Hot Topics

Bekmi Silalahi: Pengalaman Aktivis Lingkungan Penting unt Didokumentasikan

MEDAN, ForestEarth.id – Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan (Elsaka), Bekmi Darusman Silalahi, mengingatkan pentingnya mendokumentasikan pengalaman para pegiat lingkungan dalam bentuk digital agar dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang.

Hal itu disampaikannya saat memberikan tanggapan dalam peluncuran buku Autobiografi Panut Hadisiswoyo, Berdiri di Garis Terakhir pada Jumat (17/7/2026). Menurut Bekmi, pengalaman panjang para aktivis lingkungan tidak boleh berhenti sebagai buku cetak yang sulit diakses.

“Saya ingin menyampaikan satu hal. Jangan sampai pengalaman para senior seperti Bang Edy, Om Kirman, maupun Panut hilang begitu saja karena tidak terdokumentasi dengan baik,” katanya.

Bekmi menilai terbitnya buku biografi Panut merupakan langkah penting dalam mendokumentasikan sejarah gerakan konservasi di Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa dokumentasi tersebut perlu diperluas melalui versi digital agar dapat diakses lebih luas dan bertahan lebih lama.

“Saya kesulitan menemukan versi digital dari beberapa tulisan dan buku para senior. Padahal, pengalaman mereka sangat berharga untuk dipelajari,” ujarnya.

Menurut Bekmi, karya-karya yang telah ditulis para aktivis lingkungan selama ini berpotensi menjadi sumber pengetahuan penting, terutama bagi generasi baru yang ingin memahami sejarah gerakan lingkungan di Indonesia.

Ia meyakini, meskipun saat ini buku-buku tersebut mungkin belum banyak dijadikan rujukan, dalam satu hingga dua dekade mendatang nilainya akan semakin besar.

“Hari ini mungkin buku Panut masih dianggap sebagai bahan belajar biasa. Tetapi saya yakin 10 sampai 15 tahun ke depan, buku ini akan menjadi referensi yang sangat penting bagi gerakan konservasi di Indonesia,” katanya.

Karena itu, Bekmi mendorong agar penerbit maupun penulis tidak berhenti pada versi cetak.

“Kalau hanya berbentuk buku cetak, kita khawatir suatu saat akan hilang atau sulit ditemukan. Karena itu perlu dibuatkan versi digital sehingga bisa diakses lebih luas dan bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Seruan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Panut Hadisiswoyo. Bekmi juga berharap karya-karya tokoh lain yang telah lama berkecimpung di dunia advokasi dan konservasi dapat didokumentasikan kembali dalam format digital.

Ia secara khusus menyebut tulisan-tulisan Edy Ikhsan dan Soekirman yang menurutnya memiliki nilai sejarah bagi perkembangan gerakan masyarakat sipil di Sumatera Utara.

“Tulisan Bang Edy bisa ditulis ulang ke versi digital. Begitu juga buku-buku Om Kirman. Pengalaman mereka akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi berikutnya,” katanya.

Bekmi menilai dokumentasi digital bukan sekadar upaya menyimpan arsip, melainkan cara menjaga ingatan kolektif gerakan masyarakat sipil.

Menurutnya, pengalaman para aktivis dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai bagaimana membangun organisasi, menjalin sinergi, dan menyeimbangkan kehidupan pribadi dengan tuntutan aktivisme.

“Yang paling penting adalah bagaimana pengalaman-pengalaman itu bisa menjadi pembelajaran tentang membangun gerakan, membangun sinergi, dan menjalani kehidupan sebagai seorang aktivis,” ujarnya.

Di akhir penyampaiannya, Bekmi menyampaikan apresiasi kepada Panut Hadisiswoyo atas terbitnya buku tersebut. Ia berharap karya itu menjadi awal dari semakin banyaknya dokumentasi perjalanan para pegiat lingkungan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Selamat kepada Mas Panut. Semoga buku ini menjadi pembelajaran bagi kita semua dan menjadi warisan pengetahuan bagi gerakan konservasi Indonesia,” tutupnya.

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.