunitas Chemonk yang telah berlangsung selama sekitar tiga tahun dalam rangka memperingati Hari Orangutan Internasional.

Menurut Andi, gagasan bersepeda dari Jakarta menuju Batang Toru pada awalnya terdengar sangat ambisius. Namun, setelah melalui persiapan dan koordinasi selama berbulan-bulan, ekspedisi tersebut dinilai penting untuk dilakukan.

Ia menjelaskan, Batang Toru dipilih karena kawasan tersebut merupakan salah satu wilayah penting dalam kampanye perlindungan Orangutan Tapanuli.

Rute Jakarta–Batang Toru sekaligus dimaksudkan untuk membawa isu konservasi keluar dari ruang diskusi dan mempertemukannya dengan pengalaman langsung di lapangan.

“Karena kami percaya peringatan Hari Orangutan Sedunia itu semua pasti memperingatinya. Jalur lintasan dari Jakarta ke Batang Toru, di mana Satya Bumi juga ikut bekerja untuk kampanye perlindungan Orangutan Tapanuli,” kata Andi.

Menurutnya, persiapan ekspedisi tidak hanya menyangkut kemampuan fisik para pesepeda, tetapi juga keamanan, logistik, rute, kemungkinan gangguan di perjalanan dan berbagai risiko lain.

Setelah enam bulan terakhir melakukan persiapan secara intensif, ekspedisi akhirnya dapat dilaksanakan.

Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, mengapresiasi ekspedisi tersebut sebagai bentuk kampanye yang kreatif untuk meningkatkan perhatian terhadap Batang Toru dan Orangutan Tapanuli.

Menurut Panut, perjalanan sepanjang 1.700 kilometer tersebut dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi muda di wilayah sekitar Batang Toru.

Ia menilai kampanye lingkungan tidak harus selalu dilakukan melalui aksi konvensional. Bersepeda melintasi Sumatera, menurutnya, merupakan cara kreatif untuk membawa isu hutan dan satwa ke ruang publik.

“Ini suatu kampanye yang menurut saya sangat kreatif karena menjadikan suatu atensi penting, terutama Batang Toru, Orangutan Tapanuli, menjadi suatu event,” kata Panut.

Ia berharap pengalaman para pesepeda dapat mendorong lebih banyak aksi serupa, termasuk melibatkan generasi muda di wilayah Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan yang berada di sekitar lanskap Batang Toru.

Panut juga mengusulkan agar jarak perjalanan berikutnya dapat dikaitkan dengan jumlah populasi Orangutan Tapanuli sebagai bagian dari pesan kampanye konservasi.

“Yang penting bagi kami bagaimana ini bisa menghantam kepala kita sebenarnya terkait dengan keberadaan, eksistensi kita dan juga satwa dan juga hutan. Kita refleksikan dengan adanya kegiatan ini menjadi pesan penting kita untuk menciptakan aksi-aksi,” ujarnya

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.